Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Kejutan yang tidak disangka


__ADS_3

Waktu yang sudah ditunggu-tunggu selama perjalanan menuju Kampung Nenek Aruma, akhirnya Gane tersenyum lega ketika mobilnya berbelok ke rumah yang dituju.


Mobil pun berhenti tepat di depan rumah Nenek Aruma. Karena ketidaksabaran dari seorang Gane, cepat-cepat melepas sabuk pengamanannya dan segera turun dari mobilnya.


"Tunggu, Bos. Jangan terburu-buru, sabar." Ucap Ciko sambil menahan Bosnya agar tidak langsung turun dari mobil dan masuk ke rumah begitu saja, pikirnya.


"Apa-apaan sih Cik, aku mau turun. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu istriku." Jawab Gane yang ingin segera melepas rindunya.


"Ya sudah kalau Bos Gane mau turun, siapkan diri dengan baik." Ucap Ciko sambil memberi pesan pada Bosnya.


Sedangkan didalam rumah Nenek Aruma, kini tengah bersiap-siap untuk makan malam. Regar yang baru saja keluar dari kamar dan hendak pergi ke ruang makan, tiba-tiba dirinya mendengar suara mobil yang baru saja dimatikan mesinnya.


"Sepertinya ada suara mobil, aku lihat dulu ya." Ucap Regar saat berpapasan dengan Nanney saat hendak ke ruang makan.


"Ya, tidak apa-apa." Jawab Nanney disertai anggukan dan ikut duduk bersama Nenek Aruma dan Henny yang sudah siap untuk menikmati makan malam bersama.


Tidak ada rasa curiga sedikitpun pada diri Nanney ketika ada suara mobil yang berhenti di depan rumah.


Di luar rumah, Gane sudah turun dari mobil dan kini sudah berdiri didepan pintu tinggal mengetuk pintunya.


Sedangkan Ciko dan Doin berdiri di belakangnya. Perasaan takut, gusar, dan lainnya telah menguasai pikiran Ciko yang tengah gelisah saat memikirkan masalah berikutnya.


Tentu saja, takut akan terjadi persaingan sengit diantara kakak-beradik.

__ADS_1


'Semoga semuanya baik-baik saja, tidak ada permusuhan diantara Bos Gane dan Tuan Regar. Jika sampai itu terjadi, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan nantinya.' Batin Ciko yang juga disertai kecemasan yang mendalam.


Begitu juga dengan Doin, dirinya pun ikut gelisah jika sampai terjadi permusuhan antara adik dan kakak, pikirnya sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal itu.


Dengan memberanikan diri, Gane mengetuk pintunya. Naas, saat mau mengetuk pintunya, pintu pun sudah terbuka dengan sendirinya.


Alangkah terkejutnya Bagai tersambar petir ketika sepasang matanya sama-sama menatap satu sama lain begitu jelasnya. Sungguh, apa yang dilihat seperti mimpi saja.


Tubuh kekar dan terlihat kuat, kini bagai rumah tanpa penyangga, yang pasti roboh seketika. Begitu juga dengan diri Gane, kedua kakinya seakan tak mampu untuk menopang berat badannya sendiri. Apa yang dilihatnya benar-benar menyayat hatinya.


Bibir seakan kelu untuk berucap. Bahkan, untuk menggerakkan bibirnya saja begitu terasa berat. Sedih dan bahagia pun, tak mampu untuk digambarkan serta untuk dirasakannya sendiri.


Karena kedua kakinya yang tak mampu untuk bertahan menjadi penyangga berat badannya sendiri, Gane menjatuhkan diri dan tertunduk sedih. Tidak cukup hanya bersedih, Gane meneteskan air matanya.


Awalnya Gane tetap menundukkan pandangannya. Karena tenaga Regar lebih kuat darinya, Gane hanya bisa nurut.


Saat itu juga, Regar langsung memeluk erat kakaknya. Gane masih menangis. Haruskah bahagia atau bersedih, bingung, merasa berdosa, dan lainnya, Gane hanya bisa menangis sambil menahan sesaknya dalam dada. Sebisa mungkin agar rasa sakitnya tidak kembali kambuh.


Tak peduli dengan tanggapan yang lainnya, Gane meluapkan segala sesuatunya yang terpendam dengan cara menangis untuk melepaskan penatnya.


"Kakak, ini aku Regar. Adikmu masih hidup, masih sehat seperti dulu. Kakak, aku sangat merindukanmu. Kakak, aku sangat bahagia bisa bertemu lagi dengan Kakak dan istriku Nanney."


Seketika, detak jantungnya seakan berhenti begitu saja saat mendengar kata istriku Nanney. Tubuhnya gemetaran hebat, apa yang ia dengar seakan cambuk baginya. Napasnya saja seakan terasa memburu.

__ADS_1


"Kakak kenapa? badan Kak Gane gemetaran? Kakak baik-baik saja, 'kan?" tanya Regar penuh kekhawatiran.


Gane menggelengkan kepalanya pelan, bibirnya terasa kaku dan sulit untuk mengontrol pernapasannya.


Ciko yang takut sakitnya akan kambuh, ia segera membantu Gane untuk pindah dari posisinya.


Regar yang khawatir akan terjadi sesuatu pada Kakaknya, dirinya ikut membantu untuk mengajaknya masuk ke dalam.


Nanney yang merasa penasaran, dirinya segera melihat apa yang sebenarnya terjadi di depan rumah. Sedangkan Nenek Aruma dan Henny ikut melihatnya.


Betapa terkejutnya saat melihat suaminya yang sudah datang ke rumah dengan kondisi yang memprihatinkan. Nanney langsung menghampirinya.


"Kak Gane, kenapa dengan Kakak?" tanya Nanney dengan perasaan takut terjadi sesuatu pada suaminya.


Regar sendiri merasa aneh ketika melihat Nanney begitu khawatir dengan kakaknya. Tapi, secepatnya Regar menepis pikiran buruknya itu.


Nanney yang begitu khawatir dengan suaminya, ia meraih gelas yang ada di atas meja dan menuangkan air minumnya dan memberikannya langsung pada sang suami.


"Kak, minumlah." Ucap Nanney sambil menempelkan bibir gelas pada bibir milik suaminya.


Gane meminumnya, dan pandangannya begitu fokus pada istrinya. Sebuah pelukan yang ingin dilakukan seperti harapannya saat dalam perjalanan, kini berubah tak sejalan dengan apa yang diinginkannya itu.


Regar hanya berdiri di tengah-tengah Ciko dan Doin sambil melihat Nanney yang begitu perhatian dengan kakaknya sendiri.

__ADS_1


Nenek Aruma dan Henny ikut merasa cemas jika semua kebenaran akan terbongkar. Tentu saja, salah satunya akan merasa kecewa dan sakit hati pastinya.


__ADS_2