
Saat kapal sudah menepi di bibir pantai, Gane dan Ciko kini sudah turun dari kapal tersebut. Gane kembali menatap pada sebuah pulau kecil yang jaraknya cukup jauh, pikirannya kembali gelisah saat sang adik yang belum juga ditemukan.
Suara petir disertai kilat yang mulai saling menyambar dan tidak sedikit pun Gane tersadar dari lamunannya, Gane masih dengan tatapan kosongnya.
“Bos,” Panggil Ciko sambil menepuk punggung milik Bosnya. Gane sendiri tidak meresponnya.
“Bos, cuacanya semakin buruk. Suara petirnya juga ngeri, Bos.”
“Kenapa memangnya? cuman hujan, kan.” Jawab Gane tidak peduli apa pun, yang ada dalam pikirannya hanya keselamatan adik laki-lakinya.
“Bagaimana kalau kita masuk ke rumah peristirahatan dulu, Bos? sebentar lagi mau hujan deras, lihatlah awan yang gelap itu.” Ajak Ciko membujuk dan tidak lupa menunjuk pada langit yang terlihat mendung berwarna gelap.
"Gane, yang dikatakan Ciko itu benar. Sekarang sudah mulai gerimis, kita tunggu saja di rumah peristirahatan.” Ucap Tuan Pras ikut menimpali saat mendengar Ciko yang tidak dipedulikan ucapannya.
“ Benar Nak, yang dikatakan paman kamu itu ada benarnya. Sepertinya akan turun hujan yang sangat deras, apa tidak sebaiknya kita berteduh. Lagi pula pencarian akan dihentikan sampainya hujannya reda, ayo kita berteduh dulu.” Ucap Tuan Hardika selaku pamannya yang tertua.
Gane menoleh kepada sang paman Hardika yang posisinya sudah ada di sebelah kirinya.
Gane tidak menjawab apa pun dari pamannya, ia langsung membalikkan badanya dan berjalan di rumah peristirahatan milik keluarga Huttama ketika mendapati cuaca yang buruk saat akan menuju ke pulau terpencil itu.
Sampainya di tempat peristirahatan, Gane diantarkan oleh Ciko ke ruangan khusus yang mana jendelanya mengarah ke arah pulau tersebut.
Gane berdiri dan menatap lurus pandangannya lewat jendela ruangan khusus miliknya. Disaat itu juga, ingatannya kembali dimasa lalunya.
‘Regar, maafkan aku yang tidak becus menjadi seorang kakak untuk kamu. Maafkan kakak yang belum juga menyelamatkan diri kamu. Ini sepenuhnya salah kakak.’ Batin Gane dengan tatapan yang penuh kesedihan.
Ciko yang melihat Gane terlihat tengah dirundung kesedihan, ia berjalan mendekati Bosnya.
“Bos, Tuan Regar pasti selamat. Lebih baik Tuan istirahat sejenak, waktu pun sudah hampir gelap.” Ucap Ciko yang berusaha untuk mengalihkan kesedihan Bosnya agar tidak begitu dalam memikirkan saudara laki-lakinya.
Ciko yang bukan bagian keluarga Gane, namun untuk memikirkan kesehatan Bosnya sangatlah ketat.
“Bagaimana aku bisa istirahat, adikku sendiri belum juga ditemukan.” Kata Gane dan melirik ke arah Ciko.
“Kesehatan itu lebih penting, Bos. Lagian juga sudah ada yang bertugas untuk mencari Tuan Regar, Bos.”
__ADS_1
“Kalau ngomong sih enak, karena kamu tidak mengalaminya.” Ucap Gane dengan asal bicara.
“Kata siapa? bukankah nasib kita itu sama. Atau ... Bos Gane sudah lupa dengan masa lalu yang sudah silam itu. Bahwa kedua orang tuaku pun ikut insiden kapal tenggelam bersama kedua orang tuanya Bos Gane, bukanlah begitu, Bos? hem.”
Disaat itu juga, Gane tersadar dari ingatannya. Kemudian ia kembali menoleh ke arah Ciko yang kini pandangannya tertuju pada sebuah pulau kecil yang juga menjadi saksi bisu atas kematian kedua orang tuanya.
Gane yang tersadar akan ucapannya yang telah mengabaikan sahabatnya, Gane merangkul Ciko lewat samping.
“Ya, aku ingat saat kita sama-sama kehilangan kedua orang tua kita. Kita menangis histeris di saat itu dan kita bagaikan ayam yang kehilangan induknya. Maafkan aku yang sudah mengabaikan mu, saat ini aku benar-benar sangat sulit untuk berpikir.
“Tidak apa-apa, Bos. Aku dapat memakluminya. Lebih baik Bos Gane bersabar, kita berdoa untuk Tuan Regar agar selamat dari musibah yang menimpanya.” Ucap Ciko yang berusaha untuk menguatkan Bosnya sendiri.
“Terima kasih banyak ya Cik, kamu begitu setia denganku dari dulu sampai sekarang ini. Meski aku sering memarahi mu, kamu tetap berada di sampingku.”
“Sudah menjadi tanggung jawabku untuk selalu bersama kamu, Bos.” Ucap Ciko yang kini dirinya kembali teringat dengan masa lalu kecilnya itu, tiba-tiba dirinya merasa sangat sedih ketika harus mengingatnya kembali.
“Permisi, Tuan.”
Ciko dan Gane yang merasa dikagetkan oleh seseorang, keduanya langsung menoleh ke belakang.
“Ada apa?” tanya Gane.
“Aku masih kenyang,” jawab Gane.
“Setidaknya isi dulu perutnya, Bos. Kesehatan lebih penting dari apa pun, kesehatan sangat mahal.” Ucap Ciko mengingatkannya, Gane langsung menatap Ciko tajam.
“Apa kamu lupa, adikku sendiri tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.” Kata Gane tetap bersikukuh pada pendiriannya.
“Bos, apa ya mau sebodoh itu. Dengan cara menyiksa diri, begitu maksud kamu, Bos? aku katakan tidak! Kalau Bos Gane sakit, siapa yang rugi? ha!” ucap Gane setengah memberi bentakan kepada Bosnya karena merasa geram dengan caranya ketika menghadapi masalah, pikir Ciko.
“Baiklah, bawa ke sini makanannya.” Jawab Gane yang tidak ingin berdebat. Setelah Gane mengiyakan, Ciko memberi perintah kepada pelayan untuk membawakan makanan sesuai perintah dari Bosnya.
Setelah pelayan pergi dari hadapannya, kini datanglah seorang lelaki yang tidak jauh dari usia Gane dan Ciko.
“Permisi, bolehkah aku masuk?”
__ADS_1
Gane mengangguk, “ada apa?” tanya Gane.
“Kak Gane, apa kabarnya? dan bagaimana dengan kak Regar? apakah sudah ditemukan titik terangnya? semoga baik-baik saja.” Tanyanya.
“Kabarku seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Soal untuk Regar, belum ada kabar apa pun.” Jawab Gane.
Setelah itu, datanglah dua orang pelayan tengah membawakan makan malam untuk Gane dan juga Ciko.
“Permisi, Tuan.” Ucapnya dari ambang pintu.
“Masuklah,” sahut dari Gane. Kedua pelayan tersebut segera masuk dan menghidangkan makan malamnya. Dirasa tidak ada yang kurang, segera keluar dari ruang khusus milik Tuan nya. Kini tinggal Ciko, Gane, dan sepupunya.
“Sudah waktunya makan malam rupanya, aku pamit keluar.”
“Kenapa mesti pamit keluar, kita makan malam bersama, ayo.” Ajak Gane pada sepupunya.
“Tapi Kak,”
“Ayolah, kapan lagi kita makan bersama?”
“Baiklah, aku akan menerima ajakan dari Kakak.” Jawabnya, kemudian ketiganya segera duduk di tempat yang sudah disiapkan oleh pelayan tersebut.
Dengan suasana hening dan disertai suara petir yang bersahutan dengan turunnya hujan yang sangat deras, ketiganya sama-sama fokus untuk menikmati makan malamnya masing-masing.
Gane yang sedari tadi memikirkan keadaan adik laki-lakinya, begitu sulit untuk menelan makanan yang sengaja ia masukkan ke dalam mulutnya. Tidak hanya itu saja, bahkan tenggorokannya terasa dicekik. Napasnya terasa berat dan tentunya sangat sesak untuk bernapas.
“Darah.“ Ucapnya lirih sambil menatap makanan yang ada di piringnya. Ciko dan Vandu dibuatnya bingung saat mendengar ucapan dari Gane.
“Darah! ini, ini darah.” Kata Gane sambil menunjukkan piringnya di hadapan Ciko.
Seketika Ciko semakin bingung dibuatnya.
“Tidak ada darah, Bos.” Ujar Ciko dengan apa yang ia lihat.
Gane yang merasa makanan yang ada di hadapannya itu seakan berubah menjadi darah segar, segera ia melemparkan piringnya ke sembarang arah. Ciko dan Vandu semakin bingung melihat tingkah aneh dari Gane.
__ADS_1