
"Maksud kamu ada nyawanya, itu apa?" tanya Gane sambil menatap istrinya dengan serius.
Nanney gemetaran, takut kalau suaminya akan menolak kehadiran janin didalam rahimnya. Nanney mengigit bibir bawahnya dan menatap suaminya penuh ketakutan.
"Kenapa kamu diam? cepat, katakan apa kamu maksudkan dengan kalimat terakhir mu yang barusan kamu ucapkan."
Gane kembali bertanya karena rasa penasarannya yang ingin tahu tentang apa yang diucapkan oleh istrinya.
Nanney yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya ia memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dari suaminya.
Nanney meraih tangan kanan milik suaminya, diletakkannya tangan sangat suami tepat pada bagian perutnya. Gane hanya bisa nurut dengan apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Didalam sini ada calon anak kamu, Kak." Ucap Nanney sambil menatap suaminya dengan ekspresi sedikit menahan rasa takut dengan ucapannya sendiri.
Gane masih bengong, antara percaya dan tidak percaya atas ucapan dari istrinya. Kedua matanya masih belum berkedip lantaran keterkejutan nya atas kabar yang tidak pernah bersemayam didalam benak pikirannya.
Sekali berkedip, Gane memancarkan senyuman pada istrinya.
"Jadi, kamu hamil anakku?" tanya Gane untuk memastikan dengan tebakannya sendiri.
Nanney mengangguk pelan, tetap saja berjaga-jaga jika suaminya akan murka ketika mendengar kebenarannya.
"Serius, kamu tidak bohong, 'kan?"
Lagi-lagi Gane kembali bertanya karena merasa belum puas dengan jawaban dari istrinya.
__ADS_1
"Aku sedang tidak berbohong, aku mengatakannya dengan jujur." Jawab Nanney sedikit ada rasa kecewa karena suaminya masih terus bertanya.
Saat itu juga, Gane kembali memeluk istrinya tidak begitu erat.
"Aku percaya sama kamu, jika yang kamu katakan adalah benar. Aku bahagia mendengarkan nya, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain berterimakasih padamu yang sudah memberi kabar bahagia untukku." Ucap Gane dengan perasaan yang sulit untuk untuk diungkapkan.
Nanney yang mendengar ucapan dari suaminya pun, ia tersenyum bahagia. Setelah itu, Gane melepaskan pelukannya dan mencium kening milik istrinya dengan lembut.
Sejenak, ciuman itu berhenti dan wajah keduanya saling menempel satu sama lain. Merasa sudah cukup, Gane meregangkan jaraknya.
"Aku tidak tahu dengan perasaanku sendiri. Yang sedang aku rasakan ini apakah cinta atau bukan, aku sendiri tak tahu. Aku yang egois, atau kurangnya memahami."
"Aku tidak memaksa Kakak untuk menjadi suamiku." Jawab Nanney sambil menatap suaminya.
"Katakan, apa yang kamu inginkan. Sebisa mungkin akan aku lakukan untuk kamu, meski bukan aku yang melakukannya karena keadaanku yang seperti ini."
"Kak Gane cukup jalani apa yang menjadi keputusan Kakak sebelumnya. Aku hanya bisa berdoa, semoga Kakak segera bebas dari tempat ini dan berubah menjadi baik lagi."
"Ya, semoga saja aku bisa keluar dari tempat terkutuk ini. Aku minta sama kamu untuk menjaga calon buah hati ... maksudku, calon anak kita." Ucap Gane yang menyadari jika dirinya tak pantas untuk menyebutkan buah hati, karena dirinya tak pernah mengatakan cinta pada istrinya.
Nanney tersenyum pada suaminya, membuat Gane salah tingkah dan bingung untuk berkata apa lagi, pikirnya.
Cukup lama keduanya berbicara, tiba-tiba Nanney teringat sesuatu.
"Kak, apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Nanney sedikit ragu.
__ADS_1
"Boleh, silakan. Memangnya kamu ingin bertanya apa padaku?"
"Aku ingin pulang ke Kampung halaman, apakah Kak Gane mengizinkan ku?" tanya Nanney memberanikan diri.
Gane yang mendengar permintaan istrinya, sejenak ia terdiam. Benar-benar bagai tersambar petir di siang bolong. Gane merasa tidak berdaya saat istrinya meminta untuk meninggalkan Kota. Gane merasa gagal menjadi seorang suami, gagal dari segalanya.
Ditambah lagi meninggalkan benih dalam rahim istrinya, membuat Gane terasa dicambuk.
"Maafkan aku, rupanya aku telah gagal menjadi seorang suami. Aku tak pantas untuk menjadi seorang ayah, hidupku penuh dosa. Sedikitpun, aku belum pernah memberimu kebahagiaan. Bahkan sampai detik ini juga, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk memberimu bahagia."
"Kak Gane belum gagal, masih ada waktu dan kesempatan untuk memperbaikinya. Sedikitpun, aku tidak berhak untuk menuntutnya. Hidup Kakak adalah pilihan Kakak sendiri baik buruknya. Aku hanya seorang istri, yang tak ada hak lebih ada keputusan dari Kakak."
Gane langsung menggenggam erat kedua tangan istrinya dan meletakkannya tepat di dada bidangnya.
"Beri kesempatan untuk ku, aku akan memperbaikinya. Untuk pulang ke Kampung, aku tidak akan melarang mu. Karena aku sadar, bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan ku yang seperti ini."
"Aku akan memberi kesempatan kepada Kak Gane ketika sudah keluar dari tempat ini. Jika Kak Gane keluar dari tempat ini dan kondisi ku masih hamil, maka kesempatan untuk Kakak sampai calon bayi ini lahir."
Gane yang mendengar penuturan dari istrinya pun, dirinya dapat bernapas lega lantaran masih diberi kesempatan untuk memperbaikinya.
"Terimakasih, kamu sudah sudi untuk memberiku kesempatan. Aku berjanji, aku akan membuktikan nya padamu."
Nanney pun mengangguk pelan dan tersenyum. Tanpa disadari jika keduanya telah diperhatikan oleh Bunda Sere dan David.
Ada apa ya di Kampung halaman? kok Nanney ngebet banget ingin pulang kampung? jangan jangan rindu masakan si Nenek mungkin ya..
__ADS_1