Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Bertemu teman lama


__ADS_3

Cukup lama dalam penyebrangan menuju Pulau terpencil, akhirnya sampai juga di tempat yang akan menjadi tempat liburan oleh sepasang suami-istri.


Setelah sampai, keduanya segera turun dari kapal. Nanney sendiri tidak pernah menyangka jika perjalanannya menuju Pulau yang akan dituju tidak ada halangan apapun, semua selamat sampai tujuan.


"Kita sudah sampai, bagaimana, kamu menyukainya?" tanya Gane setelah turun dari kapal. Nanney yang mendapatkan pertanyaan dari sang suami, ia menoleh pada suaminya.


"Aku tidak tahu, apakah aku harus bersedih atau bahagia? aku tidak merasakan salah satunya. Tidak untuk bahagia, atapun bersedih." Jawabnya sambil mengamati di sekelilingnya.


Gane yang mengerti apa yang dimaksudkan sang istri, ia memilih untuk mengajaknya ke suatu tempat. Tapi kenyataannya ia urungkan, ia sudah berjanji pada diri sendiri jika tempat yang selalu ia datangi adalah kenangan yang tidak akan ia beritahukan kepada siapapun.


"Ayo, ikut aku." Ajak Gane yang berlenggang kakung tanpa membawa bawaan maupun sekedar menggandeng tangan istrinya. Sedangkan Nanney sendiri hanya bisa mengimbangi langkah kaki suaminya dari belakang.


Saat itu juga, Gane dikejutkan dengan seseorang yang sangat ia kenal, serta sangat dekat dahulunya.


"Hei! Gane."


"Langga, benarkah?"


"Tepat, sekali. Apa kabar mu, Bro. Sudah lama kita tidak pernah bertemu, sama siapa kamu datang ke Pulau ini?"


Saat itu juga, Nanney sudah berdiri di dekat suaminya. Nanney berdiri di sebelah kiri, kemudian ia dan Langga saling menatap satu sama lain. Sedangkan Langga sambil mengingat ingat seseorang yang pernah ia kenal.


"Anney, benarkah kamu itu Anney?" tebak Langga dengan reflek saat ia teringat pada sosok perempuan yang ada di hadapannya itu. Gane yang mendengar Langga mengenali istrinya pun, ia mengernyitkan keningnya.


Nanney sedikit lupa, ia mencoba untuk mengingatnya kembali. Tetap saja, Nanney masih belum mengingat sosok Langga yang sudah mengenalinya.


"Kamu mengenalnya?" tanya Gane penasaran, ia pun menunjuk istrinya dengan jari telunjuknya.


"Tentu saja aku mengenalnya, Gane. Tidak cuman aku saja yang mengenalinya, tapi juga kau."

__ADS_1


"Aku?" lagi-lagi Gane masih bingung dan kembali menunjuk pada dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. Begitu juga dengan Nanney yang mulai sibuk untuk terus mengingatnya.


"Ya! aku ingat, Kak Langga, 'kan?" kata Nanney disertai senyum merekah karena dirinya sudah dapat mengingatnya kembali.


Gane yang belum bisa mengerti, justru dirinya semakin bingung dibuatnya. Sama dengan Nanney yang juga tidak mengenali suaminya sendiri yang seperti dikatakan oleh Langga.


"Langga, tolong jelaskan sedetail detailnya tentang semuanya." Pinta Gana yang merasa tidak sabar ingin mengetahui yang sebenarnya.


"Tunggu tunggu, kalian berdua ada hubungan apa?"


"Kita berdua sudah menikah, pernikahan pun baru kemarin. Pamanku memberi hadiah liburan ke luar Negri, dan aku memintanya bahwa kita berdua memilih untuk liburan di Pulau terpencil ini."


"Apa! jadi, kalian berdua sudah menikah? wah ... selamat ya, Bro." tanya Langga seperti tidak percaya jika Gane sudah menikah, sedangkan Gane hanya mengangguk.


"Cepat kau jelaskan semuanya padaku, jangan memberiku tugas yang berlebihan, karena aku akan mengabaikan nya.


"Aduh! Gane, Anney ini anak didikmu sekaligus yang sudah menyelamatkan nyawamu saat kamu ikut lomba balap liar."


"Anak didik ku?" tanya Gane untuk memperjelas jawaban dari Langga. Begitu juga dengan Nanney berusaha untuk mengingatnya kembali.


'Apakah Kak Gane lelaki itu? yang menjadi pelatih ku di kala itu? yang selalu bareng Kak Langga? yang selalu mengenakan masker? yang mengalami kecelakaan itu?' batin Nanney yang terus mengajukan sebuah pertanyaan pada dirinya sendiri.


"Ya, Anney anak didikmu. Bagaimana kamu mau ingat, Anney selalu bergaya dengan rambutnya yang pendek dan menyerupai lelaki. Apakah kamu sudah mengingatnya? jika belum, coba untuk diingat lagi." Kata Langga kembali menjelaskan sedetail mungkin.


"Jadi kau! bocah tengil itu."


Nanney sendiri menjadi gugup, ia langsung menutup kedua matanya saat dirinya sudah mengingat begitu banyak kenangan bersama suaminya dikala dirinya yang masih remaja. Kenangan dimana lagi kalau bukan dalam latihan bela diri.


Gane yang berusaha untuk menyembunyikan identitas wajahnya, ia selalu menggunakan masker ketika tengah melatih anak didiknya.

__ADS_1


Masa-masa remaja Nanney yang dipenuhi kebebasan dalam pergaulan, tapi tidak membuat seorang Nanney terjerumus dalam kebebasan.


Gane yang sudah teringat dengan sosok istrinya, ia langsung mendekati dan membuka kedua tangan sangat istri yang menjadi penghalang wajahnya.


"Rupanya kau ini bocah tengil itu, selalu bikin onar, dan selalu membuat tensi ku naik."


"Maaf, dulu aku hanya bercanda untuk mengerjai Kak Senior." Jawab Nanney sedikit gemetar saat dirinya mengingat ulahnya bersama teman-teman yang lainnya, yang mana suka jahil dengan seniornya sendiri.


"Sudah sudah, kalian berdua kalau mau berantem, lebih baik masuk dulu ke Villa. Kalau sudah siap, silakan bertempur dengan tenaga kalian masing masing." Ucap Langga setengah meledek, Gane yang mendengar ledekan dari temannya, ia hanya melirik nya dengan tajam.


'Mati, aku. Bagaimana ini, Kak Gane pasti mengingat semuanya. Bisa gawat ini, balas dendam yang dulu aja belum lunas, lagi.' Batin Nanney yang mulai khawatir atas nasibnya ditangan sangat suami.


Gane yang teringat dengan ucapan terakhir dari Langga, ia masih belum bisa mencernanya.


"Aku minta nomormu, cepat." Pinta Gane karena masih menyimpan rasa penasaran atas insiden kecelakaan pada dirinya ketika ikut balap liar. Gane masih penasaran siapa orangnya yang menyelamatkan nyawanya di kala itu, pikirnya.


Setelah mendapatkan nomor telpon Langga, Gane langsung berpamitan untuk segera masuk ke Villa.


Nanney yang tidak mempunyai pilihan lain, akhirnya mengikuti sangat suami yang sudah berjalan menuju Villa dengan bangunngan yang terlihat cukup megah.


"Kak, jalannya jangan cepat-cepat dong." Pinta Nanney yang mulai merasa capek saat fitinya harus mengimbangi langkah kaki suaminya.


"Aku sudah sangat capek, apakah kamu tidak tahu itu? sudahlah ayo kita percepat langkah kaki kita ini."


"Ya ya ya, ya." Kata Nanney yang hanya bisa pasrah pada suaminya sendiri.


Dengan langkah kaki yang terburu-buru, akhirnya Gane dan Nanney sampai juga didepan kamar yang akan dijadikan tempat tidurnya.


"Ayo kita masuk, kita tidak mungkin terus menerus berdiri di depan pintu." Kata Gane dan mengajak iatrinya untuk segera masuk ke ruangan yang dipesankan.

__ADS_1


Saat membuka pintu kamar yang akan dihuni oleh sepasang suami-istri, Nanney mulai membayangkan sesuatu yang menurutnya sangat pusing untuk ia pikirkan. Ketika sudah didalam kamar, sepasang kedua matanya sejenak memperhatikan setiap sudut ruangan.


__ADS_2