
Di tempat yang berbeda, Ciko, Doin, David, Tuan Hardika dan Pak Elyam kini sudah berada di Lapas untuk memberi keterangan mengenai kebenaran yang belum teeungkap. Dengan segala bukti, Pak Elyam sudah bersiap untuk menunjukkan buktinya.
Tidak hanya itu saja, tujuan Pak Elyam yang tidak lain untuk membebaskan putra dari orang yang sudah memberi amanat kepadanya.
Didalam ruangan, hanya ada Pak Elyam dan Tuan Hardika yang akan memberi keterangan atas perbuatan yang sudah dilakukan oleh Tuan Prasetyo beserta anak dan istrinya.
Berbagai macam bukti dari rekaman dan yang lainnya, kini telah diperlihatkan dengan sangat jelas tanpa ada rekayasa apapun dalam bukti tersebut. Setelah semua bukti telah diterima, Tuan Hardika dan Pak Elyam dapat bernapas lega.
Meski keputusan sudah dinyatakan final, tetap saja tidak mudah untuk melepaskan Gane dari tahanan. Ada syarat yang harus disepakati dan harus dijalani.
Walaupun harus melalui proses, setidaknya sudah mendapatkan titik terang bahwa Gane akan segera bebas.
Ketika semuanya sudah di proses, Ciko, Tuan Hardika dan Pak Elyam segera menemui Gane untuk menyampaikan kabar bahagia yang sudah lama dinantikan.
Sedangkan di dalam sel tahanan, Gane menyimpan rasa penasaran saat dirinya mendapatkan kabar jika ada seseorang yang akan bertemu dengan nya. Mondar-mandir bagaikan setrikaan, Gane sudah tak sabar untuk bertemu, pikirnya.
"Kamu kenapa, Bro? perasaan dari tadi kamu itu mondar-mandir trus. Apa jangan-jangan istrimu mau datang, ya? ngaku aja." Tanya Iswan penasaran, dikarenakan dirinya tidak diberi tahu jika dirinya akan dipertemukan dengan seseorang.
Saat itu juga, Gane diminta untuk keluar dan diajaknya ke ruangan yang dijadikan tempat pertemuan.
Tuan Hardika dan Ciko yang tidak ingin mengganggu pertemuan antara Pak Elyam dan Gane keponakannya, keduanya memilih menunggu ditempat yang lain.
Pak Elyam yang sengaja ingin memberi sebuah kejutan, Beliau memilih menatap dinding dengan kedua tangannya yang bersembunyi di dalam saku celananya itu.
Dengan rasa penasaran, Gane berjalan lebih dekat lagi pada sosok yang benar-benar tidak ia kenali.
"Maaf sebelumnya, Anda siapa ya?" tanya Gane yang akhirnya membuka suaranya.
Pak Elyam yang tidak ingin membuang waktunya, Beliau langsung membalikkan badannya dan kini keduanya saling berhadapan dan tentunya saling menatap satu sama lainnya.
__ADS_1
"Apa kabarmu, Nak Gane?" sapa Pak Elyam yang tak lepas dari senyumnya.
Gane masih menatapnya dengan bingung, berulang kali ia mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya. Takut, apa yang ia lihat hanyalah sebuah mimpi.
"Maaf, Anda siapa?" Gane yang masih belum mengingatnya, sebisa mungkin ingatannya pun kembali dengan sempurna.
"Bapak Pengacara Elyam, benarkah?"
Saat itu juga, Pak Elyam mengangguk dan langsung memeluk Gane dengan penuh haru. Begitu juga dengan Gane, dirinya masih terasa mimpi ketika mendapatkan sebuah kenyataan yang begitu jelas dalam ingatannya dan jelas dalam dunia nyatanya.
"Ya, ini Bapak. Maafkan Bapak yang kurang bertanggung jawab denganmu. Bapak janji, akan membebaskan kamu untuk keluar dari tempat ini." Ucap Pak Elyam sambil memeluk Gane.
Gane langsung melepaskan pelukannya dan keduanya saling berhadapan.
"Bapak tidak perlu meminta maaf, ini semua memang salahku. Andai saja aku tidak mudah terbuai, mungkin aku tidak akan berurusan dengan hukum." Jawab Gane yang dirinya tetap merasa bersalah juga atas kecerobohannya sendiri.
"Maksud Bapak itu, Paman Hardika?" tanya Gane dan juga langsung menebak siapa orangnya yang dimaksudkan oleh Pak Elyam.
Pak Elyam tersenyum saat mendengar tebakan dari Gane. Kemudian, Beliau menggelengkan kepalanya masih dengan tersenyum.
"Bukan, Tapi Hardika." Jawab Pak Elyam dan mengajak Gane untuk duduk. Gane masih tidak percaya, dirinya benar-benar terkejut mendengarnya.
Dugaannya selama ini memang salah besar ketika mengarah pada Tuan Hardika. Bagaimana tidak mencurigai dengan Beliau, karena selama hidupnya tanpa orang tua, Tuan Hardika begitu acuh dengannya dan tidak pernah peduli sama sekali. Bahkan, Beliau begitu dingin dan acuh tak acuh. Dari situlah, Gane berprasangka buruk pada Pamannya.
Karena tidak ingin masalah semakin berlarut, Pak Elyam akhirnya menceritakan kebenarannya dari awal. Tidak ada sedikitpun yang terlewatkan sama sekali.
Gane yang sedari menjadi pendengar setia, dirinya benar-benar sangat terkejut ketika Pak Elyam menceritakannya dengan sangat detail dan begitu geramnya ketika mengetahui kebenaran yang ada.
Gane benar-benar tidak menyangkalnya jika selama ini telah salah menilai kebaikan orang yang baik dan menuduh orang mengacuhkannya.
__ADS_1
Padahal, selama ini Tuan Prasetyo tidak terlihat kejahatannya sama sekali.
Gane langsung mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat dan rahangnya mengeras ketika mendengar penuturan dari Pak Elyam. Akibat perbuatan dari Tuan Prasetyo, Gane harus kehilangan anggota keluarganya dan juga yang lainnya termasuk kedua orang tua Ciko dan adik perempuannya yang selama ini ia rindukan kehadirannya.
Dan benar saja, kehadiran sang istri adalah bagai keajaiban baginya.
"Sudahlah, jangan kamu pendam amarahmu itu. Hidup dan mati itu adalah takdir, kita tidak bisa menentangnya. Lebih baik kamu fokus dengan dirimu untuk bebas dari tempat ini. Kemudian, selesaikan masalah mu selanjutnya." Ucap Pak Elyam, sedangkan Gane mengangguk dan nurut.
"Ya Pak, aku akan nurut dengan pesan Bapak. Terimakasih banyak sudah memberi nasehat kepada ku." Jawab Gane yang mulai merasa lega.
"Di luaran sana, kamu masih harus menyelesaikan masalahmu. Jadi, siapkan dirimu sebaik mungkin. Bukankah istri kamu sedang hamil? perjuangkan jika memang cintamu. Ingat, tetaplah menjadi sosok Nak. Gane yang Bapak kenal." Ucap Pak Elyam yang terus mengingatkan dirinya.
"Aku benar-benar sangat beruntung dapat dipertemukan lagi dengan Bapak. Anda saja Bapak tidak bisa aku temukan, aku sendiri tidak tahu dengan nasibku selanjutnya." Kata Gane yang sangat merasa bahagia, harapannya kini telah terkabul.
"Untuk hari ini, kamu belum bisa dibebaskan. Tetap saja harus mulai tahap. Setelah semuanya sudah benar-benar final, secepatnya kamu akan dibebaskan. Bersabarlah, kamu pasti akan bebas dan bertemu dengan istrimu." Ucap Pak Elyam, Gae tersenyum bahagia ketika kata bebas ia dengarkan.
Setelah merasa sudah tidak ada yang dibicarakan, Tuan Hardika, David, Ciko dan Doin menemui Gane sambil membawa nasi kotak untuk Bosnya dan teman-temannya dalam satu sel tahanan.
Sedangkan di tempat lain, Nanney tidak mempunyai penolakan. Karena Nenek Aruma sendiri tetap memaksa Nanney untuk melakukan pemeriksaan kandungannya di rumah sakit.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Nanney hanya bisa diam dan tidak berbicara sama sekali. Setelah itu, Nanney telah sampai di rumah sakit bersama suami adiknya.
"Aku akan memeriksakan kamu terlebih dahulu, setelah itu temani aku untuk memeriksa kondisi pada ingatanku." Ucapnya saat turun dari motor, Nanney pun tetap diam.
"Seharusnya kamu itu bahagia, tidak sedih seperti ini. Apa karena kamu merasa tidak enak hati dengan adikmu? ha. Sampai-sampai kamu rela mengacuhkan aku seperti ini. Seharusnya kamu mengatakan semuanya padaku dan berkata jujur. Kamu tidak perlu takut, tidak ada yang mengenal kamu." Ucapnya terus memberi penjelasan pada Nanney.
Tetap saja, Nanney masih diam dan tidak bersuara.
'Percuma aku jelaskan padanya, karena tidak akan pernah mengerti dan tidak akan percaya padaku meski aku sudah mengatakannya dengan jujur.' Batin Nanney dengan dilema.
__ADS_1