Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Bukan siapa siapa lagi


__ADS_3

Nanney masih berada dalam pelukan ibundanya David, yakni bunda Sere. Karena merasa tidak enak hati, Nanney melepaskan pelukan dari Bunda Sere.


"Percayalah sama Tante, kamu pasti bisa melewati semuanya. Lapangkan hatimu untuk melepaskan kepergian suami kamu, meski itu sangat berat sekalipun." Ucap Bunda Sere, Nanney hanya berdiam membisu.


Bagaimana bisa, Nanney begitu mencintai suaminya. Menjalin hubungan yang cukup lama membuat Nanney tidak mampu untuk berucap sepatah kata pun, Nanney sendiri seperti hidup tak ada lagi penyemangat di setiap langkahnya.


Untuk menelan saliva nya sendiri pun kesusahan, ia juga merasa jika tenggorokannya seakan seperti tercekik dan membuat salur pernapasan nya seakan terasa sulit untuknya bernapas.


"Bersabarlah Nak, kamu pasti bisa." Ucap Bunda Sere yang mencoba untuk menenangkan pikiran Nanney yang kini tengah kehilangan sosok yang ia cintai dan menjadi penyemangat hidupnya.


Disaat itu juga, datanglah seorang pelayanan yang kini tengah mengetuk pintu kamar. Bunda Sere segera bergegas untuk membuka pintunya.


"Permisi, Nyonya. Sekarang sudah waktunya untuk makan siang." Ucap dari seorang pelayan.


"Terimakasih, sebentar lagi kami akan segera menuju ke ruang makan. Siapkan saja semuanya." Jawab Bunda Sere sekaligus memberi pesan.


"Baik, Nyonya." Ucapnya, kemudian segera pergi dari hadapan Bunda Sere.


Setelah pelayan tersebut pergi, Bunda Sere mencoba untuk membujuk istri keponakannya.


"Nanney, sekarang sudah waktunya untuk makan siang, Nak." Ucap Beliau mencoba untuk membujuknya.


"Tante duluan saja, Nanney masih kenyang." Jawab Nanney beralasan, karena memang apa yang sedang ia rasakan benar-benar tidak merasa lapar sedikitpun. Yang dirasakan Nanney saat ini adalah hanya sebuah kerinduan dan harapan untuk kembali bertemu dengan suami tercintanya.


Bunda Sere yang tidak ingin terjadi sesuatu, segera mendekati dan berusaha untuk membujuknya.


"Nanney, kamu jangan menyiksa diri kamu sendiri. Sayangi kesehatan kamu, tidak baik mengabaikan kesehatan. Ingat Nak, kesehatan jauh lebih berharga dari apapun." Ucap Bunda Sere sambil memberi nasehat kecil untuk istri keponakannya.

__ADS_1


"Suami Nanney yang sangat berharga, Tante. Asal suami Nanney dapat ditemukan, itu sudah membuat hidup Nanney kembali bersemangat. Tapi ... jika tidak ditemukan juga, hilanglah segala rasa. Bahkan rasa manis pun akan berubah menjadi pahit, Tante." Kata Nanney yang tetap pada pendiriannya.


"Nanney, kita ini hanya manusia biasa. Kita tidak bisa berbuat apa apa jika takdir sudah menentukan tentang bagaimana hidup kita, Nak. Ayo tunjukkanlah, jika kamu itu bisa untuk menerima segala apa yang terjadi pada diri kamu." Lagi lagi Bunda Sere tidak bosan untuk memberi semangat kepada istri keponakannya.


"Ya, Tante. Terimakasih atas nasehstnya, Nanney hanya belum siap untuk kehilangan suami. Terasa berat untuk Nanney terima, Tante." Ucap Nanney dengan lesu, bahkan masih terlihat pucat.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita makan siang dulu. Kasihan perut kamu yang sejak pagi hanya kamu isi dengan buah dan susu." Ajak Bunda Sere, sedangkan Nanney mengangguk pasrah.


Saat berada di ruang makan, pandangannya tertuju pada kursi yang mana pernah ia duduki bersama sang suami.


Kenangan terakhir saat dirinya baru menyandang gelar sebagai seorang istri Regar Huttama, yang mana banyak perempuan yang ingin bersanding dengannya. Naas, kebahagiaan yang belum juga didapatkan sepenuhnya oleh Nanney, kini harus berakhir dengan sebuah perpisahan.


Tidak hanya Nanney yang merasa kehilangan, perempuan diluaran sana yang mengagumi sosok Regar pun ikut merasa kehilangan.


Sosok Regar dan Gane sangat berbeda karakternya. Meski lebih tampan Gane, namun sosok Gane lebih terkenal angkuh dan kejam. Lebih lebih ketika karyawannya melakukan kesalahan, Gane tidak segan-segan untuk memecatnya. Tidak hanya itu saja, Gane terbilang sangat tertutup sejak kehilangan kedua orang tuanya.


Berbeda dengan sosok Regar, dia orangnya terlihat ramah dan tidak menyukai kekerasan. Namun, sosok Regar tidak mudah untuk jatuh cinta ke banyak perempuan seperti memiliki banyak pacar atau memiliki selingkuhan.


Masih berada dalam perjalanan pulang, Gane memilih bersandar di jendela kaca mobil. Pandangannya mengarah pada pinggiran jalanan, sedangkan pikirannya entah kemana.


"Bos, kita sudah sampai." Ucap Ciko membuyarkan lamunan Bosnya.


Gane yang merasa aneh, ia melihat disekeliling mobilnya. "Kita ada dimana, Cik?" tanya Gane yang belum juga mengerti.


"Kita sedang berada di depan Restauran, Bos. Sekarang sudah saatnya untuk makan siang, perjalanan ke rumah masih cukup jauh." Jawab Ciko sambil menunjukkan pada jam tangannya.


"Aku masih kenyang, Cik. Kalau kamu mau makan, silahkan." Ucap Gane, Ciko sendiri mengacak rambutnya yang sudah terlihat rapi.

__ADS_1


"Bos, mau sampai kapan akan terus terusan menahan lapar. Kalau Bos sakit, siapa yang untung dan siapa yang rugi coba? pikir dong Bos, pikir." Kata Ciko sambil menunjuk didekat pelipisnya, yang dimaksudkan ciko adalah pada bagian otaknya.


Gane yang mengerti maksud dari Ciko, ia segera turun dari mobil. Namun sebelumnya ia melepaskan sabuk pengamannya terlebih dahulu. Setelah itu diikuti oleh Ciko yang ikut turun dari mobil.


Dengan terpaksa agar tidak jatuh sakit, Gane menuruti apa yang diucapkan Ciko.


Sampainya berada di dalam Restoran, Gane dan Ciko serta kedua pamannya dan sepupunya kini tengah duduk di tempat yang sudah dipesan sebelum datang.


Hening, suasana menjadi hening ketika semuanya tengah menikmati makan siangnya. Begitu juga di kediaman keluarga Huttama, di ruang makan nampak hening dan tidak bersuara. Hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring.


Nanney yang tidak begitu selera makan, ia memaksakan diri untuk mengunyah makanan yang sudah berada di piringnya.


Rasa nikmat pada makanan seketika hilang bersama lamunannya yang tengah memikirkan sang suami yang juga tidak kunjung ditemukan. Nanney sendiri terasa berat untuk kehilangan suami yang sangat ia cintai, seakan hilang separuh nyawanya.


Sambil melamun sesuatu, akhirnya makanan yang ada di piringnya habis tidak tersisa. Nanney sendiri sengaja mengambil porsi yang tidak begitu banyak dan hanya beberapa sendok saja.


Setelah selesai makan siang, Nanney kembali masuk ke kamarnya ditemani asisten rumah.


"Nanney, kamu istirahat saja, Nak. Tante juga mau istirahat, karena paman kamu dan yang lainnya akan pulang hari ini. Jadi sebaiknya kita istirahat, kalau menunggu mereka pulang, kita tidak bisa istirahat." Ucap Bunda Sere, Nanney yang tidak tahu apa-apa hanya bisa nurut.


"Mari, Nona. Saya akan antar Nona sampai di dalam kamar." Ucap asisten rumah sambil menjaga keseimbangan jalannya Nanney yang masih terhuyung karena badan yang belum pulih total.


Dengan sangat hati-hati, Nanney berjalan sambil berpegangan lengan milik asisten rumah. Sampainya di dalam kamar, Nanney dapat bernapas lega karena ia tidak jatuh saat menapaki anak tangga.


"Mbak, namanya siapa? perkenalkan, namaku Nanney. Panggil saja Nanney, agar lebih dekat dan tentunya aku punya teman di rumah ini." Ucap Nanney yang tiba-tiba memperkenalkan diri.


"Nona jangan bilang begitu, saya ini hanya asisten. Sangat lancang jika saya memanggio Nona hanya dengan sebutan nama saja. Nama saya Marlina, Nona. Panggil saja sesuka Nona, saya tidak keberatan." Jawabnya.

__ADS_1


"Mbak Lina, jangan panggil aku Nona. Tapi panggil saja Nanney, kita ini sepertinya tidak jauh beda usianya. Setelah ini, mungkin aku akan pergi dari rumah ini. Aku bukan siapa siapa lagi di rumah ini, Mbak." Ucap Nanney merasa kehilangan orang yang dicintai, hingga dirinya seakan tidak tahu arah selanjutnya.


__ADS_2