
Gane yang mendengar jawaban dari Ciko, seketika ia merasa seakan dirinya telah kecolongan. Padahal sebelum terjadinya sebuah insiden kecelakaan pada kapal, Gane selalu mengawasinya dengan sangat ketat.
Saat itu juga, Gane langsung menyodorkan sebuah ponsel milik Ciko dan memberikan kepada pemiliknya. Karena merasa disaingi, Gane merasa tidak terima. Baginya tidak ada satu orang pun yang berani menyaingi dirinya, apapun alasannya. Terkecuali dalam kerja sama yang sehat, bagi Gane tidak ada salahnya, pikirnya.
"Cepat kau tambahkan kecepatannya, jangan membuang buang waktu." Perintah Gane yang sudah tidak sabar untuk segera sampai ke tempat tujuan. Tentu saja akan ada misi yang harus dikerjakan dan diselesaikan secepat mungkin.
Ciko yang merasa bosan selalu mendapatkan bentakan dari Gane, ia langsung menancapkan gasnya hingga dengan kecepatan yang cukup kencang.
"Cik! gila kau ini. Kau mau membunuhku, ha! turunkan gasnya." Bentak Gane yang sadar dengan kondisi kesehatan pada jantungnya. Lebih-lebih ketika Ciko menambahkan kecepatan laju mobilnya, membuat detak jantung milik Gane serasa mau copot disaat itu juga.
Takut mendapatkan amukan dari Gane, Ciko segera menurunkan kecepatannya. Tentu saja Ciko merasa kasihan melihat Bosnya yang harus menahan rasa sakitnya bertahun tahun. Namun apa daya dari seorang Gane, yang begitu keras kepala dan sulit untuk diberi nasehat apapun ketika hati dan pikirannya tidak lagi sinkron.
'Andai saja Bos Gane mau menuruti saran dariku, aku yakin tidak akan merasakan sesakit ini. Tapi apalah dayaku yang begitu sulit untuk menurunkan egonya. Semoga saja setelah menikah dengan Nona Nanney akan ada perubahan sedikit demi sedikit dan berkurang keras kepalanya itu.' Batin Ciko penuh harap, dan tentunya merasa kasihan terhadap kondisi kesehatan Bosnya yang harus dirasakannya sendiri.
Sedangkan didalam rumah, Nanney merasa jenuh berada didalam rumah sendirian. Rencana ingin keluar dan mencari suasana baru, sayangnya pintu terkunci dari luar.
Tidak ada aktivitas yang dapat membuatnya merasa nyaman, akhirnya Nanney memilih menonton televisi. Samping itu juga, Nanney telah mendapatkan pengawasan lewat CCTV yang kapan saja siap mengawasi gerak geriknya.
"Benar-benar membosankan, sial sial sial. Kenapa juga aku harus terperangkap sama ABG tua kek dia. Tampan sih, tapi isi otaknya benar-benar sangat kejam." Gumam Nanney berdecak kesal pada sosok Gane yang pernah menyandang sebagai kakak iparnya. Dan kini, sebentar lagi harus menjadi suaminya. Sungguh benar-benar membuat Nanney seperti tidak masuk akal.
Saat otaknya bekerja mencari sebuah ide, tiba-tiba ia terpikirkan pada sebuah ponsel miliknya.
"Bodoh, kenapa juga mesti lupa. Dari kemarin itu keknya aku belum buka ponselku deh. Semoga saja Hennyta sudah mengaktifkan kembali nomor ponselnya." Ucapnya lirih, kemudian ia tersadar jika tas bawaannya berada di dalam kamar kakak iparnya.
__ADS_1
"Duh! tas aku kan, ada di kamar ABG tua itu. Pasti kamarnya dikunci, dia kan, orangnya sangat pelit dan juga sangat kejam." Gerutu Nanney, tetap saja ia menuju kamar milik Gane untuk mengambil tas bawaannya.
Sampai didepan kamar, senyum mengembang terlihat pada kedua sudut bibirnya. Tidak lupa juga ia langsung membuang napasnya dengan kasar.
"Akhirnya aku bisa menyelamatkan tas bawaan ku." Gumamnya, kemudian ia segera mengambilnya. Saat mengambil tas miliknya, sepasang matanya tertuju pada sebuah botol kecil yang membuatnya penasaran.
Karena rasa penasaran, akhirnya Nanney meraih botol tersebut dan mencoba untuk memeriksanya.
"Obat apa, ini?" gumamnya dan sambil membaca tulisan yang ada pada botol tersebut. Meski bertuliskan bukan bahasa Indonesia, Nanney dapat membaca serta mengartikannya.
"Bukankah ini obat untuk jantung?" ucapnya lirih dan bertanya tanya mengenai obat yang ada ditangannya.
"Benarkah obat ini milik Kak Gane?" gumamnya lagi yang masih dihantui dengan rasa penasarannya.
Saat meraih lembaran kertas tersebut, dengan teliti Nanney membacanya dengan seksama. Bahkan tidak ada satu katapun yang terlewatkan.
"Apa! jantung? jadi, Kak Gane mengidap penyakit jantung? benarkah? kasihan sekali hidupnya. Apakah ada hubungannya dengan gadis itu? bisa jadi sih, mungkin saja terlalu banyak memikirkan perempuan yang dicintainya itu hingga membuatnya jatuh sakit." Gumamnya setelah mengetahui siapa pemiliknya.
Nanney yang tidak ingin di curigai oleh kakak iparnya karena sebuah benda yang dapat mengintai dirinya selama berada di dalam rumah, akhirnya ia memilih segera keluar dari kamar sambil membawa tas bawaannya.
"Selamat pagi, Nona." Sapa salah seorang pelayan tengah menyapanya secara tiba-tiba. Nanney pun terkejut dibuatnya. Bagaimana tidak terkejut, pintu terkunci dan seketika sudah ada di hadapannya.
"Kamu ini siapa, ya? dan kamu." Tanya Nanney dan menunjuk pada seorang laki laki yang juga membuatnya bingung. Pasalnya, dua orang sudah ada di hadapannya tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.
__ADS_1
"Perkenalkan, saya Alana, Nona." Jawabnya memperkenalkan diri.
"Dan saya Doin, Nona." Ucapnya ikut menimpali serta memperkenalkan diri di hadapan Nanney.
Sambil memperhatikan satu persatu, Nanney masih merasa bingung.
"Doin, Alana. Tunggu tunggu, kenapa kalian berdua bisa masuk ke dalam rumah ini? perasaan sudah dikunci dari luar deh. Jangan-jangan kalian berdua ini maling, ngaku." Ucap Nanney sambil menerka berkata serta bertanya untuk mendapatkan penjelasan.
"Kita berdua ini mendapatkan perintah dari Tuan Gane untuk menjaga Nona." Jawabnya sesuai perintah dari Tuannya.
"Menjaga saya, begitu kah maksudnya? tolong jelaskan pada saya sedetail-detailnya." Ucap Nanney dan tidak lupa memberi sebuah permintaan untuk menjelaskan pada pokok intinya.
"Begini Nona, selama sebelum melewati empat puluh hari kepergian Tuan Regar, saya dan Doin akan menemani Nona tinggal di rumah ini. Untuk sementara waktu, Tuan Gane tidak akan tinggal di rumah ini. Tiba waktunya pernikahan, Tuan Gane akan kembali menempati rumah ini, Nona." Jawabnya pada pokok intinya, Nanney langsung membulatkan kedua bola matanya.
"Jadi, ABG tua itu tidak pulang?" tanya Nanney dengan spontan dan menyebutkan kakak iparnya dengan sebutan ABG tua. Saat itu juga, Nanney langsung membungkam mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.
Doin maupun Alana yang hendak tertawa ketika mendengar pengucapan dari Nanney, sebisa mungkin untuk menahan tawanya. Tentu saja merasa takut, karena isi di dalam rumah dipenuhi dengan CCTV.
'Kasihan sekali kamu, Tuan. Calon istrimu telah memanggilmu dengan sebutan ABG tua. Makanya buruan menikah, jadi ketika teman Tuan Gane sudah memiliki cucu, setidaknya Tuan Gane sudah mempunyai seorang anak.' Batin Doin sambil menahan tawanya.
"Nona, permisi." Ucap Doin berpamitan.
"Mau kemana?" tanya Nanney penasaran.
__ADS_1
"Tidak kemana mana, Nona. Jangan khawatir, saya hanya ada didalam gudang didepan rumah. Sedangkan Alana yang akan menemani Nona di dalam rumah ini, tugas kita berbeda beda." Jawab Doin, Nanney sendiri tidak bisa untuk memaksanya.