Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Kedatangan sahabat


__ADS_3

Tidak adanya aktivitas seperti biasanya, Gane merasa jenuh berada didalam rumah. Ingin rasanya pergi dari rumah untuk membuang kejenuhan, apa daya dengan kondisi lengannya yang terluka itu, terpaksa berada didalam rumah.


Nanney yang tidak mempunyai kegiatan di rumah, dirinya ikut merasa jenuh. Teman, tentu saja Nanney menginginkan adanya teman untuk diajaknya mengobrol. Tapi, Nanney tidak bisa pergi dari rumah layaknya orang-orang yang mempunyai kebebasan.


"Kak," panggil Nanney memberanikan diri.


"Ada apa?" tanya Gane tanpa menoleh pada istrinya.


"Aku ingin bertemu dengan temanku, apakah Kak Gane mengizinkan ku?" Jawab Nanney sambil meminta izin, berharap permintaan nya dipenuhi.


"Mau ngapain? apa kamu tidak ingat dengan kondisi tanganku ini?"


"Temanku yang akan datang kesini, bagaimana? boleh kan, ya?"


"Apa kamu tidak malu, punya suami miskin sepertiku?"


"Malu? tentu saja tidak, karena aku diajarkan untuk tetap selalu percaya diri di dalam kebenaran dan kejujuran. Jadi, tidak ada yang membuat ku malu, apapun statusnya." Jawab Nanney yang tidak lupa diakhir kalimatnya mengedipkan matanya pada sang suami.


Bukannya tergoda, justru Gane merasa geli dengan sikap aneh istrinya itu.


"Terserah kamu saja, yang jelas aku tidak akan mengizinkan mu keluar dari rumah tanpa aku."


"Baiklah, tenang saja. Kak Gane tidak perlu khawatir, ok." Kata Nanney dan dengan reflek, Nanney telah mencium pipi milik suaminya sendiri.


Seketika, Nanney menutup mulutnya karena malu dengan apa yang sudah ia perbuat.


"Kau sudah mulai berani rupanya, awas saja kalau aku meminta hak ku dan tidak kamu berikan." Ucap Gane sengaja menakut-nakuti istrinya.


"Maaf, tadi aku benar-benar tidak sengaja, serius." Sahut Nanney yang tersadar atas ucapannya itu, sedangkan Gane segera masuk ke kamar.


"Mam*pus gue, bagaimana ini kalau Kak Gane benar-benar memintanya lagi? oh tidak." Gumamnya dengan gelisah.


Saat itu juga, suara ponsel milik Nanney tengah mengagetkan Gane yang baru saja masuk ke kamar. Dengan cepat, Gane langsung menyambar ponsel yang ada di atas meja dan menerima panggilan masuk.

__ADS_1


"Datang saja ke rumah, alamatnya Gang. Hijau, nomor 115." Jawab Gane kemudian langsung menutup panggilan telepon nya.


Nanney yang mendengarkannya pun, tersenyum mengembang diambang pintu.


"Tunggu saja di ruang tamu, teman kamu akan segera datang." Kata Gane saat mendapati istrinya sudah berdiri diambang pintu.


"Terimakasih banyak ya, Kak." Jawab Nanney dan memutar balikkan badannya.


"Kau pikir gratis, nanti malam kau harus membayarnya. Lamanya temanmu di rumah ini, maka lamanya juga kau harus melayaniku." Kata Gane dan tersenyum puas saat dirinya berhasil mengerjai istrinya.


Nanney yang mendengarkan begitu sangat jelas, tubuhnya seakan sulit untuk digerakkan.


'Apa! nanti malam aku harus membayarnya? yang benar saja. Bilang aja kalau mesum, kenapa mesti meminta imbalan kek gini coba.' Batin Nanney terasa geram saat suaminya meminta imbalan darinya.


Nanney kembali memutar balikkan badannya dan berjalan mendekati suaminya.


"Ada apa lagi? mau sekarang? jangan dulu, aku maunya nanti malam. Sekarang aku sedang tidak ada naf*su, yang ada sangat gerah."


"Dih kepedean, aku tuh mau ambil ponselku." Jawab Nanney dan tertawa kecil pada suaminya.


"Lep-lep-lepasin." Ucap Nanney susah payah dengan bibir yang sedang menempel dengan bibir suaminya.


Gane yang tidak mau memberi ampun pada istrinya, ia segera menyerong kan tubuh istrinya tepat didekat tempat tidur. Kemudian, Gane langsung mendorong tubuh istrinya hingga keduanya terjatuh dan posisi Gane berada di atas istrinya.


"Kak, lepasin dong. Itunya nanti malam aja ya? takutnya temanku keburu datang. Kan gak enak, kalau tiba-tiba temanku datang." Ucap Nanney dengan memohon, sedangkan Gane mengerutkan keningnya.


"Dasar me*sum, dicuci dulu otakmu itu. Sudah sana pergi, kau tunggu temanmu di ruang tamu." Jawab Gane dan bangkit dari posisinya, kemudian ia masuk ke kamar mandi.


"Dih, ngatain aku mesum. Apa aku tidak salah dengar ya, bukannya dia sendiri yang mesum? hem." Gumam Nanney dan mengambil ponselnya yang ada di atas meja, kemudian ia segera keluar dari kamar.


Saat sudah berada di ruang tamu, Nanney di kagetkan dengan suara bel pintu.


"Aira dan Ira, benarkah mereka berdua?"

__ADS_1


Cepat-cepat Nanney segera membuka pintunya.


"Aira, Ira, kalian benar-benar datang. Apa kabarnya? aku sangat merindukan kalian berdua, ayo masuk." Ucap Nanney dengan girang, begitu juga dengan kedua temannya ikut bahagia saat bisa bertemu lagi dengan teman dekatnya.


"Kabar kita berdua baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya Nan? tau gak sih, kita berdua itu kek kurang garam tanpa adanya kamu." Kata Aira sambil berjalan menuju tempat duduk bersama Ira.


Tidak lupa juga, kedua temannya mengamati di setiap sudut rumah yang menjadi tempat tinggal seorang Nanney.


Seperti tidak percaya jika Nanney tinggal bersama suaminya dengan kondisi rumah yang sangat sederhana itu. Setahu Aira dan Ira, bahwa suami Nanney adalah orang yang sangat kaya raya, tetapi seakan seperti mimpi ketika melihat kebenarannya.


"Aira, Ira, kalian mau minum apa?" tanya Nanney membuyarkan lamunan kedua temannya.


"Apa saja aku mau. Oh ya, suami kamu mana? perasaan tadi yang angkat telpon mu suami kamu."


Saat itu juga, Gane keluar dari kamar dan menemui istrinya yang tengah mengobrol bersama kedua temannya.


"Pak Bos Gane?" Aira dan Ira benar-benar terkejut saat mendapati sosok Gane yang tidak lain Bosnya dulu kini dalam satu atap bersama sahabatnya, Nanney."


"Tunggu-tunggu, kenapa aku jadi bingung begini ya? suami kamu bukannya Regar? maksud aku adiknya Pak Bos Gane. Apakah kalian bertiga satu rumah?" tanya Ira ikut menimpali dan tentunya ikut bingung melihatnya.


"Regar sudah tiada setelah hari pernikahannya, dan aku yang menggantikan posisi Regar untuk menjadi suami Nanney." Jawab Gane yang akhirnya berterus terang dengan status yang sebenarnya.


Aira dan Ira benar-benar terkejut mendengarkannya, sungguh diluar dugaan.


"Jadi, Regar sudah tiada?" lagi lagi Aira masih belum percaya jika suami sahabatnya telah tiada.


"Benar, Regar sudah tiada." Jawab Nanney dan menundukkan kepalanya.


Saat itu juga, kedua teman dekatnya langsung memeluk tubuh Nanney ikut bersedih.


"Nanney, kamu yang sabar ya. Maafkan aku yang tidak mengetahui kabar duka dari mu." Ucap Aira sambil mengusap punggung Nanney, begitu juga dengan Ira yang ikut turut bersedih saat sahabatnya kehilangan orang yang sangat dicintainya itu.


Gane yang tidak mampu melihat ketiga perempuan yang tengah bersedih, Gane lebih memilih kembali ke kamar untuk beristirahat.

__ADS_1


Sedangkan Nanney dan kedua temannya tengah bertukar cerita dan menikmati teh hangat ditemani cemilan.


__ADS_2