Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Hampir saja ketahuan


__ADS_3

Nanney benar-benar sangat terkejut saat dirinya sudah dihadang oleh suami adiknya.


"Mau ngapain?" tanya Nanney dengan rasa takut dan juga menunduk.


Entah kenapa, Nanney merasa takut jika harus menatap sosok Danu. Bahkan, ingin rasanya segera pergi meninggalkan rumah. Tapi, Nanney tidak bisa untuk pergi dari rumah Nenek Aruma begitu saja karena kondisinya yang tengah hamil.


"Aku ingin memelukmu, sebentar saja." Jawabnya dengan sangat santai.


Nanney kembali terkejut mendengarkannya. Bahkan, detak jantungnya pun langsung berdegup sangat kencang dan pikirannya mulai tidak karuan. Untuk melangkahkan kakinya saja ia begitu berat, dan juga ingin rasanya berteriak dan menangis histeris.


"Kamu jangan gila, jangan sentuh aku. Aku mohon, jangan macam-macam denganku." Ucap Nanney dengan perasaan takut sekaligus memohon.


"Tidak apa-apa jika kamu tidak mau, aku hanya ingin mengetahui reaksinya jika aku memeluk mu. Kalau kamu merasa keberatan, aku tidak akan melakukan nya." Jawabnya yang tidak berani untuk memaksakannya dan tidak ingin membuat Nanney merasa ketakutan karena sebuah permintaannya itu.


"Maaf, aku tidak bisa." Ucap Nanney berusaha untuk tetap tenang, meski detak jantungnya sulit untuk dikendalikan.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"


"Boleh, memangnya kamu ingin bertanya apa?"


"Tidak jadi. Maaf, aku sudah membuatmu ketakutan." Ucapnya dan pergi dari hadapan Nanney.


"Kenapa tidak jadi bertanya?" tanya Nanney.


Sosok Danu berhenti dari langkah kakinya dan menoleh kebelakang.


"Percuma saja aku bertanya padamu, karena kamu tidak pernah setuju."


"Maksudnya apa?"


"Tidak ada maksud apa-apa. Yang jelas aku akan tetap berusaha untuk mengembalikan ingatanku. Karena apa? karena aku tidak ingin menjalin hubungan dengan adikmu, sedangkan aku adalah suami kamu yang sesungguhnya." Jawabnya dan berterus terang.


"Adikku orangnya sangat baik, tulus, dan tidak menuntut apapun, apa kurangnya adikku? kamu akan menyesal ketika kamu mengabaikan Henny."


Saat itu juga, sosok Danu langsung membalikkan badannya dan mendekati Nanney.


"Aku sedang tidak membicarakan adikmu, aku membicarakan hubungan kita yang sesungguhnya. Kamu bisa mengelak, tapi aku tidak."

__ADS_1


"Kak-kalian ...." Ucap Henny terbata-bata karena terkejut saat masuk ke rumah dan mendapati suaminya tengah menyandarkan tangannya pada dinding dan jarak diantara sang kakak dan suami begitu sangat dekat.


"Henny, ini tidak seperti yang kamu bayangkan." Sahut Nanney dan langsung menyingkirkan tangan suami adiknya.


Henny masih berdiri mematung, dirinya benar-benar tidak pernah menyangka nya dengan apa yang ia lihat.


"Henny, maafkan Kakak. Tadi itu, tadi suami kamu mengancam Kakak kalau Kakak tidak mau mendukung untuk memberikan kejutan padamu, maka Kakak akan mendapatkan hukuman. Bukankan begitu, Danu? ya 'kan? ayo jujur saja sama istri kamu." Ucap Nanney beralasan. Takut, jika sang adik akan mengetahui kebenaran yang ada sebelum suaminya datang untuk menjemputnya.


Sosok Danu yang mengerti dengan alasan Nanney, akhirnya mengangguk dan tersenyum.


"Benar, aku tidak bohong. Sebenarnya aku ingin sekali memberi kejutan sama kamu, karena selama ini aku sudah lama mengacuhkan mu. Maka, maafkan aku yang sudah memaksa Kakak kamu untuk ikut dalam rencana ku. Tapi, rupanya kamu sudah pulang dan terpaksa aku jujur padamu." Timpal sang suami yang akhirnya berbohong.


"Mas Danu serius?" tanya Henny ingin memastikan.


"Benar, aku serius. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan langsung pada Kak Nanney." Jawabnya yang lagi-lagi beralasan.


"Ya, benar. Suami kamu tidak bohong, soalnya kejutannya lumayan ekstrim, tentu saja Kakak menentangnya. Takut, kamu akan jantungan. Jadi, Kakak bernegosiasi untuk memberi kejutan yang cukup disukai oleh perempuan, begitu maksudnya." Ucap Nanney dengan penuh kekhawatiran. Takut, jika rupanya sosok Danu akan pulih ingatannya diwaktu yang tidak tepat, pikirnya.


Ditambah lagi dengan adanya lomba berenang, bisa saja insiden kecelakaan akan mengingatkan segalanya, pikir Nanney yang merasa takut karena sama-sama menyelam dalam air.


Henny yang mendengar penuturan dari sang kakak, ia langsung memeluknya.


Nanney yang merasa sulit untuk bernapas, ia langsung melepaskan pelukannya.


"Kakak ada kabar baik, kamu mau mendengarkannya atau tidak nih?"


"Tentunya dong, memangnya kabar baik apaan Kak? jadi penasaran deh."


"Suami Kakak akan datang kemari dalam waktu dekat ini, paling lama satu minggu lagi." Ucap Nanney dengan berbisik. Berharap, sang adik tidak mencurigai atas kejadian yang baru saja dilihatnya.


"Kakak serius?" tanya Henny untuk memastikan.


Nanney mengangguk dan tersenyum.


"Wah ... jadi penasaran deh, sama kakak ipar." Ucap Henny dengan senyum yang lebar.


Sosok Danu yang merasa dicuekin, ia langsung ikut nimbrung.

__ADS_1


"Kalian berdua sedang membicarakan apa? sampai-sampai harus berbisik seperti itu."


"Bukan apa-apa kok Mas, suami Kak Nanney mau datang ke rumah, katanya." Sahut Henny yang akhirnya berkata jujur.


Nanney menggigit bibir bawahnya, takut akan diinterogasi kembali oleh suami adiknya.


Sosok Danu yang mendengar jawaban dari sang istri. Saat itu juga, menatap Nanney dengan tatapan penuh kesal. Kemudian, ia kembali menatap istrinya.


"Oh, memangnya kapan mau datang kesini?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.


"Katanya sih dalam waktu dekat ini. Benar kan, Kak?" jawabnya dan bertanya pada sang kakak.


"Ya, dalam waktu dekat ini. Kalau tidak salah, tidak lebih dari satu minggu sudah datang kemari." Jawab Nanney yang sedikit takut.


"Wah, jadi ikut penasaran. Kenapa tidak sekarang saja, agar besok bisa ikut lomba renang."


"Ya juga ya, mungkin saja sedang sibuk. Ya kan, Kak Nanney?"


"Ya, sedang sibuk. Kalaupun tidak sibuk, sudah ikut pulang bareng Kakak."


Seketika, Henny tersadar jika dirinya diminta untuk mengambil baju ganti milik Nenek Aruma. Saat itu juga, Henny langsung berpamitan.


"Aduh! hampir saja aku lupa." Ucap Henny sambil menepuk keningnya yang baru tersadar jika dirinya harus balik lagi untuk mengantarkan pakaian Nenek Aruma.


"Lupa?" tanya Nanney penasaran.


"Aku lupa untuk jemput Nenek, Kak."


"Kok bisa, kenapa bisa-bisanya kamu tidak pulang bareng sama Nenek? hem."


"Tadi itu, baju Nenek basah karena ke siram air minum teh. Jadi, aku diminta untuk mengambilkan baju gantinya Kak."


"Ooh, kirain. Ya sudah, Kakak kira ada apa."


"Kalau gitu, aku mau jemput Nenek dulu ya Kak."


"Ya, hati-hati dijalan." Jawab Nanney, Henny pun mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Sedangkan suami Henny memilih pergi ke dapur untuk membuat kopi. Nanney sendiri masuk ke kamarnya, takutnya akan mendapatkan pertanyaan lagi dari sosok Danu, pikirnya.


Henny yang merasa lega dan tidak berprasangka buruk pada suaminya, hatinya sangat berbunga-bunga ketika akan mendapatkan kejutan dari sang suami, pikirnya.


__ADS_2