
Gane yang mendapatkan kabar dari orang kepercayaan nya selama ini pun, ia terkejut mendengarkannya.
"Apa! Nona Nanney kecelakaan? yang benar, Bos." Tanya Ciko seperti tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan dari mulut Bosnya itu.
"Benar, Cik. Sekarang juga, ayo kita ke rumah sakit." Jawab Gane, kemudian ia langsung menyambar kunci mobilnya dan segera ia pergi meninggalkan rumah.
Ciko yang tidak ingin terjadi sesuatu pada Bosnya, ia memilih untuk mengambil alih mengendarai mobilnya.
"Biar aku saja yang menyetir mobilnya." Ucap Ciko yang langsung menyambar kunci mobilnya ditangan Gane.
Gane yang malas berdebat, dirinya hanya bisa menuruti Ciko. Saat dalam perjalanan, keduanya masih sama diamnya. Gane yang sibuk memikirkan keadaan Nanney, sedangkan Ciko sibuk memikirkan tentang insiden kecelakaan tersebut.
"Bos, bukankah Nona Nanney terkurung dalam rumah? kenapa bisa kecelakaan? memangnya Bos Gane memberinya kunci rumah?" tanya Ciko penasaran. Pasalnya, yang ia ketahui tentang Nanney tidak lebih bagaikan burung dalam sangkar, pikirnya.
"Aku memberi perintah pada Doin dan Alana untuk tinggal di rumah itu, dan tentu saja aku perintahkan untuk menjaganya. Beberapa menit yang lalu, Alana menghubungiku dan meminta izin untuk menemani Nanney jalan jalan diluar. Tapi naas, saat mau menyebrang jalan, tiba tiba ada mobil yang melaju kencang secara tiba tiba." Jawab Gane menjelaskan, Ciko sendiri justru sibuk memikirkan insiden yang baru saja diceritakan oleh Bosnya.
"Tidak terluka parah kan, Bos?" tanya Ciko yang entah kenapa mendadak khawatir.
"Kata Doin belum mendapatkan hasil pemeriksaan." Jawab Gane sambil menatap lurus ke depan.
"Semoga saja Nona Nanney baik-baik saja, Bos." Ucap Ciko dan kembali fokus dengan setir mobilnya.
Tidak lama kemudian, keduanya telah sampai di depan rumah sakit. Cepat-cepat melepaskan sabuk pengaman dan segera keluar dari mobil.
Dengan langkah kaki yang gesit, Gane dan Ciki mencari ruang yang dimana Nanney tengah dirawat.
BRUG!
"Maaf, saya tidak sengaja." Ucapnya sambil menunduk dan langsung bergegas pergi begitu saja setelah menabrak Gane.
"Hei! tunggu, jangan pergi kau." Panggil Gane setengah mengejar dan dengan suara yang meninggi, namun tetap saja tidak dihiraukan.
"Bos!" teriak Ciko memanggil Gane dan ikutan mengejar.
__ADS_1
"Sial!" umpat Gane yang merasa kesal karena tidak dapat mengejar sosok yang baru saja menabrak dirinya.
"Kenapa, Bos?" tanya Ciko.
"Aku mencurigai laki-laki yang menabrak aku barusan, jangan-jangan orang itu ada hubungannya dengan kecelakaan Nanney." Jawab Gane dan menyapu kasar wajahnya dan membuang napasnya dengan kasar.
"Apa iya, Bos. Tapi, siapa? perasaan Nona Nanney tidak ada musuh. Yang ada juga kamu, Bos." Ucap Ciko yang kemudian balik mengira ngira.
"Ah sudahlah, kita bahas nanti lagi. Sekarang ayo kita temui Nanney." Ajak Gane yang lagi malas untuk berpikir, sedangkan Ciko hanya bisa nurut dan mereka berdua segera menemui Nanney yang tengah dirawat akibat insiden kecelakaan yang menimpanya.
Saat berada didepan rusng rawat, Gane tiba-tiba terasa malas untuk masuk kedalam menemui Nanney. Saat itu juga Gane teringat sakit hatinya ketika harus kehilangan adik kesayangannya.
"Bos, kenapa diam?" tanya Ciko dan tidak lupa menepuk punggung milik Gane.
"Kamu saja yang masuk, Cik. Aku tunggu saja di luar." Jawab Gane yang merasa enggan dan memilih untuk menunggunya di luar.
"Tapi, Bos." Kata Ciko.
Entah kenapa, Gane langsung membuka pintunya dan langsung masuk kedalam. Ciko yang baru saja diam, ia langsung mendapati sikap Bosnya yang kembali aneh.
Nanney yang terkejut saat Gane masuk, cepat kilat ia langsung mengalihkan pandangannya.
"Doin, Alana, kalian berdua keluarlah." Perintah Gane pada keduanya. Setelah itu, Dion dan Alana segera keluar, namun tidak untuk Ciko yang tetap harus berada di dalam ruangan tersebut bersama Bosnya.
"Lihat aku,"
Nanney masih tetap pada posisinya yang juga tidak mampu untuk menatap kakak iparnya.
"Lihat aku!"
Kini suara Gane berubah meninggi dan membuat seorang Nanney berubah menjadi ketakutan, mau tidak mau akhirnya ia menoleh kesamping dan mendongak pada kakak iparnya.
Bukannya simpati, justru Gane tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa tidak mati sekalian kau ini, menyusahkan saja. Setidaknya aku tidak turun tangan untuk melenyapkan mu." Ucap Gane dan menyeringai sinis pada Nanney.
Seketika, Nanney terasa tersambar petir tatkala dirinya mendengar ucapan yang sangat menyakitkan itu. Hatinya begitu sakit melebihi luka yang sedang ia rasakan.
Begitu juga dengan Ciko, ia pun ikutan terkejut atas ucapan yang dilontarkan oleh Bosnya dengan seenak jidatnya, pikir Ciko.
Meski bukan siapa-siapa Nanney, tetap saja rasa kemanusiaannya ikut kesal mendengarkan ucapan yang benar benar menyakitkan itu.
'Andai saja itu adik perempuan ku, tidak segan aku untuk menghajar mu, Bos. Tidak peduli jikalau kau Bos ku sekalipun.' Batin Ciko iku merasa kesal dengan ucapan dari Bosnya yang benar-benar dapat melukai hati orang lain.
Nanney yang mendengarkan ucapan yang begitu jelas lewat indra pendengarannya, ia hanya bisa menatapnya dengan penuh kebencian.
"Karena aku masih harus hidup dan membalikkan dendam Kak Gane, maka mau seperti apapun musibah nya, aku akan tetap selamat." Ucap Nanney yang kini kembali berani untuk melawan ucapan dari kakak iparnya.
"Kau! berani beraninya menantang ku." Ucap Gane dengan tatapan yang tajam, tetap saja tidak ditakuti oleh seorang Nanney yang merasa sudah cukup mendapatkan hinaan terus menerus menyerang dirinya.
"Bos! sudah Bos, lebih baik kita pulang." Ucap Ciko dengan suara yang meninggi dan kedengaran tengah membentak Bosnya sambil menarik tubuh Gane untuk mengajaknya keluar dari ruangan tersebut.
"Lepaskan, Cik. Aku harus memberi pelajaran untuk perempuan sial ini." Kata Gane yang masih menyimpan kebencian kepada adik iparnya.
Setiap melihat sosok Nanney, datanglah bayang-bayang adik laki-lakinya yang sudah tiada. Kebencian itupun terlintas dalam ingatannya.
Dalam jauh, Gane merasa ada rasa kasihan, seketika rasa kasihan pun menghilang begitu saja.
Ciko yang takut emosi Bosnya meluap dan menambah rasa kekesalannya karena sebuah kebencian yang tertanam dalam hatinya, sebisa mungkin untuk memisahkan diantara keduanya.
Saat sudah berada di luar ruang rawat, Ciko memerintahkan kembali pada Alana dan Doin untuk masuk kedalam serta menemani dan juga menghibur Nanney agar kesehatan lekas pulih.
Saat itu juga, kepalanya terasa pusing. Tidak lupa juga, Gane terus memegangi bagian kepalanya yang dirasa sakit.
"Cik, cepetan, ayo kita pulang."
"Tapi, Bos. Yakin nih, Bos Gane tidak apa-apa? apa tidak sebaiknya kita berobat terlebih dahulu?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, hanya sakit biasa." Jawab Gane dan tetap bersikeras untuk meminta pulang ke rumah daripada harus periksa kesehatan.