Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Pertemuan


__ADS_3

Nanney yang masih berada dalam mobil, tiba-tiba detak jantungnya berdegup kencang.


Bukan karena gugup, karena tak tahu apa yang harus diungkapkan tentang perasaannya. Entah harus bersedih atau bahagia, Nanney benar-benar tidak bisa untuk mengungkapkannya.


'Impian aku untuk pulang bersama Regar, kini hanyalah sebuah angan yang tak akan bisa ku jadikan nyata. Apa yang harus aku katakan pada Nenek jika aku datang tanpa suami, bahkan aku tengah hamil. Tidak mungkin juga jika aku harus mengatakan suamiku berasa dalam sel tahanan, itu tidak akan mungkin.' Batin Nanney yang mulai merasa dilema dengan apa yang tengah dipikirkan atas nasib serta keadaan yang sebenarnya.


"Nona, ayo kita turun. Bukankah kata Nona ini adalah rumah keluarga Nona?"


"Ya, Kak Ciko. Maaf, aku terbawa suasana aja." Jawab Nanney.


Kmudian, ia segera menghapus air matanya yang tidak sengaja menetes dan membasahi kedua pipinya. Ciko yang melihatnya pun, merasa iba dan kasihan saat melihat kondisi yang diterima oleh istri Bosnya yang mana tidak mempunyai kesalahan apapun dan harus menerima kenyataan yang cukup pahit dan harus ditelan paksa.


"Nona, bersabarlah. Saya akan pastikan, jika suami Nona akan segera bebas dari lapas terkutuk itu." Ucap Ciko mencoba untuk tidak membuat Nanney semakin larut dalam kesedihannya.


"Terimakasih banyak, Kak. Maaf, jika aku sudah banyak merepotkan kalian berdua." Jawab Nanney yang juga ikut merasa tidak enak hati karena sudah banyak merepotkan orang lain, pikir Nanney.


"Nona tidak perlu meminta maaf, karena kesalahan bukan berasal dari Nona. Ah sudahlah, ayo kita turun." Ucap Ciko dan segera turun dari mobil, begitu juga dengan Doin segera turun dan mengeluarkan barang-barang bawaan dari Kota.


Sedangkan dalam rumah Nenek terlihat sepi, Nanney sendiri merasa bingung lantaran tidak ada satu orang pun yang keluar dari rumah. Padahal cukup lama mobilnya berhenti, tetap saja Nanney tidak mendapatkan sosok yang selama ini dirindukan, termasuk Hennyta saudara perempuannya.


Sedangkan orang-orang yang berada di lingkungan nya pun, semua masih memperhatikan siapa yang turun dari mobil.

__ADS_1


Saat Ciko dan Doi turun dari mobil pun, semua terpesona dengan kedua cowok ganteng dan terlihat begitu matang. Semua berbisik dan membicarakan Ciko dan Doin yang benar-benar menggoda.


Setelah keduanya turun dari mobil, kini giliran Nanney turun dari mobil. Alangkah terkejutnya saat melihat sosok Nanney yang benar-benar memiliki perubahan drastis, terlihat cantik dan sangat anggun. Tidak seperti yang dikenal, penampilan yang seperti anak laki-laki.


Tetap saja, sebagian tetangga mencoba menebaknya. Karena masih tidak percaya dengan penampilan Nanney yang terlihat sangat berbeda.


"Nek Aruma, itu siapa yang datang ke rumah mu Nek? sepertinya dari Kota." Tanya seorang ibu paruh baya sambil menunjuk ke rumah Nenek Aruma.


Saat itu juga, Nek Aruma mengarahkan pandangannya ke arah rumahnya. Tentu saja tidak kalah terkejutnya saat melihat mobil serta sosok perempuan yang berpenampilan begitu anggun tengah berdiri didepan rumahnya.


"Itu Pasti Nanney, aku sangat yakin. Aku tidak pernah berbohong dengan kalian, jika Nanney pasti pulang." Jawab Nenek Aruma dengan hati yang berbunga-bunga saat mendapati rumahnya kedatangan tamu yang sangat spesial.


Tanpa pikir panjang, Nenek Aruma segera bergegas pulang ke rumahnya lantaran sudah tidak lagi sabar untuk memeluk putri kesayangannya.


Berulang kali Nanney mengetuk pintu dan memberi salam berulang kali, tetap saja tidak ada jawaban dari dalam rumah.


"Pemilik rumah sedang tidak ada di rumah, mungkin." Ucap Ciko sambil menenteng barang-barang bawaan dari Kota, yakni oleh-oleh.


"Nanney, putriku." Panggil Nenek Aruma dari belakang.


Seketika, Nanney, Ciko dan Doin membalikkan badannya.

__ADS_1


Nanney yang seperti mimpi, benar-benar tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Nanney tersenyum lebar dan langsung mendekati Nenek Aruma memeluknya.


"Nenek, Nanney sangat merindukan Nenek. Maafkan Nanney yang sudah menjadi anak yang durhaka." Ucap Nanney dengan menangis sesenggukan.


Begitu juga dengan Nenek Aruma ikutan menangis bahagia karena hadirnya sosok yang sangat dirindukan, siapa lagi kalau bukan Nanney.


"Kamu, bagaimana kabarnya? suami kamu yang mana?" tanya Nenek Aruma setelah melepaskan pelukannya.


Nanney yang mendengar pertanyaan dari Nenek Aruma, segera ia langsung menoleh ke arah Ciko dan Doin secara bergantian. Berharap, Nanney mendapatkan jawaban dari Ciko maupun Doin.


"Maaf, Nek. Sebenarnya suaminya Nona Nanney itu sibuk dengan pekerjaannya, tentu saja tidak bisa ditinggalkan. Jadi, suaminya Nona Nanney meminta saya dan teman saya ini untuk mengantarkannya. Nenek tidak perlu khawatir, suami Nona akan datang menjemput." Timpal Ciko yang akhirnya angkat bicara agar alasannya bisa diterima tanpa dicurigai.


"Sesibuk itukah suami kamu, Nak? pantas saja, kamu tidak bisa menghadiri acara pernikahan saudara kamu. Benar-benar sibuk ya, jadi orang kaya itu. Sampai-sampai sulit untuk membagi waktu sama kamu sebagai istrinya."


Nanney langsung meraih kedua tangan milik Nenek Aruma.


"Nenek, setiap kesibukan, pasti ada maksud tertentu. Mungkin saja suami Nanney sedang bersemangat untuk membangun rumah tangga menuju masa depan, Nek."


"Benar itu, Nek. Kita pun ada kabar bahagia untuk Nenek. Tapi, kita ini diajak masuk ke rumah dulu dong Nek. Kita juga haus dengan perut yang berdendang." Potong pembicaraan oleh Doin karena tidak ingin membahas yang bisa memicu pikiran istri Bosnya, pikir Doin yang ikutan khawatir.


Doin khawatir bukan karena apa, tetapi karena dirinya tidak ingin terjadi sesuatu dengan calon bayi yang ada didalam kandungan istri majikannya.

__ADS_1


__ADS_2