
Regar hanya tersenyum tipis, lantaran tidak ingin menyakiti hati istrinya dan juga Nenek Aruma yang tengah memperhatikan dirinya.
"Doakan saja, Paman." Jawab Regar, Tuan Hardika tersenyum.
Sedangkan dalam kamar, Nanney masih terus muntah. Kepalanya semakin terasa pusing dan juga badan ikut lemas, Gane semakin khawatir dengan kondisi istrinya dengan muka yang pucat.
"Sayang, kita ke Dokter saja, bagaimana? kondisi kamu sepertinya melemah. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan calon anak kita." Ucap Gane sangat khawatir.
"Aku tidak apa-apa, buatkan susu untukku." Jawabnya dan meminta untuk dibuatkan susu.
Gane yang tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, segera ia menghubungkan telponnya ke dapur untuk membawakan susu khusus perempuan hamil.
Sambil menunggu, Gane memijat istrinya agar lebih mendingan.
Tidak lama kemudian, datanglah pelayan rumah dengan membawakan segelas susu sesuai permintaan sang istri.
"Permisi Tuan, ini susunya." Ucap seorang pelayan sambil menyodorkan satu gelas susu, Gane langsung menerima.
"Terimakasih, sekarang kamu boleh pergi."
"Baik, Tuan.
Setelah itu, Gane membantu istrinya untuk minum susu.
__ADS_1
" Bagaimana, apakah masih terasa mual dan sakit?"
"Sudah mendingan, Kak. Cuman mulutku terasa hambar dan juga pait. Aku ingin makan sesuatu, tapi ...." Jawab Nanney sambil menarik napasnya pelan. Kemudian, ia membuangnya dengan pelan juga.
"Tapi kenapa, sayang? kamu pingin apa? coba katakan apa yang kamu inginkan. Nanti aku akan mencarikannya untukmu."
"Aku menginginkan buah jeruk yang masih muda, sepertinya sangat segar." Jawab Nanney, sedangkan Gane sendiri menelan ludahnya kasar karena terasa ngilu untuk membayangkannya.
"Jeruk yang masih muda? kamu serius?" tanya Gane seperti tidak percaya.
"Ya, aku serius." Jawab Nanney dibarengi dengan anggukan.
"Baiklah, nanti aku akan meminta Doin untuk mencarikan buah jeruknya. Sebelumnya kamu harus isi perutmu dulu, aku tidak ingin kamu sakit. Setidaknya makan dulu sebelum makan buah jeruk yang asam." Ucap Gane meyakinkan istrinya.
"Baiklah, jika itu permintaan kamu. Aku akan menuruti semua yang kamu mau. Ya sudah kalau begitu, sekarang juga kita bersiap-siap untuk berangkat."
Saat itu juga, senyum mereka tengah ditunjukkan oleh Nanney untuk suaminya. Terlihat begitu jelas dari pancaran matanya, bahwa Nanney telah kembali seperti gadis kecilnya dulu.
Karena tidak ingin membuang-buang waktu, Gane maupun Nanney segera bersiap-siap untuk berangkat.
Saat menuruni anak tangga, suaranya pun terdengar oleh Regar yang juga hendak masuk ke kamarnya bersama sang istri.
"Kakak, mau kemana?" tanya Regar ingin tahu.
__ADS_1
"Kakak mau pergi jalan-jalan, istriku menginginkan sesuatu di luaran sana." Jawab Gane sambil menggandeng tangan istrinya.
Tidak dapat dipungkiri, jika Regar mempunyai rasa cemburu. Sedangkan Nanney sedikitpun tidak berani mendongak, takut akan membuat mantan suaminya menatap dirinya dengan penuh kebencian. Namun, sebisa mungkin untuk menepis-nya, dan mencoba untuk sadar diri bahwa dirinya sudah memiliki istri.
Mau bagaimanapun juga, Nanney juga menyadari bahwa dirinya mempunyai kenangan yang begitu banyak dilewatkan bersama Regar. Tapi, takdir berkata lain dan kini telah dipertemukan kembali dengan lelaki yang selalu dianggapnya tempat ternyaman dimasa kecilnya, lebih lagi ingatannya telah kembali dengan sempurna.
"Nggak ngajak-ngajak nih?"
"Aw! perutku sakit, aku masuk ke kamar dulu ya Kak. Untuk Kak Nanney dan Kak Gane, aku tinggal dulu ya. Hati-hati dijalan." Ucap Henny dengan dramanya.
"Ya Hen, kamu pasti kebanyakan makan-makanan pedas. Jadi sakit kan, perut kamu."
"Ya kali ya Kak, kalau begitu aku ke kamar dulu ya Kak." Ucap Henny dan langsung pergi ke kamar tanpa peduli dengan suaminya.
"Buruan kejar istrimu, kasihan perutnya sakit." Ucap sang Kakak.
"Ya," jawab Regar dan langsung pergi ke kamarnya dengan perasaan dongkol karena ulah istrinya.
Setelah itu, Gane dan istrinya bergegas berangkat. Sedangkan Regar segera masuk ke kamarnya dan menutup pintunya cukup kuat, tentu saja mengagetkan istrinya.
"Katanya perut kamu sakit, kenapa duduk?" tanya Regar dan langsung duduk disebelah istrinya.
"Aku tidak sedang sakit, tadi hanya alasanku saja. Maafkan aku, karena aku tidak ingin ada yang mengganggu Kak Nanney dan suaminya." Jawabnya dengan jujur, tidak peduli baginya jika sang suami akan marah besar.
__ADS_1
"Kamu itu ya, bikin gagal saja." Ucap Regar dan memilih berbaring disebelah istrinya sambil menatap langit-langit kamarnya.