
Selesai makan siang, Gane dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke Kota.
Masih didalam perjalanan, Henny memilih untuk bersandar dan melihat jalanan yang sudah masuk ke jalur Kota yang begitu ramai dan juga padat penduduk serta bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.
Henny benar-benar takjub melihatnya. Meski pernah ke Kota waktu masa kuliah, tapi tidak begitu takjub seperti saat ini bersama suaminya.
Henny terus terbayang-bayang ketika sampai di rumah suaminya. Ada rasa takut dan juga gelisah.
Tidak memakan waktu yang lama, mobil pun berbelok dan memasuki halaman di kediaman keluarga Huttama. Semua yang bekerja di rumah besar itu, kini tengah menyambutnya.
Henny merasa bingung saat memasuki halaman rumah yang cukup luas dan juga dengan rumah yang terlihat begitu besar. Bahkan, seumur hidupnya baru pertama kalinya melihat secara nyata.
"Kita sudah sampai, ayo turun." Ajak Regar sambil melepaskan sabuk pengamannya.
Henny masih seperti mimpi, berulang kali dirinya menepuk kedua pipinya berulang-ulang. Takut, apa yang dilihatnya hanya hipnotis belaka.
"Kamu tidak sedang bermimpi, ini nyata. Ayo kita turun, aku sudah capek dan ingin istirahat." Ucap Regar untuk meyakinkan istrinya.
Henny yang merasa gugup, membuka sabuk pengaman saja sampai kesulitan. Regar yang melihatnya pun, ia segera membantunya.
Dengan badannya yang sedikit membusung, tentunya napasnya dapat dirasakan oleh Henny.
Saat itu juga, keduanya saling menatap satu sama lain. Henny semakin gugup dibuatnya ketika suaminya menatapnya begitu lekat. Bahkan, jaraknya begitu sangat dekat.
"Ayo kita turun." Ucap Regar membuyarkan lamunan istrinya.
"Ah, ya." Jawab Henny sedikit ada rasa takut. Regar yang melihat istrinya gugup, hanya bisa menahan tawanya.
Karena tidak ingin terjadi sesuatu hal konyol, Henny segera turun dari mobil.
Alangkah terkejutnya saat turun dari mobil. Apa yang dilihatnya masih seperti tidak percaya.
"Mas Danu, maksudnya Mas Regar. Ini rumah, beneran rumah?"
Regar langsung menoleh pada istrinya.
"Bukan, ini tempat tahanan. Dan kamu, siap-siap untuk menjadi tahanan ku." Jawab Regar menakuti.
Henny hanya tersenyum ketika mendengar jawaban dari suaminya karena pertanyaan sendiri terdengar sangat aneh, pikirnya.
__ADS_1
Saat mau masuk ke rumah keluarga Huttama, semua disambut dengan hangat oleh Tuan Hardika, David, dan juga Pak Elyam.
Begitu juga dengan Nenek Aruma, benar-benar seperti mimpi ketika memasuki halaman rumah suami Nanney dan Henny.
"Nak Gane, ini beneran rumah kamu dan Nak Regar?" tanya Nenek Aruma sambil menatap takjub dengan bangunan rumah yang terlihat begitu besar dengan luasnya halaman rumah.
"Ya Nek, ini rumah keluarga kami. Tapi ... kedua orang tua kami telah berpulang untuk selama-lamanya." Jawab Gane yang berusaha untuk tegar ketika teringat dengan kejadian yang sudah lampau.
"Maafkan Nenek yang sudah membuatmu sedih, tidak ada maksud apapun." Ucap Nenek Aruma merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa kok, Nek. Saya sudah menerimanya dengan lapang. Mungkin memang seperti inilah jalan hidup kami. Tetap bersyukur, karena saya dipertemukan kembali dengan perempuan yang sangat saya cintai. dari dulu. Tidak hanya itu saja, saya juga dipertemukan kembali dengan Regar dan orang kepercayaan keluarga kami, Pak Elyam."
Mendengar kata Elyam, ingatan Nenek Aruma kembali teringat dimana waktu itu mendapatkan amanah untuk menjaga dan menyelamatkan nyawa Nanney.
Karena tidak ingin berlama-lama didepan rumah, Gane mengajak istrinya dan Nenek Aruma untuk masuk ke rumah.
Sedangkan Regar yang sudah tidak sabar, dirinya lebih dulu masuk ke rumah bersama sang istri.
"Selamat datang, Nak ...." Sambut dari Tuan Hardika pada keponakannya yang bernama Regar dengan perasaan haru dan memeluknya dengan erat bercampur bahagia.
Keponakan yang disangka tidak dapat diselamatkan, nasib baik telah menimpa sosok Regar.
"Kabar Regar sangat baik, Paman. Soal yang sudah berlalu, biarkan berlalu dan lupakan saja, Pama. Lebih baik sekarang ini kita buka lembaran baru lagi." Jawab Regar.
"Ya, Nak. Paman dengar bahwa kamu sudah menikah, benarkah? mana istrimu?" ucap beliau dan bertanya karena ingin mengetahui kejujuran dari keponakannya.
"Ya, Paman. Regar suda menikah." Jawab Regar. Kemudian, Regar menoleh ke belakang. Setelah itu, tangannya meraih tangan istrinya dan menggandengnya.
"Perkenalkan, perempuan yang ada dihadapan Paman ini namanya Henny, istri Regar." Ucap Regar memperkenalkan sang istri.
Henny yang diperkenalkan oleh sang suami, terasa malu ketika berhadapan dengan keluarga suaminya.
"Henny, nama yang secantik orangnya dan kalian berdua sangat serasi. Perkenalkan, saya Pamannya Regar, panggil saja Paman Hardika."
"Ya, Paman." Jawab Henny dengan gugup. Bahkan bingung ketika mau menjawab pertanyaan.
Setelah itu, giliran ke Pak Elyam. Regar memeluk erat pada Beliau, yang diketahui orang kepercayaan dari keluarga Huttama. Tapi kepercayaan beliau disingkirkan karena adanya kerakusan pada diri Tuan Prasetyo yang kurangnya bersyukur dengan apa yang didapatkannya.
"Kak Regar, apa kabarnya?" sapa David dan tak lupa untuk memeluk sang kakak.
__ADS_1
"Kabarku sangat baik dan seperti yang kamu lihat, bagaimana denganmu? rupanya kamu bukan putranya Paman Prasetyo. Pandai juga selama ini kamu berbohong padaku."
David yang mendengarkan nya pun, tertawa ketika jati dirinya dapat diketahui oleh sang kakak.
"Kabarku sangat baik, Kak. Seperti yang Ka Regar lihat. Soal aku anaknya Ayah Hardika, memang sudah rencana Paman Prasetyo dari awal agar tidak di curigai. Itu semua sebuah ancaman untuk melenyapkan aku. Mau tidak mau, Papa mengikuti perintah dari Paman Pras. Kenapa aku bisa tahu? saat itu aku mendengarkan pembicaraan dari Ayah dan Paman. Oh ya, perempuan yang ada di samping Kakak ini, istrinya Kak Regar? benarkah?"
"Ya. Kenalkan, namanya Henny." Jawab Regar memperkenalkan istrinya pada saudara sepupunya.
"Hai Kakak cantik, perkenalkan namaku David. Aku adik sepupunya Kak Regar. Panggil saja, David." Ucapnya memperkenalkan diri dan tak lupa mengulurkan tangannya.
Henny menerima uluran tangan dari saudara sepupu suaminya, keduanya saling berjabat tangan.
"Jangan lama-lama, nanti bisa menjadi kebiasaan." Ucap Regar yang langsung melepaskan tangan istrinya yang tengah berjabat tangan sepupunya.
Saat itu juga, Regar mengajaknya masuk ke kamar. Tentunya, untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Dan kini giliran Gane bersama istrinya dan Nenek Aruma masuk ke rumah dan disambut hangat oleh Tuan Hardika, Pak Elyam, dan juga David.
Saat giliran Pak Elyam bertemu dengan Nenek Aruma, tiba-tiba ingatan pada keduanya kembali teringat saat menyelamatkan Nanney.
"Ibu Arum, benarkah ini Anda? yang sudah saya mintai bantuan untuk membesarkan dan merawat putri teman saya?"
"Benar, Pak Elyam. Ini gadis kecil yang Bapak titipkan kepada saya. Kami memberinya nama, Nanney. Sekarang sudah tumbuh dewasa dan juga sudah menjadi istri dari Nak Gane. Saya sendiri benar-benar tidak menyangka, jika mereka benar-benar berjodoh." Jawab Nenek Aruma.
Nanney yang sudah mengingat semuanya, kini menyapa Pak Elyam. Sikap manjanya yang dulu kini telah berubah menjadi rasa malu.
"Apa kabarnya Nak Clara? maafkan Bapak waktu itu yang sudah memisahkan kamu dengan Kakakmu, karena Bapak tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk padamu." Sapa Pak Elyam sekaligus meminta maaf karena merasa bersalah.
"Kabar saya sangat baik, Pak. Bapak tidak perlu meminta maaf. Justru, saya lah yang harus mengucapkan banyak terimakasih kepada Pak Elyam yang sudah menyelamatkan nyawa saya." Jawab Nanney.
"Bapak do'akan, semoga kamu dan Nak Gane bahagia dan langgeng dalam berumah tangga." Ucap Pak Elyam.
Nanney mengangguk dan tersenyum.
Setelah itu, Gane mengajak istrinya masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Berbeda dengan Ciko dan Doin, keduanya memilih untuk kembali ke rumah yang ditempati oleh keduanya agar bisa beristirahat dengan puas.
Sedangkan Nenek Aruma, Beliau diantarkan ke kamarnya. Betapa bahagianya ketika di sambutnya dengan hangat oleh keluarga suami Nanney dan suami Henny.
__ADS_1
Bagai mendapatkan durian runtuh, pikir Nenek Aruma yang tidak pernah terbesit dalam pikirannya.