Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Berusaha untuk kuat


__ADS_3

"Baik, Tuan. Saya akan terus mengawasi keberadaan Nona, istri Tuan." Jawab Doin.


Karena waktu yang tidak bisa berlama-lama berada di lapas, Doin berpamitan untuk segera pulang.


Di rumah sakit, Nanney masih ditemani Bunda Sere. Keduanya tampak akrab, bak keluarga sendiri.


"Tante, kapan kita pulang?" tanya Nanney sambil duduk bersandar dengan kaki yang diluruskan.


Bunda Sere berjalan mendekat dan dibarengi dengan senyuman yang ramah.


"Besok pagi kamu sudah diperbolehkan untuk pulang. Kenapa? apakah kamu sudah merasa bosan di tempat seperti ini?" jawab Bunda Sere dan balik bertanya.


"Ya, Tante. Nanney sudah merasa bosan berada di rumah sakit ini, rasanya ingin cepat-cepat pulang."


Saat itu juga, David bersama ayahnya telah datang.


"Kak Nanney, apa kabarnya? bagaimana keadaan Kakak?" sapa David menanyakan kabar dari kakak iparnya.


"Kabar ku baik, hanya merasa sedikit tidak enak badan." Jawab Nanney dengan senyum ramah.


"Syukurlah. Kata Mamaku, Kakak hamil, ya? selamat ya Kak, semoga Kak Nanney selalu diberi kesehatan. Ngomong-ngomong Kak Gane sudah mengetahuinya atau belum, Kak? kalaupun belum, segera beri kabar untuk Kak Gane. Aku yakin kalau Kak Gane akan merasa sangat bahagia mendengarnya, itu sudah pasti."


Nanney yang mendengarnya pun, hanya tersenyum tipis. Bingung harus menjawab apa, karena hadirnya sang buah hati bukan berawal dari kata cinta, melainkan hanya karena sebuah na*fsu semata, pikirnya dalam dilemanya.


Bunda Sere yang mengerti dengan apa yang dirasakan oleh istri keponakannya, kemudian memeluknya.


David yang merasa bersalah atas ucapannya, ia segera berjalan mendekati Kakak Iparnya.


"Kak Nanney, maafin omonganku yang barusan ya Kak. Serius, aku tidak bermaksud apapun dengan Kakak." Ucap David yang merasa bersalah atas ucapannya itu.

__ADS_1


"Tidak ada yang salah, ucapan dari kamu memang benar. Besok, aku akan menemui Kak Gane. Aku akan berterus terang dengannya, Kak Gane berhak untuk mengetahuinya." Jawab Nanney meyakinkan yang ada disekelilingnya.


Bunda Sera maupun Tuan Pras pun, tersenyum bahagia mendengarkannya. Begitu juga dengan David, ia ikut tersenyum.


"Sudah malam, waktunya untuk istirahat. Jadi, lebih baik kamu beristirahat telebih dahulu. Besok pagi kamu akan ditemani Ibunya David, maka dari itu beristirahatlah." Ucap Tuan Pras ikut menimpali dan meminta kepada istri keponakannya untuk segera beristirahat.


Waktu pun sudah hampir larut malam, Nanney ditemani oleh Tuan Pras bersama anak dan istrinya di rumah sakit.


Setelah itu, Tuan Pras bersama David segera pulang. Tidak mungkin juga untuk menginap di rumah sakit, karena tidak ingin mengganggu istri keponakannya yang tengah hamil muda.


Berbeda lagi di lapas, tempat dimana dikumpulkannya dengan orang-orang yang bermasalah. Siapa lagi kalau bukan Gane dan yang lainnya, termasuk anak buahnya. Hanya saja, Gane terpisah tempatnya dengan beberapa anak buahnya.


Semakin penat memikirkan istrinya, lagi-lagi Gane sulit untuk memejamkan kedua matanya sekedar untuk bisa tidur. Tetap saja, Gane begitu kesulitan. Bayang-bayang istrinya terus menghantui pikirannya.


Kegelisahan yang terus dirasakan oleh Gane, akhirnya memilih untuk duduk bersandar sambil merenungi nasibnya yang sekarang.


Begitu remuk hatinya, harus berpisah dengan orang-orang dekatnya. Cukup sakit rasanya harus kehilangan kedua orang tuanya dan gadis kecil yang disayanginya.


Sedih, itu sudah pasti. Dan kini, dirinya harus menyakiti hati istrinya serta untuk berpisah.


Berulang kali Gane mengacak rambutnya yang tidak gatal. Berharap, rasa penat yang bersemayam di kepalanya itu segera pergi, pikirnya.


"Kau kenapa lagi, Bro?" tanya Iswan yang akhirnya memilih ikutan duduk di sebelah Gane sambil bersandar pada tembok.


"Aku benar-benar tidak bisa tidur, aku kepikiran dengan istriku. Aku sudah banyak menyakiti hatinya. Bahkan, aku sudah membuatnya kecewa." Jawab Gane yang akhirnya mengakui atas kesalahan yang sudah diperbuatnya.


Iswan menepuk pundak bagian kiri, Gane langsung menoleh padanya.


"Memangnya, kesalahan apa yang sudah kamu perbuat pada istrimu?" tanya Iswan sedikit ragu jika Gane akan menjawabnya dengan jujur.

__ADS_1


"Ceritanya sangat panjang, aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Kalau aku ada waktu yang cukup untuk bercerita, aku akan menceritakannya padamu."


"Santai saja, tidak perlu terburu-buru. Sudahlah, ayo kita lanjutkan tidurnya. Untuk memikirkan masalah yang sedang menimpa kita, sejenak kita abaikan dulu." Kata Iswan mengajaknya untuk melanjutkan tidurnya.


Gane yang tidak mempunyai pilihan, akhirnya nurut dengan ajakan teman dalam satu sel tahanan.


Tidur seadanya, tak seperti yang biasa ia rasakan bersama sang istri. Kini nasibnya begitu tragis bak mimpi buruk.


Gane memang memejamkan kedua matanya, tetapi hati dan pikirannya tetap terjaga dari kesadarannya.


'Maafkan aku, Nanney. Maafkan atas perbuatan ku yang sudah menghancurkan hidupmu. Bahkan, aku sudah merebut kebebasan mu. Sungguh, aku sangat menyesalinya. Andai saja aku tersadar sebelum masuk bui, mungkin saja aku tidak akan merasakan seperti ini.' Batin Gane dengan mata yang terpejam.


Ingin meluapkan segala penyesalannya, sebisa mungkin untuk menutupi dari orang-orang yang berada dalam satu ruangan.


Napas yang terasa panas kini mulai memburu, bahkan otaknya saja terasa mendidih. Semampunya Gane untuk menerima konsekuensi nya.


Rasa kantuk yang begitu sulit untuk ditaklukkan, lambat laun kedua matanya pun ikut terpejam dengan sendirinya. Dengkuran saling menyahut satu sama lain, sedikitpun tidak membuatnya terganggu.


Begitu juga dengan Nanney, dengan kondisinya yang sedang hamil muda ikut merasa kesepian. Malam yang selalu ditemani oleh suaminya, kini berakhir dengan kesepian.


Meski pada malam hari sering ditinggal pergi oleh suaminya, Nanney masih bisa bertemu di pagi hari. Sedangkan saat ini, jangan pagi hari, untuk kembalinya malam saja terasa begitu lama.


Tidak dapat untuk dipungkiri, meski tak ada kata cinta yang terucap melalui bibir suaminya, Nanney masih bisa merasakan perhatian kecil darinya.


Sambil mengganti posisi tidurnya, Nanney meneteskan air mata sambil mengusap perutnya yang sudah ada nyawa kedua didalamnya.


Bukan lagi Regar yang berada dalam ingatannya, tetapi suami keduanya yang selalu muncul di benaknya.


'Kak, aku ingin sekali bertemu denganmu, aku ingin menyampaikan kabar ini padamu. Aku pun tidak tahu, kabar bahagia untukmu atau kabar buruk, aku benar-benar dilema untuk memikirkan nya.' Batin Nanney, kemudian mengusap air matanya yang sedari tadi menetes dan membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


Takut akan ketahuan oleh Bunda Sere, Nanney langsung menghentikan tangisnya. Sekuat dan semampunya, Nanney mencoba untuk memejamkan kedua matanya agar bisa terlelap dari tidurnya dan sejenak dapat melupakan masalah yang sedang menimpanya.


__ADS_2