Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Kejujuran


__ADS_3

Selesai membersihkan diri, Nanney kembali masuk ke kamarnya. Setelah itu, dilanjut giliran Gane masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sedangkan Regar sendiri hanya mencuci muka dan menggosok gigi, tak ada kecurigaan apapun tehadap kakaknya maupun Nanney. Pasalnya, saat masuk ke kamar, Regar baru saja keluar dari kamarnya.


Ciko dan Doin yang masih berada dalam kamar, keduanya segera bangun dan mencuci mukanya. Begitu juga dengan Nenek Aruma yang rupanya sudah bangun dari tidurnya, dan kini Beliau tengah menemani Henny yang sedang sibuk membuatkan kopi panas untuk suaminya dan yang lain.


Selesai membersihkan diri, badan milik Gane terasa segar dan jauh lebih enakan. Tidak ada kegiatan apapun, Regar, sang kakak, Ciko dan Doin tengah menikmati secangkir kopi panas dan ditemani dengan ubi goreng sambil mengobrol.


Begitu juga dengan Nanney, dirinya ikut membantu Henny dan Nenek Aruma yang sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


Di ruang tamu, Gane menikmati secangkir kopi panas dan ditemani ubi goreng dan juga kedua anak buahnya serta adik laki-lakinya.


Sambil mengunyah, Gane mulai berpikir untuk berterus terang pada adiknya.


"Kak Gane," panggil Regar setelah menyeruput kopi panasnya.


"Ya, ada apa?" sahutnya dan bertanya sambil mengunyah ubi goreng.


Sedangkan Ciko dan Doin sama-sama menoleh pada Gane dan Regar yang terlihat seperti akan membicarakan sesuatu. Kemudian, keduanya saling menatap satu sama lain sambil memikirkan sesuatu yang akan terjadi antara adik dan kakak, pikir Ciko dan Doin disertai dengan perasaan cemas tentunya.


"Bagaimana kabar Paman Prasetyo, Tante Sere, David, Paman Hardika dan Vandu?" tanya Regar saat teringat dengan anggota keluarganya.


"Kabar mereka baik-baik saja, hanya saja ...," jawab Gane dan menggantungkan kalimatnya.


"Hanya saja, apa Kak?" tanya Regar karena rasa penasarannya yang ingin tahu.


"Paman Prasetyo, Tante Sere dan Vandu berada di sel tahanan karena perbuatannya itu." Jawab Gane.


Kemudian, ia meraih secangkir kopi panasnya dan menyeruput beberapa kali.


"Mereka di penjara? kasus apa memang? kenapa mesti Vandu, bukan David yang jelas-jelas anaknya Paman Prasetyo."


Gane yang tidak ingin menyembunyikan sesuatu pada adik laki-lakinya, Gane meletakkan cangkirnya dan pindah posisi dari tempat duduknya.


Ketika posisi duduknya sudah berdekatan, Gane mulai menceritakan segala sesuatunya dengan cukup detail dan tidak ada yang terlewatkan. Hanya saja, kebenaran tentang dirinya sendiri mengenai pernikahan masih disembunyikan dari adiknya.


Alangkah terkejutnya saat Regar mendengarkan apa yang diceritakan oleh sang kakak begitu jelas dan gamblang dalam menyampaikan kebenaran.


"Jadi, dalang semuanya adalah Paman Prasetyo? benar-benar bia*dab." Ucap Regar dengan umpatannya.


"Ya, Kakak aja baru mengetahuinya setelah Pak Elyam sudah kembali." Kata Gane sambil memijat pelipisnya.

__ADS_1


Gane masih terus memikirkan sesuatu yang mengenai pernikahannya bersama Nanney. Rasa takut pun mulai muncul secara tiba-tiba.


"Kak Gane kenapa? kok, kelihatan pucat. Kakak sedang tidak sakit, 'kan? atau ... aku antarkan je klinik, bagaimana?"


"Tidak perlu, Kakak baik-baik saja kok. Mungkin karena semalam Kakak duduk di teras depan rumah ditemani hujan dan juga angin, wajar saja jika di pagi hari terlihat seperti orang sakit." Jawab Gane beralasan, padahal dirinya terasa penat untuk berkata jujur dan berterus terang pada adiknya.


"Bener ya, jika Kakak tidak kenapa-kenapa. Aku takut, jika Kak Gane memang beneran sakit."


"Kamu tenang saja, kalau Kakak memang benar-benar sakit, Kak Gane langsung pergi berobat."


.


.


.


Setelah banyak sesuatu yang dibicarakan, tidak terasa sudah waktunya untuk sarapan pagi.


"Cik, Doin, kalian tidak mandi?" tanya Gane mengganti topik obrolan.


"Ah ya ya, kita berdua belum mandi ya, Cik." Sahut Doin yang menyadari jika dirinya belum juga membersihkan diri dan dengan santainya duduk bersama sambil menikmati secangkir kopi panasnya.


Karena harus bergantian untuk masuk ke kamar mandi, Ciko yang lebih dulu untuk membersihkan diri. Kemudian, dilanjut oleh Doin dan Regar.


Saat itu juga, Nanney yang tengah membawa semangkok semur ayam, Regar sudah berdiri dihadapannya.


"Sini, biar aku yang membawakannya." Ucap Regar sambil meraih mangkok yang ada pada Nanney.


"Tidak perlu, aku masih bisa untuk melakukannya. Lebih baik kamu duduk saja bersama Kak Gane, ini pekerjaan perempuan." Jawab Nanney menolak.


Saat itu juga, rupanya Gane sudah berdiri didekat adiknya dan langsung menyambar mangkok yang berisi semur ayam di tangan istrinya.


"Biar aku saja, minggir." Timpal Gane yang langsung membawakan semangkok semur ayam ke ruang makan.


Regar yang kalah cepat dari sang kakak, akhirnya membuang napasnya dengan kasar.


"Mau sampai kapan kamu akan terus cuekin aku seperti ini, sayang? ayolah kita berdamai. Aku ini suami kamu, dan kamu itu istriku." Ucap Regar yang merasa diasingkan oleh Nanney.


Sedih, itu sudah pasti. Tapi, mau bagaimana lagi. Regar hanya bisa pasrah, karena dirinya merasa bersalah karena pernikahannya dengan Henny, pikirnya.


"Sudah aku katakan, kamu bukan suamiku lagi. Tetapi, kamu adalah suaminya Henny adikku." Jawab Nanney yang terus membenarkan.

__ADS_1


"Henny, Henny, kenapa mesti Henny terus yang kamu bahas? aku akan menceraikannya secepat mungkin. Aku akan membuktikannya padamu, bahwa akulah suamimu." Ucap Regar yang tetap pada keteguhannya.


Tanpa disadari oleh keduanya, jika Henny tengah mendengarkan obrolan suaminya bersama sang kakak.


'Sepertinya Mas Danu sangat mencintai Kak Nanney, terlihat jelas pengakuannya sama Kakak.' Batin Henny yang masih menyebut suaminya adalah Danu.


Tidak dapat dipungkiri, jika Henny merasa cemburu ketika suaminya begitu terlihat mencintai kakak perempuannya.


Buru-buru Henny segera menyingkir, takut jika ketahuan oleh suaminya maupun sang kakak jika dirinya telah menguping.


"Kamu kenapa? cemburu? kakak kamu sudah bersuami, kamu tidak perlu takut untuk kehilangan suami kamu. Percayalah sama Nenek. Jika kamu dan Danu berjodoh, apapun yang terjadi akan terus bersama." Ucap Nenek Aruma ketika mendapati Henny tengah bersedih setelah mendengarkan perbincangan antara suaminya dan kakaknya.


"Henny tidak tahu Nek, Henny pasrah." Jawab Henny dengan pasrah.


"Bersabarlah." Kata Nenek Aruma.


Kemudian, Henny segera menyiapkan sarapan pagi ke meja makan.


Sedangkan Nanney yang malas untuk berdebat dengan Regar, dirinya lebih memilih untuk menyibukkan diri sambil menyajikan sarapan pagi.


Setelah semuanya sudah tersaji di meja makan, Nanney memanggil suaminya dan yang lain untuk sarapan pagi.


Henny dan Nenek Aruma sudah duduk lebih dulu dengan posisi seperti biasa. Berbeda dengan Gane dan Regar, justru sekarang Regar yang duduk didekat Nanney.


Gane terus memperhatikan istrinya yang tengah duduk berdekatan. Bahkan sangat dekat jarak diantara keduanya.


Cemburu, itu sudah pasti. Tapi, Gane tak mampu untuk melarang adiknya agar tidak duduk didekat istrinya. Mau tidak mau, Gane hanya bisa memandangi pemandangan yang cukup panas untuk dilihat.


Tidak hanya Gane saja yang merasa cemburu, rupanya Henny sama halnya menyimpan kecemburuan nya itu pada suaminya.


Regar yang memang merasa bahwa Nanney adalah istrinya, terlihat jelas perhatiannya.


Nanney yang merasa risih, sedari tadi hanya bisa mengarahkan pandangannya pada sang suami.


"Sini, biar aku yang akan menyuapi kamu." Ucap Regar sambil meraih piring milik Nanney.


"Jangan, aku bisa melakukannya sendiri. Aku sedang tidak sakit, aku bisa menyuapi diriku sendiri." Jawab Nanney yang mempertahankan piringnya dan langsung menyendoki makanan nya.


Saat itu juga, Regar langsung memegangi kedua pundak milik Nanney dan menatapnya dengan serius.


"Kamu itu kenapa sih, sayang? aku ini suami kamu. Apa ada yang salah denganku, aku hanya ingin memberi perhatian penuh padamu."

__ADS_1


"Karena aku bukan istrimu lagi, dan kamu bukan suamiku. Istrimu adalah Henny, adikku. Sedangkan aku istri Kakakmu yang sebenarnya. Dan calon bayi yang ada dalam kandunganku ini adalah anak dari Kak Gane, Kakak kamu sendiri." Jawab Nanney dengan reflek yang tanpa sadar jika dirinya berterus terang dengan Regar.


Seketika, Regar yang mendengarkan nya bagaikan tersambar petir di siang bolong saat mendengar jawaban dari Nanney yang dianggap masih istrinya.


__ADS_2