
Makanan yang dipesan telah datang, kedua mata Nanney langsung berbinar ketika melihat makanan kesukaannya telah tersaji didepan mata.
"Kak Ciko, kak Doin, kenapa kalian berdua duduknya di situ? aku sendirian nih."
"Maaf Nona, kita berdua duduk di sini saja." Sahut Ciko dengan jarak yang tidak jauh dari tempat duduknya Nanney.
"Kalau Kak Ciko sama Kak Doin tidak mau duduk disini, aku tidak mau makan." Ucap Nanney dengan memasang muka yang cemberut.
Ciko dan Doin yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau akhirnya menuruti permintaan dari Nanney.
"Sudahlah Cik, turuti saja permintaannya. Lagian Tuan Gane tidak lihat, mana istrinya sedang hamil juga. Kalau mogok makan, bagaimana? kita yang akan mendapat sial." Bisik Doin agar tidak terdengar oleh istri majikannya.
"Ya juga ya, Doin. Enak ya Bos Gane, yang una una dia, yang repot kita." Jawab Ciko yang juga ikutan berbisik.
"Emang kamu mau, nasibmu seperti Tuan Gane. Kamu dipenjara dengan keadaan istri yang sedang hamil? aku rasa kamu tidak akan pernah mau."
"Dih, amit-amit. Jangan sampai deh, mendingan yang aman-aman aja."
"Kak Ciko, Kak Doin, kalian berdua ngomongin apaan sih? besok aku adukan loh sama Kak Gane."
__ADS_1
Nanney yang merasa tidak sabar, akhirnya mengeluarkan jurus untuk menakutinya. Doin maupun Ciko segera berpindah tempat duduknya.
"Kak Ciko."
"Ya, ada apa Nona?"
"Kira-kira Kak Gane masih lama tidak, tinggal di lapasnya."
"Maaf Nona, lebih baik sekarang Nona makan aja dulu. Pertanyaan nya disimpan dahulu, karena kita akan melanjutkan perjalanan lagi."
"Kak Ciko kenapa sih, perasaan dari tadi menghindar dari pertanyaan ku terus deh. Kak Ciko sedang tidak menyembunyikan sesuatu, 'kan? soalnya aku takut terjadi sesuatu pada Kak Gane."
"Nona, habiskan dulu makanannya."
'Maafkan aku Nona, jika aku selalu menghindari pertanyaan dari Nona. Aku takut, jika penantian Nona tidak sesuai harapan. Setidaknya ada titik terang terlebih dahulu, baru aku bisa menjawab pertanyaan dari Nona. Aku hanya tidak ingin menjadi orang ingkar dan memberi jawaban yang salah, hanya itu saja.' Batin Ciko sambil menikmati makanannya.
Tidak memakan waktu satu jam, Nanney telah menghabiskan makanannya. Kemudian ketiganya melanjutkan perjalanan menuju Kampung halaman yang sudah lama tidak pernah Nanney datangi sejak sibuk dengan karirnya bersama Regar, suami pertamanya.
Dalam perjalanan, Nanney kembali bersandar sambil memejamkan kedua matanya. Berharap ketika bangun sudah berada di depan rumahnya.
__ADS_1
Sedangkan Gane yang berada dibalik jeruji besi, dirinya duduk termenung tak bersemangat. Pikirannya kembali pada istrinya, yang mana dirinya tidak sabar untuk bebas dari tempat yang sangat terkutuk, pikirnya.
"Bro, kamu kenapa lagi? bukankah kemarin baru saja bertemu dengan istrimu?"
"Aku merasa tidak ada guna menjadi seorang suami, aku telah gagal." Jawab Gane masih dengan posisi menunduk.
"Seharusnya kamu itu mulai berpikir mengenai kasus kamu yang belum ada titik terangnya. Kalau kamu terus-terusan seperti ini, kamu akan bertahan di tempat ini sangat lama."
"Aku frustrasi, Bro. Begitu sulit bagiku untuk mengungkap kebenaran, aku tidak tahu harus berbuat apa. Yang selalu muncul dalam pikiran ku itu, istriku dan istriku. Selama ini aku selalu menyakiti hati istriku, tanpa aku berpikir bahwa istriku adalah perempuan yang harus aku jaga dan aku beri perhatian." Kata Gane penuh penyesalan.
Iswan menepuk punggungnya pelan.
"Bersabarlah, kamu pasti bisa melewatinya dengan baik. Yang harus kamu lakukan adalah, pikirkan bagaimana caranya agar kamu bisa bebas dari tahanan ini. Ingat, bayangkan ada calon anakmu yang sangat membutuhkan figur seorang ayah. Kamu akan segera mempunyai anak, sosok bayi yang akan memanggilmu dengan sebutan Ayah ataupun Papa."
Gane mengangguk pelan. Kemudian, ia menarik napasnya yang terasa berat dan membuangnya dengan kasar.
"Terimakasih banyak ya, Bro. Aku akan ikuti saran dari mu."
Setelah merasa lega ketika mendapatkan saran dari teman satu ruangan di lapas, Gane mulai memikirkan bagaimana caranya untuk segera bebas dari tahanan yang sangat terkutuk.
__ADS_1
Sedangkan dijalanan, kini Ciko yang menggantikan posisi Doin. Dengan kecepatan sedang, Ciko melajukan mobilnya. Takut istri majikannya akan terbangun, serta mengganggu ketegangan saat dalam mode kecepatan tinggi.
Cukup lama dalam perjalanan, akhirnya Nanney bersama kedua anak buah suaminya telah sampai di Kampung halamannya. Nanney masih tertidur pulas bersandarkan jendela kaca mobil.