
Di kediaman Nenek Aruma, Nanney tengah menunggu kabar dari Ciko karena rasa kekhawatirannya didalam kamar. Takut, jika akan ada yang melihatnya.
Dengan perasaan gugup, Nanney berusaha untuk tetap tenang. Berulang kali Nanney melihat layar ponselnya, tetap saja tak ada pesan masuk ke nomornya.
Frustrasi karena tak ada respon dari suaminya, Nanney memilih keluar dari kamar untuk menemui Nenek Aruma dan adik perempuannya.
Saat itu juga, ponselnya telah bergetar, menandakan bahwa ada yang mengirimkan pesan kepadanya.
Senyum merekah tengah menghiasi kedua sudut bibirnya, diraihnya ponsel yang berada di atas meja dan dilihat pesan masuk dari siapa orangnya.
"Kak Ciko, akhirnya mengirimkan juga pesan kepadaku." Gumam Nanney dibarengi dengan senyum melebar.
Rasa tidak sabar ingin menyapa suaminya dan melihat keadaan sang suami, Nanney langsung menyentuh panggilan video.
Sambungan video telah masuk ke nomor panggilan video milik Ciko, Nanney terus menunggu sampai sang suami menerima panggilan darinya.
Didalam ruang rawat pasien, Gane masih bingung antara menerima panggilan video dari istrinya. Pikirannya terus tertuju pada setiap kesalahan yang sudah ia lakukan kepada sang istri.
Merasa hina dan merasa sangat bersalah, Gane tak mampu untuk menerima panggilan Video dari istrinya sendiri.
Ciko yang geram melihat Bosnya yang tak kunjung menerima panggilan video dari istrinya. Cepet kilat, ia langsung merampas ponselnya ditangan Gane dan langsung menerima panggilan dari istri Bosnya itu.
Saat itu juga, Ciko langsung menyodorkan ponselnya pada Gane dibarengi anggukan. Gane menerimanya dan menatap langsung wajah sang istri dibalik layar ponselnya yang jauh di Kampung halaman.
__ADS_1
"Kak Gane, bagaimana kabarnya?" sapa Nanney dengan senyumnya yang manis.
Gane terdiam dan seperti tidak percaya jika istrinya adalah gadis kecil yang selalu rindukan. Benar saja, gadis kecilnya dulu selalu ceria dan tanpa menunjukkan kesedihannya. Dan kini ia melihat pada sosok istrinya sendiri, yang mana tak pernah menunjukkan kesedihannya.
Rasa rindu yang sekian lama ditunggu, kini rasa rindu itupun berubah menjadi rasa sakit.
"Kabarku seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana ?" jawab Gane dan balik menyapa. Senyum tipis sekedar untuk tidak membuat istrinya cemas, pikirnya.
"Kabarku sangat baik, Kak Gane tidak mau menyapa calon anak Kakak?" jawabnya. Kemudian Nanney mengalihkan pembicaraannya pada calon bayi yang sedang ia kandung.
Nanney sengaja membahasnya karena ingin sekali mengetahui reaksi suaminya. Walaupun sudah mendapatkan respon ketika bertemu, kini dirinya ingin mengetahui respon dari suaminya lagi untuk memastikannya.
Gane tersenyum lebar ketika mendengar pertanyaan dari sang istri. Ciko dan dan Doin ikut tersenyum saat mendengar obrolan dari Bosnya dengan istrinya.
Ciko dan Doin yang baru menyadari keberadaan nya di hadapan Bosnya yang sedang mengobrol bersama istrinya, keduanya segera keluar dari ruangan pasien untuk memberi waktu leluasa pada Bosnya.
Kini, tinggal lah Gane sendirian didalam ruang rawat pasien ditemani sang istri lewat sambungan video.
"Walau hanya satu kalimat atau dua kalimat saja, apakah Kakak tidak ingin menyapa calon bayi kita?"
Dengan wajah yang dibuat cemberut, rupanya telah membuat suaminya tertawa.
"Kenapa Kakak tertawa? ada yang lucu kah? aku rasa sih tidak."
__ADS_1
Nanney masih dengan eksprainya yang dibuat cemberut.
"Baiklah, aku akan menyapa calon anakku. Maksud aku anak kita berdua. Tapi ... aku harus menyapanya yang bagaimana?" Kata Gane yang merasa canggung.
Bagaimana tidak canggung, pernyataan cinta saja tidak pernah ia lontarkan pada istrinya. Dan kini, dirinya akan segera menjadi seorang ayah dari anak yang sedang di kandung oleh istrinya yang tidak menerima ungkapan perasaan cinta darinya.
Konyol, tentu saja sangat konyol, pikir Gane. Mempunyai anak tanpa rasa cinta, bagai meminum air asin dalam wadah kobokan sendiri.
"Kak Gane kenapa melamun? ya sudah kalau tidak mau menyapa, aku matikan saja panggilan video-nya."
Nanney yang merasa kecewa, akhirnya ia mengancam suaminya akan mengakhiri panggilan video-nya.
"Aku hanya sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu, aku ingin memanjakan mu dan calon anak kita. Tidak hanya itu saja, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, tapi tidak untuk sekarang. Nanti, jika aku sudah dibebaskan dari lapas." Jawab Gane dengan serius.
"Memangnya apa yang ingin Kakak katakan padaku? kenapa tidak sekarang saja."
"Tidak, aku membutuhkan momen dan waktu yang pas untuk mengatakannya padamu." Jawab Gane dan tersenyum tipis.
"Ya tidak apa-apa, jika Kakak belum siap untuk mengatakannya padaku."
Kata Nanney yang sebenarnya penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh suaminya itu. Mau bagaimanapun, dirinya tak ingin memaksakan nya.
Di rumah Nenek Aruma, Nanney pun merasa sangat dilema, ingin berterus terang dan menceritakan semuanya, dirinya tak mampu untuk melakukannya.
__ADS_1
'Sebenarnya aku ingin mengatakan, jika adik laki-laki mu berada dalam satu rumah denganku. Tapi, aku tidak mungkin untuk mengatakannya langsung padamu. Tentu saja, semua akan menjadi masalah besar dan yang ada tidak fokus untuk menyelesaikan kasus mu sendiri, Kak.' Bayi Nanney dengan dilema.