
Nanney yang tidak ingin sakit kepalanya bertambah rasa sakitnya, akhirnya segera diminum obat dari suaminya. Rasa penasaran pada suaminya sendiri, Nanney kembali menoleh pada suaminya.
'Aku jadi penasaran, sebenarnya kehidupan Kak Gane itu seperti apa?' batin Nanney dengan rasa penasarannya.
Saat itu juga, Nanney kembali teringat pada seseorang.
'Kak Ciko, ya! Kak Ciko lah yang bisa menjelaskan semuanya padaku. Aku akan merayunya untuk menceritakan semuanya, termasuk sosok gadis kecil yang disayanginya itu. Seberapa besar rasa cintanya yang Kak Gane punya.' Batinnya setelah mendapat ide untuk mengorek tentang suaminya.
Karena takut bangun kesiangan, akhirnya Gane memilih untuk kembali tidur. Sebelumnya, Nanney meletakkan gelasnya di atas nakas, tepatnya di sebelah tempat tidur.
Namun, rasa yang tidak enak pun telah muncul didalam pikirannya. Setelah dipikirkan lagi, Nanney tidak peduli dengan suaminya yang tengah tidur di sofa.
'Biarin aja lah, emang aku pikirin. Lagian juga utu orang kalau marah tidak tanggung-tanggung. Biarin ajalah, mau tidur di manapun juga terserah.' Batin Nanney yang malas untuk peduli pada suaminya, ia lebih memilih kesehatan nya sendiri.
Sedangkan Gane yang merasa tidak nyaman saat tidur di sofa, akhirnya ia memilih untuk berpindah tempat. Tidak peduli baginya tidur dengan siapa, yang terpenting baginya bisa tidur dengan nyenyak.
Sudah menjadi kesepakatan, bahwa kamar Ciko hanya bisa ditempati pemiliknya dan yang mendapatkan izin. Sedangkan Gane tidak berani untuk menempatinya, apapun alasannya. Jikalau hanya sekedar menumpang mandi dan tiduran, Ciko tidak mempermasalahkan nya. Tetapi untuk tidur semalaman, Ciko tidak pernah mengizinkannya.
Rasa kantuk dan badan terasa pegal, akhirnya Gane tidur di sebelah istrinya. Tidak peduli dengan istrinya yang tiba-tiba akan terkejut saat mendapati sang suami yang sudah ada didekatnya.
Malam semakin larut, hawa dingin mulai menembus kedalam kulit serta pada tulangnya. Gane maupun Nanney yang berawal terasa biasa-biasa saja, kini keduanya merasa kedinginan. Angin kencang disertai petir yang menggelegar dan hujan yang kedengaran deras, membuat sepasang suami-istri membutuhkan sesuatu yang dapat menghangatkan tubuh nya mereka masing-masing.
Nanney yang kedinginan, ia langsung menarik selimutnya dan entah posisi seperti apa yang sudah mengubahnya. Begitu juga dengan Gane, dirinya sendiri ikut kedinginan. Ditambah lagi AC nya masih menyala, tentu saja menambah suasana menjadi lebih dingin.
Gane yang juga membutuhkan kehangatan, ia menggeser posisi tidurnya dan rupanya keduanya benar benar sangat dekat. Nanney yang merasa sempit dan susah untuk bernapas, terpaksa ia mengeluarkan jurusnya dengan mendorong sesuatu yang sudah membuat napasnya terasa sesak.
__ADS_1
BRUK!!
"Aw!!" pekik Gane sambil meringis kesakitan. Nanney yang mendengar sesuatu yang berteriak, ia langsung terbangun dari tidurnya. Tentu saja melihat suaminya yang sudah terjatuh dari tempat tidur. Cepat-cepat segera ia bangkit dari posisinya dan mendekati suaminya.
"Kak Gane, Kakak tidak apa-apa, 'kan?"
"Tidak apa-apa matamu rabun, sakit, tau. Kamu itu perempuan atau laki-laki, tidur aja sudah kek mau silat saja. Lihat nih, badanku encok gara-gara perbuatan kamu." Ucap Gane sambil memegangi bagian pinggangnya yang terasa sakit akibat terjatuh dari tempat tidurnya.
"Maaf, aku kira tadi bantal guling. Habisnya aku tidak terbiasa tidur dengan bantal guling." Jawab Nanney sedikit ada rasa takut. Saat itu juga, Gane teringat dengan masa lalunya.
"Maaf, maaf, encok nih." Kata Gane dengan sungut.
Nanney yang memang merasa bersalah atas perbuatannya yang tidak disengaja, ia segera membantu suaminya untuk berdiri.
Dengan pelan-pelan, Nanney membantu suaminya berdiri dan membantunya untuk duduk di tepi tempat tidurnya.
"Ya lah, sakit. Ini semua gara-gara ulahmu, tidur aja udah kek kincir angin." Tuduh Gane masih dengan kekesalannya, tentu saja sambil menahan rasa sakit pada bagian pinggangnya.
"Kalau boleh tahu, Kakak ada balsem tidak?"
"Ada, itu di kotak obat." Jawab Gane sambil menunjuk pada kotak obat yang berisi segala macam untuk mengobati luka maupun yang lainnya.
Setelah itu, Nanney langsung mengambilnya. Kemudian ia kembali mendekati suaminya.
"Mana yang sakit?" tanya Nanney yang sudah siap untuk mengobati rasa sakit yang dirasakan oleh suaminya.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain? jangan bilang kalau kamu mau mengurut pinggangku." Gane balik bertanya saat dirinya mengerti maksud dari istrinya.
"Ya, aku mau mengurut pinggang Kakak yang sakit. Memangnya msu ngapain lagi kalau bukan mengurut pinggang Kakak yang sakit itu." Jawab Nanney tanpa ada rasa canggung sedikitpun.
"Memangnya kamu bisa mengurut? aku tidak percaya denganmu. Aku tahu sekarang, kamu ingin mengerjai aku, 'kan? tidak akan bisa. Yang ada pinggangku akan semakin parah olehmu, karena kamu itu mulai meresahkan." Kata Gane, sedangkan Nanney tetap tidak akan menyerah begitu saja.
"Itu kan, tadi sore. Sekarang mana mungkin aku akan mau mengulangi kesalahan yang kedua kalinya, tidak akan mungkin. Anggap saja, aku sedang mengganti rugi atas kesalahan yang sudah aku perbuat pada Kakak. Kalau soal mengurut, aku bisa. Tenang saja, aku bisa mengatasinya." Ucap Nanney mencoba untuk meyakinkan suaminya.
"Aku tidak bisa menjaminnya, bisa saja kamu beralasan dan sengaja mau mengerjai ku. Keahlian dari mana coba, kamu aja hanya menjabat sebagai sekretaris adikku." Kata Gane yang tidak mudah untuk percaya, ditambah lagi sang istri yang sudah mengerjai nya. Tentu saja akan membuat Gane lebih berhati-hati lagi, agar
tidak masuk dalam sebuah perangkap.
"Ya sudah kalau tidak mau diurut, aku mau tidur. Oh ya, bukankah besok pagi kita akan berangkat berbulan madu? maksudnya liburan. Tapi, jika dibatalkan pun, aku sangat senang, karena aku tidak susah-susah menuntun Kakak." Ucap Nanney yang lagi-lagi sambil mengedipkan matanya terlihat menggoda.
Saat itu juga, Gane baru tersadar jika dirinya akan pergi ke Pulau yang sudah dijanjikan oleh Pamannya. Karena tidak bisa menghindar, mau tidak mau Gane hanya bisa nurut.
"Ya ya, ya." Jawab Gane dengan terpaksa karena tidak ada pilihan lain selain menuruti ucapan istrinya. Nanney yang mendengarkan nya pun, ia tersenyum pada suaminya.
"Nah, gitu dong." Kata Nanney.
"Awas ya, kalau sampai menyiksaku, aku bakal gantian menyiksamu." Ucap Gane yang seolah olah memberi sebuah ancaman untuk istrinya.
"Tenang saja, aku tidak akan menyiksa Kakak. Kan, aku bukan Kak Gane yang suka menyiksa." Kata Nanney setengah menyindir.
"Jangan banyak bicara, cepat kau urut pinggangku. Awas saja kalau kau berani menyakitiku, aku akan menghukum mu malam ini juga." Ucap Gane yang tidak pernah bosan memberi ancaman untuk istrinya.
__ADS_1
"Ya, Kak Gane tenang saja." Jawab Nanney dan tersenyum tipis pada suaminya.