
Saat kedua matanya membuka dengan sempurna penglihatannya, Nanney meyakinkan lagi jika dirinya sudah berada di rumah. Dan benar saja, Nanney sudah berada di dalam kamar suaminya dengan balutan selimut tebal.
Saat menarik napasnya dengan pelan, tiba-tiba Nanney mencium bau aroma yang sangat menggugah selera makannya. Berulang kali untuk menghirup, Nanney benar-benar yakin jika aroma masakan berasal dari dapur.
Rasa penasaran yang ingin tahu, Nanney langsung bergegas menuju dapur. Namun sebelumnya, Nanney sadar jika dirinya belum mencuci mukanya. Karena tidak ingin dikatai perempuan pemalas dan jorok, Nanney masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Setelah itu, Nanney menuju ke dapur. Diperhatikannya sang suami yang tengah sibuk dengan alat dapur. Nanney yang melihatnya pun, tersenyum mengembang.
'Ternyata Kak Gane pandai juga memasak, jadi penasaran dengan masakannya.' Batin Nanney dengan rasa penasarannya dan tentunya juga kagum.
"Kak Gane sedang masak apa? kelihatannya sangat menggoda. Ah ya, aku mau ucapkan banyak terimakasih karena sudah membawaku sampai di kamar." Ucap Nanney dengan percaya diri.
"Hem, siapa juga yang membawamu sampai dalam kamar. Tadi yang gendong kamu itu, yang tidak lain Pak Sopir. Aku gendong kamu, ogah. Badan kamu itu sangat berat, aku tidak mau jatuh hanya karena menggendong berat badanmu itu." Jawab Gane penuh alasan, meski memang lah dia sendiri yang menggendong istrinya.
Rasa gengsi dan tidak mau ketahuan, Gane selalu berupaya untuk menutupinya. Sedangkan Nanney yang mendengar jawaban dari sang suami hanya tersenyum padanya.
"Hem, tidak ada yang lucu. Jadi, lebih baik kamu tidak usah tersenyum begitu."
"Kak Gane lucu, wek ...." Kata Nanney dan menjulurkan lidahnya.
"Sudahlah, kamu tidak perlu menggangguku memasak. Lebih baik kamu duduk manis di ruang makan, sebentar lagi sup rumput lautnya matang." Ucap sang suami sekaligus meminta istrinya untuk duduk di ruang makan daripada harus mengganggunya memasak, pikir Gane di sela-sela kesibukannya di dapur.
"Sup rumput laut? wah ... sangat menggoda."
"Kau suka?" tanya Gane dengan keningnya yang berkerut.
"Tentu saja, dari kecil aku sangat menyukai sup rumput laut dari pada sup ikan." Jawab Nanney dengan wajahnya yang berbinar.
Sejenak Gane terdiam, dirinya seakan tengah memutarkan kembali kaset kusut nya. Namun, ia langsung menepisnya.
__ADS_1
"Ini hanya kebetulan saja." Gumamnya, tetap saja Nanney dapat mendengarkannya.
"Apanya yang kebetulan?" tanya Nanney dengan rasa penasarannya.
"Tidak ada, aku hanya salah berucap saja. Sudahlah, cepetan kamu duduk di ruang makan. Sup nya sudah matang, kita akan makan siang." Jawabnya dan segera membawa satu mangkok besar berisi sup rumput laut kesukaannya dan kesukaan gadis kecil yang menjadi kenangan hidupnya.
Nanney yang sedikit teringat dengan sebuah cerita dari Ciko, dirinya pun dapat mencerna apa yang diucapkan oleh suaminya.
Saat sudah berada di ruang makan, Nanney duduk berhadapan dengan sang suami. Dengan telaten, Gane melayani istrinya dengan baik.
Nanney yang penasaran, ia menoleh pada sebuah foto besar yang jaraknya tidak jauh dari pandangannya. Kemudian, Nanney menoleh pada suaminya.
"Siapa gadis yang ada di foto itu? foto bersama Kak Gane." Tanya Nanney pada sang suami, tidak lupa jari telunjuknya mengarah pada sebuah bingkai foto yang berukuran sangat besar. Sebesar tingginya kulkas.
Gane yang mendapatkan pertanyaan dari sang istri, ia ikut mengarahkan pandangannya pada bingkai besar yang ada gambar dirinya dengan gadis kecil dimasa lalu.
Nanney langsung membulatkan kedua bola matanya karena merasa aneh dengan sikap suaminya itu. Bukannya marah, tetapi tersenyum padanya.
"Kak Gane kenapa tersenyum?" tanya Nanney dengan rasa penasarannya.
"Tidak ada apa-apa, kamu ingin tahu siapa yang ada dibingkai besar itu?" jawabnya dan balik bertanya.
"Ya, aku ingin tahu. Sejak aku pertama kalinya masuk ke rumah ini, aku menyimpan rasa penasaran terhadap foto gadis kecil itu bersama Kakak." Jawab Nanney menjelaskannya dengan jujur atas rasa penasarannya.
"Baiklah, aku akan menceritakannya padamu. Tapi sebelumnya, kita makan dulu. Aku masih ada kesibukan yang lainnya, jadi isi dulu perut kita. Setelah itu, aku akan bercerita dengan mu." Kata Gane untuk meyakinkan istrinya.
Nanney yang juga sudah merasa lapar karena hanya makan sedikit waktu di kapal. Akhirnya Nanney mengikuti apa yang dikatakan suaminya.
"Ya Kak, aku akan bersabar menunggu cerita dari Kakak. Lagian juga, aku pun sudah lapar." Jawab Nanney diawali dengan anggukan.
__ADS_1
Setelah saling menyetujui, Gane maupun Nanney akhirnya menikmati makan siangnya hanya berdua saja. Tidak ada orang lain selain sepasang suami istri, Gane dan Nanney.
"Wah ... rupanya sup rumput lautnya seger banget, Kak Gane pintar juga memasak. Pasti sangat beruntung yang menjadi istri Kakak, pintar masak dan ..." ucapnya memuji, tetapi tiba-tiba tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya.
Saat itu juga, Nanney tersadar dengan ucapannya sendiri. Yang mana jika dirinya adalah istri sahnya. Sejenak Nanney tertunduk malu karena ucapannya yang barusan.
"Kenapa berhenti? kenapa tidak dilanjutkan? hem." Tanya Gane yang ingin tahu jawaban dari istrinya itu.
"Tidak ada yang perlu dilanjutkan. Ayo Kak, kita lanjutkan lagi makan siangnya." Jawab Nanney dengan malu-malu setengah menunduk.
'Bodoh bodoh bodoh! sekali kamu, Nanney. Tidak seharusnya kamu itu memuji ABG tua ini. Lihatlah, sepertinya ABG tuani benar-benar menjadi besar kepala.' Batin Nanney setelah menyeruput sup nya. Kemudian ia mengunyah makanan lainnya.
Setelah berasa kenyang, Nanney menyudahi makannya. Kemudian ia minum air putih dan mengelap mulutnya dengan tissue.
Karena tidak ada siapa-siapa di rumah suaminya selain dirinya dan sang suami, Nanney segera membereskan meja makan dan dibantu suaminya. Kemudian dilanjutkan mencuci piring serta yang lainnya dan sekaligus menyapu.
Selesai semuanya dan tidak ada yang tertinggal, Gane dan Nanney keluar dari ruang makan.
Karena rasa penasaran yang masih tersimpan di benaknya, Nanney mengekori suaminya. Gane yang merasa diikuti sang istri dari belakang, segera ia menoleh.
"Ada perlu apa?" tanya Gane karena lupa atas janjinya.
"Katanya Kak Gane mau bercerita tentang gadis kecil yang ada di foto bareng Kakak? hem." Jawabnya mengingatkan, sedangkan Gane sendiri baru menyadarinya.
"Ah ya, aku sampai lupa. Tunggu, ada yang menelpon ku." Jawab Gane, saat itu juga ia mendengar suara ponselnya tengah berdering cukup nyaring suaranya.
"Ya, Kak." Jawabnya dengan lesu, Gane sendiri segera masuk ke kamar untuk menerima panggilan masuk kenomor ponselnya.
Nanney yang tidak bisa memaksa suaminya, ia hanya bisa menunggunya dengan sabar.
__ADS_1