
Makan siang pun telah dilewati bersama, bahkan makan malamnya juga baru saja selesai. Kini, sudah waktunya untuk beristirahat.
Nanney yang merasa kecapekan karena perjalanan jauh dari kota ke Kampung halaman, memilih untuk beristirahat terlebih dahulu. Tidak hanya karena rasa kantuk dan kecapekan, ada calon bayi yang harus dijaga kesehatannya.
Ciko yang tidak bisa tidur dengan lelap, memilih untuk keluar dari kamar. Bukan karena tidak merasa nyaman, Ciko merasa gelisah dan seakan jiwanya pun terpanggil untuk bangkit dari posisinya yang tengah berbaring didekat Doin.
Tidak mempunyai pilihan lain, Ciko yang tidak bisa tidur, akhirnya keluar dari kamar dan duduk di ruang tamu sambil duduk bersandar pada kursi kayu seorang diri.
Ingatannya kembali pada Gane yang masih berada dibalik jeruji besi. Alih-alih Ciko memainkan ponselnya, berharap ada pesan masuk dan memberi kabar sesuai harapannya.
Nenek Aruma yang juga terbangun dari tidurnya, keluar dari kamar untuk mengambil air minum.
Saat membuka pintu kamar, Nenek Aruma mendapati Ciko tengah duduk di ruang tamu dengan penerangan cahaya ponselnya.
Nenek Aruma yang penasaran dengan Ciko, segera menghampirinya.
"Nak Ciko. Kamu sedang apa duduk di ruang tamu? tidak tidur?" tanya Nenek Aruma.
Kemudian, Nenek Aruma menyalakan lampu nya dan ikutan duduk didekat Ciko.
"Apakah kamu tidak terbiasa tidur di rumah seperti rumah Nenek?" tanya Nenek Aruma pada pokok intinya.
Ciko tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Bukan itu, Nek. Saya hanya sedang merindukan adik saya yang sudah pergi untuk selama-lamanya, hanya itu saja." Jawab Ciko yang akhirnya beralasan, tidak peduli jika dirinya harus berbohong demi menutupinya.
"Ooh, kirain Nenek kamu kenapa. Doakan saja, hanya itu yang bisa kita lakukan untuk orang yang kita sayangi sudah pergi lebih dulu dari kita. Kalau boleh tau, memangnya adik kamu meninggalnya karena apa, Nak?"
"Kecelakaan di kapal, Nek. Tapi sudah sangat lama Nek, dan kini hanya tinggal kenangan semata. Tidak ada lagi sebuah pertemuan, yang ada hanyalah sebuah kerinduan yang terpendam." Jawab Ciko dan langsung menunduk.
"Nenek turut berdukacita atas kepergian adik kesayangan mu Nak Ciko, semoga kamu bisa lapang untuk menerima apa yang sudah menjadi takdir kehidupan dan kematian." Ucap Nenek Aruma, Ciko hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
"Terimakasih, Nek. Oh ya Nek, kalau boleh tahu, kedua orang tua Nona Nanney kemana ya? kok saya tidak melihatnya."
"Sudah meninggal setelah Nanney selesai mengenyam pendidikannya." Jawab Nenek Arumi.
"Maafkan saya, Nek. Bukan maksud saya ingin serba tahu. Saya hanya penasaran saja, soalnya saya tidak tahu tentang Nona Nanney."
"Tidak apa-apa, kalau bukan hal yang privat, Nenek akan tetap menjawabnya."
"Ya Nek."
Ciko yang mulai tidak bisa konsentrasi karena rasa kantuk yang sudah mengundang, tak lepas dari menguap. Malu, tentu saja.
Karena harus kembali pulang ke Kota dan ada pekerjaan yang harus cepat-cepat diselesaikan, Ciko menyerah dan berpamitan kembali masuk ke kamar untuk beristirahat.
"Nek, saya sudah mengantuk. Tidak apa-apa kan, Nek? jika saya pamit undur diri untuk beristirahat."
"Tentu saja, Nenek tidak akan melarang mu. Lagi pula, waktunya sudah hampir larut malam. Tidak baik untuk kesehatan, silakan jika ingin tidur."
"Ya Nek, terimakasih." Kata Ciko dan segera bergegas kembali masuk ke kamar dan tidur bersama Doin.
Jam lima pagi, Nanney terbangun dari tidurnya saat mendengar suara ayam yang berkokok.
"Sudah pagi rupanya, Nenek pasti sudah bangun." Gumam Nanney sambil mengucek kedua matanya dan segera bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi sekaligus masuk ke dapur.
Benar saja, apa yang ditebak Nanney memang benar adanya jika Nenek Aruma sudah bangun dari tidurnya. Kini, Nenek Aruma tengah sibuk dengan alat dapurnya.
"Nenek sudah bangun?"
"Ya Nak, semalam Nenek gak bisa tidur karena kepikiran kamu terus." Jawab Nenek sambil mengaduk minuman yang selalu menjadi teman paginya.
"Itu wedang jahe kan, Nek?" tanya Nanney seperti tergoda dengan aromanya jahe.
__ADS_1
"Ya, ini wedang jahenya. Kamu mau? bentar ya, Nenek akan membuatnya untuk kamu."
"Tidak usah repot-repot, Nek. Nanney bisa kok, kalau hanya membuat wedang jahe." Ucap Nanney dan bergegas membuat minuman jahe sendiri.
"Ya sudah kalau mau membuat wedang jahe sendiri, Nenek mau goreng ubi sama goreng pisang, kesukaan kamu waktu masih kecil."
Nanney berjalan dan memeluk Nenek Aruma dari belakang.
"Nenek, Nanney sangat bahagia dan sangat beruntung mempunyai Nenek Aruma. Nenek sudah seperti orang tua Nanney sendiri." Kata Nanney bergelayut manja dengan Nenek.
Nenek Aruma langsung melepaskan pelukan dari Nanney dan memutar balikkan badan.
"Begitu juga dengan Nenek, sangat beruntung mendapatkan mu." Jawab Nenek Aruma dan kembali memeluknya.
"Ya sudah, kamu duduk saja sambil menikmati secangkir minuman. Nenek tidak akan membiarkan kamu untuk melakukan pekerjaan berat dengan kondisi kamu yang sedang hamil."
"Yang terpenting tidak angkat barang yang berat-berat, Nek. Kalau hanya melakukan pekerjaan ringan sih, tidak apa-apa."
"Tidak, sekali tidak ya tidak."
"Tapi Nek, bagaimana dengan Henny? apakah dia belum hamil?" tanya Nanney yang tiba-tiba teringat dengannya.
"Pernikahan mereka berdua tidak ada perubahan, Henny dan Danu masih jaga jarak. Karena pernikahan mereka berawal dari keterpaksaan karena suatu hal." Jawab Nenek Aruma menjelaskan.
"Maksudnya Nenek, apa?"
"Nanti malam, Nenek akan menceritakan nya padamu. Sekarang lebih kamu nikmati pagi hari dengan secangkir wedang jahe."
"Baiklah Nek, Nanney tidak akan memaksa Nenek untuk menceritakan nya pagi ini. Kalau begitu, Nanney mau jalan-jalan pagi ya Nek."
"Ya, boleh. Udaranya masih segar, sangat baik untuk kesehatan."
__ADS_1
Setelah selesai mengobrol, Nanney bergegas keluar dari rumah untuk jalan-jalan pagi sendirian. Sedangkan Ciko dan Doin masih tidur pulas tanpa disadari kicauan burung telah menyambutnya untuk bangun pagi.