Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Sebuah rencana


__ADS_3

Makan malam pun berlanjut, semua tidak ada satupun yang berucap sepatah katapun sampai selesainya menikmati makan malamnya.


"Gane," panggil Tuan Hardika sambil meletakkan gelasnya. Gane menoleh pada Beliau.


"Ya, Paman." Sahut Gane sambil mengelap area mulutnya.


"Besok kita akan kedatangan pengacara seperti yang kamu minta, Paman minta untuk tidak berangkat ke Kantor." Kata Tuan Hardika, sedangkan Tuan Pras hanya menjaga pendengar setia.


"Ada yang lebih penting di Kantorku, Paman. Tenang saja, aku akan pulang dengan tepat waktu." Ucap Gane yang tidak bisa diganggu gugat atas keputusannya. Tidak ada satupun yang berani memulainya keputusannya, semua hanya bisa diam.


"Baiklah, terserah kamu saja." Kata Tuan Hardika. Tanpa mengatakan apapun, Gane langsung kembali ke kamarnya.


"Kak Gane," panggil Vandu menghentikan langkah kaki kakak sepupunya. Gane berhenti, namun tidak menoleh ke belakang.


"Ada apa?" tanya Gane yang masih dengan posisinya.


"Apakah aku diizinkan untuk mengajak Kak Nanney jalan-jalan? aku hanya ingin mengajaknya saja, tidak ada niat apapun." Jawab Vandu penuh harap.


"Aku tidak akan pernah mengizinkan kamu, apapun itu alasannya. Kalau kamu ingin jalan-jalan, bukankah ada David? ajak saja si David." Kata Gane yang tentu saja terasa geram mendengarkannya.


"Baiklah, jika Kak Gane tidak mengizinkanku untuk mengajak Kakak ipar." Ucap Vandu penuh kecewa, Gane sendiri tidak peduli dan lebih memilih untuk kembali masuk ke kamarnya.


Nanney hanya bisa diam. Namun, tidak dengan pikirannya. Justru Nanney terbayang hayang jika kakak iparnya akan melampiaskan kekesalannya pada dirinya.


"Nanney, sudah malam, sudah waktunya untuk istirahat. Kembalilah ke kamarmu, dan kanan lupa untuk dijaga kesehatan kamu. Bersabarlah, kamu pasti bisa melewatinya." Ucap Bunda Sere menyemangati, Nanney mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Terimakasih banyak, Tante. Selamat Malam, permisi." Jawab Nanney berpamitan, Bunda Sere pun tersenyum padanya.


Kini tinggal beberapa orang yang masih berada di ruang makan, siapa lagi kalau bukan Tuan Hardika dengan putranya dan Tuan Pras beserta anak dan istrinya.


"Sudah malam, lebih baik kita istirahat. Ingat, besok kita akan kedatangan pengacara." Ucap Tuan Hardika, sedangkan Tuan Pras hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


Setelah tidak ada lagi yang dibicarakan, semua kembali ke kamarnya masing masing, termasuk Vandu dan David.


Sedangkan di dalam kamar, Gane tengah sibuk memikirkan saran dari Ciko. Saran yang memintanya untuk menikah, tentu saja membuat Gane semakin frustasi dibuatnya.


"Saran macam apa itu, memintaku untuk menikah." Gumam Gane sambil bersandar pada kepala tempat tidurnya. Sesekali Gane memejamkan kedua matanya. Berharap jika dirinya akan mendapatkan ide yang lebih positif lagi.


Tetap saja, Gane masih belum juga menemukan titik terangnya. "Menikah, menikah, benar-benar membuat kepalaku serasa mau pecah saja." Lagi lagi Gane terus bergumam sambil mencari ide.


Tidak ada ide satupun yang ia dapatkan, Gane menoleh pada nakas yang ada disebelah tempat tidurnya. Di ambil sebuah bingkai kecil yang ada foto dirinya bersama Clara, foto yang sudah sangat usang. Namun, tetap saja menjadi penyemangat hidupnya.


"Clara, aku sangat merindukanmu hingga sampai detik ini. Andai saja kamu selalu berada di sampingku, maka hidupku akan penuh warna. Semua gelap, gelap seperti bayangan hidupku yang selama ini aku jalani." Gumam Gane sambil memeluk fotonya bersama perempuan yang selalu dirindukan nya sambil memejamkan kedua matanya dengan pikirannya yang dipenuhi ingatan masa lalunya.


Seketika, Gane terbangun karena suara ponsel yang telah mengagetkannya. Gane kembali menoleh pada sebuah Nakas, diambilnya ponsel dan dilihat siapa orangnya yang mengirimkan sebuah pesan untuknya.


Dengan seksama dan dengan sangat teliti, Gane membacanya tanpa ada yang dilewatkan.


"Ciko, Ciko. Ada ada saja saran kamu itu, benar benar konyol." Gerutu Gane setelah mendapatkan pesan dari Ciko.


Sambil memikirkan saran dari Ciko, Gane kembali teringat ide yang pernah bersemayam didalam benak pikirannya. Ingatannya kembali pada seseorang yang dituju, seseorang yang harus membayar atas kematian adiknya.

__ADS_1


Seringainya yang terlihat sinis, seakan-akan Gane telah menemukan permainan yang baru.


"Benar juga saran dari Ciko. Sekali dayung, berapa pulau dapat aku sebrangi." Ucapnya lirih dengan penuh kemenangan.


Berbeda di dalam kamar yang satunya, yang mana Nanney tengah gelisah memikirkan nasib selanjutnya. Berkali-kali Nanney mengubah posisi tidurnya untuk mendapatkan tidurnya yang nyenyak, tetap saja ia tidak dapat memejamkan kedua matanya.


Pikiran yang sudah ia tepis, masih terus berada didalam benak pikirannya. Napas yang tiba-tiba terasa sesak dan detak jantung yang berdegup sangat kencang.


Karena kegelisahan, Nanney memilih untuk bangkit dari posisi tidurnya. Sambil duduk dengan gelisah, Nanney teringat jika dirinya mengisi daya baterai ponselnya. Senyum merekah menghiasi kedua sudut bibirnya.


"Akhirnya, aku bisa menghubungi Nenek. Aku sangat merindukan Beliau, dan aku ingin segera berkumpul bersama Nenek dan juga Hennyta." Gumam Nanney sambil tersenyum mengembang saat apa yang ia rindukan tidak lagi jauh dari angannya.


Saat itu juga, Nanney mulai berpikir untuk mencari cara agar dirinya bisa pergi dari rumah keluarga suaminya. Karena rasa yang tidak sabar, akhirnya Nanney mengirim sebuah pesan untuk keluarganya di Kampung halamannya. Kampung halaman yang sudah menjadi penyelamat hidupnya.


"Semoga saja, Henny tidak mengganti nomor telponnya." Gumam Nanney penuh harap, harap yang penuh kecemasan.


"Henny, apa kabarnya? bagaimana kabar Nenek? baik baik semuanya, 'kan? aku Nanney."


Pesan sapaan telah dikirimkan oleh Nanney, berharap akan menerima balasan.


Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit, hingga satu jam dan berganti jam, tetap tidak ada balasan dari Henny.


Nanney yang merasa jenuh menunggu balasan hingga lewat tengah malam, akhirnya Nanney hanya bisa menahan kesedihannya.


"Benarkah Henny sudah mengganti nomor telponnya? lalu, kemanakah dia? kenapa tidak juga memberi kabar padaku jika mengganti nomor telponnya. Nenek, bagaimana keadaan Nenek. Aku benar benar tidak tahu harus bagaimana, aku masih bingung untuk pergi dari rumah ini. Kemarin itu, waktu aku mau menikah, aku pun tidak bisa menghubunginya. Dan sekarang, aku harus mendapatkan nasib yang sama. Lagi lagi aku tidak bisa menghubungi Nenek, bahkan akun media sosialnya pun, tidak ada satupun yang aktif. Semoga saja aku bisa pergi dari rumah ini, apapun caranya." Ucapnya lirih penuh kecewa karena tidak mendapat balasan dari saudaranya di Kampung halamannya dulu.

__ADS_1


Karena tidak ada cara lain selain untuk kabur dari rumah kediaman suaminya, sementara waktu Nanney memilih untuk bersikap baik baik saja dihadapan keluarga suaminya.


Nanney yang sudah merasa ngantuk, segera ia beranjak ke tempat tidurnya. Berharap semua yang diharapkan akan baik baik saja, pikirnya.


__ADS_2