
Sambil menonton televisi, cukup lama juga menunggu kakak iparnya keluar dari kamar. Karena perut semakin lama semakin mengajaknya berdendang, alih-alih Nanney pergi ke dapur untuk mencari makanan yang dapat mengganjal perut kosongnya.
"Tidak ada makanan apapun didalam kulkas, benar benar sangat miskin kah? sampai-sampai hanya tersisa es batu saja yang ada." Gumam Nanney tanpa melihat disebelahnya yang terdapat freezer yang ukurannya cukuplah besar.
"Akhirnya, masih banyak yang bisa aku olah." Ucapnya lirih, kemudian ia mengambil beberapa macam bungkusan yang dapat ia olah untuk mengganti makan malamnya.
"Udang bakar, plus sup tulang iga. Aku rasa sangat cocok untuk menemani makan malamku, aku tidak peduli jika kak Gane akan murka, palingan juga ikutan makan." Gumamnya, kemudian ia menyalakan kompornya untuk memanaskan air.
Beberapa menit kemudian, beberapa bungkus sudah tidak lagi membeku, Nanney mulai menyiapkan bahan bahan seadanya di dapur. Setelah itu, Nanney melanjutkan kegiatan memasaknya. Tidak lupa juga ia membakar udang lewat alat panggang nya.
Tidak hanya itu saja, Nanney mulai memasak sup tulang iga sambil menunggu udang bakarnya matang.
Aroma diantara kedua makanan, rupanya tengah menggugah selera Gane pada perutnya yang tentu saja ikut terpanggil untuk mengisi perutnya yang kosong sedari tadi siang yang belum juga ia isi.
Begitu juga dengan Ciko yang baru saja membuka pintunya, tiba-tiba indra penciumannya telah tergoda dengan aroma yang tidak asing dengan seleranya.
"Sepertinya aku mengenal aroma ini, tapi ...." Batin Gane sambil mengingat sesuatu, begitu juga dengan Ciko yang juga kembali teringat dengan masa lalu yang begitu panjang sudah ia lewati kenangan berharganya.
Gane yang sudah tidak sabar, ia langsung keluar dari kamarnya.
"Cik," panggil Gane sambil berjalan mendekati Ciko.
"Ya, Bos."
"Kamu beli makanan apa, Cik? tumben aromanya menggoda. Biasanya juga nasi padang, atau nggak ayam bakar." Tanya Gane.
"Makanan? justru itu, Bos. Aku tidak mendapatkan makanan apapun, semua sudah habis." Jawab Ciko sambil menajamkan indra penciumannya, Gane yang mendengar jawaban dari Ciko pun hanya bisa mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Tunggu, itu suara yang ada di dapur, siapa?" tanya Ciko saat indra pendengarannya dapat menangkap suara yang ada di dapur.
"Jangan-jangan perempuan sial itu, lagi." Kata Gane dan segera menuju ke dapur.
Saat itu juga, Gane dan Nanney hampir saja tabrakan. Untung saja Gane dapat mengerem langkah kakinya.
"Apa itu?" tanya Gane sambil menunjuk satu nampan yang ada ditangannya.
"Udang bakar, kenapa Kak? tidak boleh? bodoh amat lah. Jujur saja, aku ini lapar. Jadi sebelum aku mati kelaparan, aku isi dulu perutku ini."
"Siapa yang menyuruh kamu untuk masak? ha."
"Perutku, kenapa? masih salah? lagian juga percuma, benar juga tetap salah. Jadi, biarin saja jika masih salah." Kata Nanney yang kini mulai berani dengan Gane. Bahkan Nanney sendiri tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya, setidaknya ia tidak tertindas dengan seenaknya, pikirnya sambil menatapnya.
Gane yang merasa jika Nanney mulai berani dengannya, tatapannya semakin tajam. Tidak hanya itu saja, rahangnya pun ikut mengeras, dan terdengar sangat jelas ketika semua gigi milik Gane saling menggelutuk dan dibarengi dengan tatapan penuh kebencian.
"I--- iya, Kak." Jawab Nanney yang akhirnya kembali berubah menciut dengan nyalinya sendiri. Mau tidak mau, Nanney segera menyiapkan makan malam yang sudah ia masak walaupun hanya beberapa menu makanan yang ia ambil dari freezer.
Ciko yang merasa kasihan, diam-diam ia ikut membantu Nanney untuk menyiapkan makan malam yang sudah siap untuk dihidangkan. Sedangkan Gane memilih untuk menyibukkan diri dengan benda aktivitasnya yang menjadi alat handalnya untuk meraup untung yang sudah lama ia tekuni. Tidak peduli baginya dengan usaha yang ia tekuni antara baik dan buruknya, yang ia pikirkan hanyalah keuntungan dan menghasilkan.
Hidup penuh kerja keras tanpa pendamping kedua orang tua, Gane dan Ciko tidak peduli seberapa besar resiko yang akan diterima oleh keduanya.
"Bolehkah aku mengenal mu? perkenalkan, namaku Nanney." Ucap Nanney sambil mengulurkan tangan kanannya dan tidak lupa untuk tersenyum pada Ciko.
"Panggil saja Ciko, Nona. Karena nama saya memang Ciko, bukan Coki." Ucap Ciko dibarengi dengan meledek.
"Jangan panggil aku Nona, karena aku sudah lepas dari keluarga Huttama. Panggil saja sesuai namaku, itu akan jauh lebih baik." Kata Nanney.
__ADS_1
"Tidak, Nona. Karena Nona sekarang bersama Bos Gane, tetap saja saya harus memanggil Nona dengan sebutan Nona." Ucap Ciko yang tidak akan merubah apapun yang sudah menjadi ketentuan yang ada.
"Terserah kamu saja lah, yang terpenting aku sudah mengingatkan kamu. Oh ya, apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu? jika tidak mau jawab juga tidak apa-apa sih."
"Tanyakan saja, Nona. Mumpung saya masih mode on, jika of, maka tidak ada kesempatan apapun untuk menjawab pertanyaan dari Nona." Kata Ciko.
"Baiklah, aku akan bertanya padamu. Kalau boleh tahu, perempuan gadis kecil yang ada difoto besar itu, siapa ya?" tanya Nanney memberanikan diri dan menunjuk pada sebuah bingkai besar yang bertengger didinding.
Sejenak Ciko terdiam, terasa berat untuk mengatakan yang sejujurnya. Namun, ia sendiri tidak dapat membohongi atas kenyataan yang sebenarnya. Pelan pelan Ciko menarik napasnya, lalu membuangnya dengan kasar.
"Perempuan yang dimaksudkan Nona adalah, gadis itu perempuan yang sudah mengisi ruang hatinya Bos Gane, Nona." Jawab Ciko dengan kebenaran yang ada.
"Terus, kemana perginya gadis itu. Siapa namanya? aku yakin, namanya pasti secantik orangnya. Siapa tahu saja aku mengenalinya, tapi aku rasa tidak akan mungkin." Kata Nanney dibarengi tawa kecilnya.
"Gadis kecil yang kamu maksud itu, sudah tiada dan pergi untuk selama lamanya. Rasa cinta Bos Gane hanyalah sebuah bayangan, itu menurut saya."
"Sudah meninggal, begitu kah maksudnya?" tanya Nanney seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ciko.
"Ehem, kalian berdua sedang ngomongin apaan? ha. Sepertinya sangat serius, ayo ulangi lagi. Apakah kalian berdua sedang melakukan pendekatan? ayo jawab."
Ciko dan Nanney sama-sama menatap satu sama lain dengan ekspresi yang bingung.
"Ya, kita berdua sedang melakukan pendekatan. Sebelum aku dijadikan gelandangan oleh Kak Gane, aku harus melakukan pendekatan lebih dahulu dengan Ciko. Bukankah begitu kan, Ciko?" Ucap Nanney sambil mengedipkan matanya pada Ciko.
Ciko yang mendapatkan sikap aneh dari Nanney hanya bisa bergidik ngeri mendengarkannya.
"Bos, lupakan dulu kejadian yang barusan. Lebih baik kita makan malam terlebih dahulu. Sayang loh, kalau sup tulang iganya diabaikan. Apalagi ada udang bakarnya, sayang sekali jika dilupakan. Bukankah udang bakar dan sup tulang iga adalah makanan kesukaan Bos Gane? ya kan, Bos? ayolah kita makan malam dulu."
__ADS_1