Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Hadiah pernikahan


__ADS_3

David yang masih merasa tidak percaya, akhirnya ia memilih untuk bersiap-siap. Rasa penasaran yang sedari tadi bersemayam dalam pikirannya, David segera menghubungi Vandu. Berharap, pesan yang disampaikan oleh anak buah saudaranya tidaklah benar.


Berulang kali ia mencoba untuk menghubungi saudara sepupunya, tetap saja tidak ada jawaban apapun. Merasa frustasi, David bergegas keluar dari kamar.


"Pa, Ma, cepetan dong." Panggil David sambil menuruni anak tangga, tidak lupa sambil mengenakan jam tangannya.


Tidak lama kemudian, Tuan Pras dan istrinya


telah keluar dari kamarnya dengan penampilan yang tidak begitu mencolok. Pasalnya, Tuan Pras sudah mengetahui lingkungan tempat tinggal keponakannya yang terbilang sederhana dan tidak seperti dilingkungan kediaman Huttama.


"Pa, seriusan nih kalau Kak Gane benar-benar mau menikah dengan Kak Nanney?" tanya David yang kedua kalinya karena rasa penasarannya.


"Kapan Papa tidak pernah serius? ha."


"Ya sih, David cuman serasa tidak percaya aja. Habisnya kek sedang melucu mah, Kak Gane itu. Dekat sama perempuan aja tidak pernah, lah ini tiba-tiba mendadak mau menikah. Mana menikah nya dengan Kak Nanney, lagi. Yang benar saja, benar-benar


sangat lucu." Kata David yang masih merasa tidak percaya sebelum


menyaksikannya langsung lewat sepasang matanya sendiri.


Tuan Pras yang tidak ingin terus menerus meladeni pertanyaan dari putranya, Beliau langsung ke luar begitu saja dan tidak lupa menarik tangan milik istrinya. David yang tidak mendapatkan penjelasan yang menurutnya tidak cukup akurat, akhirnya memilih mengikuti orang tuanya dan sampailah didepan rumah.


Setelah itu, ia segera masuk ke dalam mobil dan memilih untuk duduk di bagian belakang. Sambil bersandar, David menyibukkan diri dengan benda pintarnya.


Sedangkan dibawah tenda yang tidak begitu mewah, yang mana sudah banyak para tamu undangan, dengan percaya diri, Gane tidak menunjukkan rasa malunya itu. Baginya tidak ada yang perlu untuk disembunyikan dan tidak perlu menunjukkan kemewahan. Baginya, sebuah pernikahan sejatinya hanya membutuhkan saksi dan acara yang khusuk. Namun, apalah arti dari sebuah pernikahannya itu, hanya dijadikan jembatan untuk membalaskan dendamnya yang sudah direncanakan setelah merasa sakit hati pada adik iparnya sendiri.


Ciko yang sedari tadi duduk di dekat Gane, pikirannya mulai tidak karuan. Bukan karena dirinya ada rasa pada Nanney, tetapi takut dengan sesuatu yang sudah direncanakan oleh Bosnya.


'Aku tidak bisa menjaminnya, jika Nona Nanney akan baik-baik saja. Aku hanya bisa berharap, jika pikiran buruk ku ini meleset.' Batin Ciko penuh harap.


"Bos, ayo kita ke sana. Sepertinya semua sudah kumpul, kita mau menunggu siapa lagi? ayolah."

__ADS_1


Gane masih diam, sebisa mungkin untuk tenang hingga sampai acaranya selesai. Ciko yang tidak ingin memancing emosi Bosnya, ikut diam itu jauh lebih baik, pikirnya.


Tidak lama kemudian setelah beberapa menit menunggu, Tuan Pras dan Tuan Hardika rupanya telah datang bersamaan dengan putranya masing-masing.


Vandu yang melihat sebuah tenda yang tidak begitu megah, tetap saja membuat hatinya tersayat. Sesuatu rencana yang ingin dilakukan nya demi bisa mendapatkan perempuan yang sudah diincarnya, kini bagai angin yang berpindah arah.


Rahangnya mengeras, kedua tangannya pun mengepal kuat. Tidak hanya itu saja, sorot matanya benar-benar


menunjukkan kebencian yang mendalam pada saudara sepupunya sendiri.


"Kau kenapa Kak Vandu? cemburu melihat Kak Gane menikah dengan Kak Nanney? lupakan saja lah. Mungkin Kak Nanney bukan jodohmu, tapi jodohnya Kak Gane. Cie ... yang patah hati, tidak lucu ah. Ayo kita temui Kak Gane, kasih selamat kek, apa kek, atau apalah. Yang terpenting jangan lupa dengan ucapan selamat untuknya."


"Ya! puas."


"Puas banget." Kata David dibarengi senyum pasta gigi.


CTAK!!


"Itu hadiah untuk mu, David." Ucap Vandu dan bergegas meninggalkan David.


Sedangkan Tuan Pras, kini sudah berada dihadapan keponakannya bersama Tuan Hardika.


"Gane, kamu sedang tidak bermain sandiwara, 'kan?" tanya Tuan Pras.


"Tidak, aku sedang tidak bersandiwara. Pernikahan ini benar benar nyata, tidak ada sandiwara apapun dalam pernikahan ku ini." Jawab Gane dengan terang terangan, yang seakan sedang dirinya mulai menunjukkan sesuatu yang sedang direncanakan nya.


'Aku bukan orang bodoh yang menikahi perempuan tanpa suatu alasan.' Batin Gane saat berhadapan dengan kedua pamannya.


"Syukurlah, jika pernikahan ini sudah kamu niatkan. Paman hanya bisa mendoakan sesuatu yang baik untuk mu dan calon istrimu, semoga bahagia dan langgeng untuk selamanya." Ucap Tuan Pras lebih dulu untuk memberi sebuah ucapan doa untuk keponakannya.


Gane mengangguk, kemudian Tuan Pras memeluknya serta menepuk punggung keponakannya.

__ADS_1


Setelah melepaskan pelukannya, kini Tuan Hardika ikut memberi ucapan selamat untuk keponakannya.


"Selamat ya, Gane. Paman doakan, semoga kamu bahagia bersama istrimu. Paman ada satu hadiah untukmu, Paman berharap kamu akan menerima hadiah dari Paman mu ini. Paman memberimu hadiah berbulan madu ke luar Negri, kamu tinggal pilih mau yang pilih negara yang mana." Ucap Tuan Hardika.


"Paman tidak usah repot-repot memberiku hadiah, ucapan doa saja sudah sangat berharga untukku." Kata Gane berusaha untuk menolaknya.


"Jangan begitu, setidaknya kamu terima hadiah dari Paman." Ucap Tuan Hardika dengan penuh harap.


"Ya Nak, jangan kamu tolak pemberian dari Paman kamu. Anggap saja hadiah spesial dari Paman kamu. Ah ya, Tante sampai lupa, semoga acaranya berjalan dengan lancar. Tante ucapkan selamat untuk kamu, semoga bahagia bersama istrimu. Maafkan Tante yang tidak bisa memberi hadiah yang istimewa untuk kamu, hanya doa yang bisa Tante persembahkan untuk mu." Ucap Bunda Sere memberi ucapan selamat untuk keponakannya.


"Kita berdua akan bangunkan rumah untukmu, bagaimana? anggap saja hadiah kecil dari kita berdua." Ucap Tuan Pras,


"Tidak perlu, Paman. Karena aku bisa membangun rumah sendiri. Paman Pras dan Paman Hardika tidak perlu khawatir, percayalah dengan saya, aku sudah memiliki tabungan sendiri yang cukup untuk membangun rumah yang baru." Kata Gane berusaha untuk menolaknya.


"Kalau menolak, setidaknya kamu menerima hadiah liburan dari Paman."


"Baiklah, aku ingin liburan di pulau terpencil itu. Pulau yang gagal dikunjungi Regar." Jawab Gane dengan pilihannya.


"Pulau terpencil itu? kamu serius?" tanya Tuan Pras, Gane pun mengangguk.


Saat itu juga, seseorang telah datang mendekatinya.


"Permisi, Tuan. Maaf, jika saya sudah mengganggu. Begini Tuan, acara akan segera dimulai, calon pengantin laki-laki sudah dipanggil untuk mengucapkan kalimat sakralnya." Ucapnya sambil membusungkan badannya.


"Baiklah," jawab Tuan Pras mewakili.


"Gane, ayo kita ke sana." Ajak Tuan Hardika, sedangkan Ciko sedari tadi hanya menjadi pendengar setia.


Berbeda dengan David dan Vandu, justru keduanya sudah duduk diantara para saksi yang lainnya.


Setelah berada di kerumunan para saksi, Gane duduk bersebelahan dengan calon istrinya. Sesekali Gane menoleh pada Nanney, kemudian ia menghadap pada seseorang yang akan menuntunnya membacakan kalimat sakralnya.

__ADS_1


Nanney yang terasa grogi, sebisa mungkin untuk tetap tenang. Takut, jika dirinya akan mempermalukan diri sendiri.


__ADS_2