Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Merasa bersalah


__ADS_3

Keduanya pun, akhirnya mengganti posisinya masing-masing. Gane dan Nanney sama-sama membelakangi tanpa berucap sepatah katapun, keduanya memilih untuk diam dan menenggelamkan pikirannya masing-masing.


Meski terasa sulit untuk memejamkan kedua matanya, Gane dan Nanney akhirnya dapat tidur dengan pulasnya.


Hanya beberapa jam mereka berdua tidur, kini Gane yang terbangun dari tidurnya terlebih dulu. Kemudian, ia langsung beranjak dari tempat dan menuju kamar mandi untuk membuang air kecil maupun untuk mencuci muka serta menggosok gigi.


Setelah itu, Gane membuat kopi panas untuk temani paginya di balkon tanpa yang menemani. Dihirupnya udara segar dipagi yang masih gelap, tentunya masih jam lima pagi. Sambil menyesap minuman kopinya, Gane mendongak sambil menatap langit yang masih menyisakan bintang kejora dan rembulan yang sama-sama memancarkan cahaya terangnya.


Sedangkan Nanney masih meringkuk dalam balutan selimut, rasa dingin terasa menusuk sampai ke tulang tulangnya. Sambil membuka kedua matanya, kemudian Nanney meraba disekitarnya dan menyempurnakan kesadarannya maupun penglihatannya itu.


Ketika tidak mendapati keberadaan sang suami, Nanney terbangun dari posisinya dan mengamati di setiap sudut kamar. Nihil, Nanney sama sekali tidak mendapati keberadaan sang suami didalam kamar tersebut.


Karena takut di tinggal sendirian, Nanney segera bangkit dari posisinya dan mencari keberadaan sang suami. Alhasil, Nanney dapat bernapas dengan lega saat melihat suaminya tengah berdiri di balkon sambil merentangkan kedua tangannya seperti tengah menghirup udara segar di pagi hari.


Yang awalnya khawatir dan takut, kini Nanney dapat tersenyum lega ketika melihat suaminya masih berada dalam pandangannya. Kemudian, ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.


Tidak memakan waktu yang lama, Nanney segera keluar dari kamar mandi.


BRUG


"Aw! maaf, aku tidak sengaja." Pekik Nanney dan menyadari jika dirinya telah menabrak suaminya yang tengah berjalan menuju kamar mandi. Nanney segera mundur beberapa langkah dari suaminya agar jaraknya tidak terlalu dekat. Naas, Gane lebih sigap untuk menarik kembali lengan istrinya dan akhirnya berada dalam dekapan suaminya.


Nanney segera mendongak karena tinggi badannya yang tidak sejajar dengan suaminya. Keduanya pun saling menatap satu sama lain, tidak ada suara apapun diantara keduanya.


"Kalau jalan itu lihat-lihat, ngerti." Ucapnya semakin dekat dengan jarak yang hanya tinggal beberapa inci, bahkan napasnya yang hangat dengan aroma kopi tengah menghipnotisnya.


"I-iya, maaf. Tadi aku buru-buru, serius." Jawab Nanney dengan gugup.


"Memangnya kamu mau kemana? bisa-bisanya terburu buru." Tanya Gane masih menghembuskan napasnya yang hangat dengan aroma kopi.

__ADS_1


"Mau ikutan Kak Gane berada di balkon, itu saja." Jawab Nanney yang akhirnya berterus terang pada suaminya.


"Oh."


"Kak Gane mau mandi?" tanya Nanney yang mendapati sang suami yang hanya mengenakan celana kolor tanpa baju yang menempel di badannya.


"Ya, apakah kamu mau ikut mandi bareng?"


"Tidak, aku nanti saja mandinya. Silakan jika Kak Gane mau mandi, aku mau menghirup udara segar dulu." Jawabnya dengan gugup.


Gane yang dapat merasakan kegugupan pada sang istri, ia langsung melepaskan dekapan nya.


"Sudah sana, kalau kamu ingin menghirup udara segar." Ucap Gane, kemudian ia langsung masuk ken kamar mandi.


Nanney yang malas memikirkan sang suami, ia langsung menuju ke balkon untuk menghirup udara segar.


Cukup lama Nanney berada di balkon sambil menggerakkan tubuhnya dan menghirup udara segar di pagi hari. Sejenak Nanney terdiam dan tertunduk sedih ketika teringat kenangan pahitnya itu, kenangan yang penuh kepedihan dan air mata. Tidak terasa, Nanney meneteskan air matanya dan membasahi kedua pipinya. Nanney yang tidak sanggup untuk berteriak, dirinya hanya bisa memendamnya dan menangis sesenggukan.


"Maaf, maafkan aku." Gumamnya sambil tertunduk sedih, bahkan dirinya tidak mampu untuk berucap lagi. Sesenggukan ia menangis saat merasa begitu sulit untuk menerima kenyataan yang cukup pahit untuk dikenang dalam hidupnya.


Gane yang baru saja selesai mandi, ia kembali untuk menemui istrinya. Saat berada di belakang istrinya, ada beberapa kalimat yang tertangkap oleh indra pendengarannya. Tidak hanya kalimat saja yang dapat didengar, tetapi suara menangis sesenggukan pun, dapat Gane dengar dengan sangat jelas.


Pelan pelan Gane berjalan mendekati istrinya, lalu berdiri disebelahnya.


"Kamu sedang menangisi siapa? kelihatannya sedang memikirkan seseorang yang sangat kamu rindukan, apakah kamu sedang merindukan Regar?" tanya Gane langsung pada pokok intinya, entah salah ataupun benar, Gane asal menebaknya.


Bahkan, Gane tidak peduli dengan seberapa kekesalan pada sang istri terhadapnya. Nanney tetap tidak menoleh pada suaminya, pandangannya lurus ke depan.


"Tidak, aku tidak pantas untuk merindukannya." Jawabnya tetap pada posisi yang tidak menoleh ke kiri maupun ke kanan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyanya lagi, kini Gane tetap menoleh pada istrinya meski tidak ditanggapi oleh sang istri.


"Karena sekarang, aku bukan istrinya lagi." Jawabnya yang cukup menusuk hati suaminya yang sekarang.


"Terus, sekarang kamu istrinya siapa?" tanyanya dengan kalimat yang sangat bodoh dan tidak tahu diri, pikir Gane sambi mengatur pernapasan nya.


Saat itu juga, Nanney langsung menoleh pada suaminya dan menatapnya dengan berani.


"Aku sendiri tidak tahu, entahlah. Aku benar-benar tidak tahu kalau aku ini istrinya siapa, yang jelas aku istrinya seorang laki laki." Jawabnya dan tersenyum lebar pada suaminya.


"Hem, gitu ya."


"Ya, benar 'kan?"


"Gak cuman benar, tetapi sangat tepat." Kata Gane, sedangkan Nanney sendiri tersenyum lebar pada suaminya.


"Kak, aku lapar." Ucap Nanney yang tiba-tiba perutnya terasa keroncongan akibat belum makan malam.


"Tahan dulu, nanti sekalian pulang. Kita tidak mempunyai makanan apapun, ada juga cemilan. Tapi tidak aku izinkan untukmu memakannya, aku takut ada sesuatu yang dimasukkan didalam makanan itu." Jawabnya.


"Makanan yang Kak Gane pesan itu? jadi ..."


"Ya, kita melakukannya karena ada obat perang*sangnya pada minuman maupun makanan yang sudah kita makan. Maafkan aku yang sudah ceroboh menerima pesanan tanpa diiselidiki terlebih dulu." Kata Gane menjelaskan.


"Pantas saja, kepalaku semalaman terasa sangat sakit dan juga pusing. Bahkan, aku sendiri tidak mampu untuk menjaga keseimbangan berat badanku. Tidak hanya itu saja, dalam tubuhku terasa panas dan menginginkan hal itu." Ucap Nanney berterus terang tanpa malu.


Saat itu itu juga, Gane langsung memeluk istrinya karena rasa bersalahnya atas kecerobohannya itu hingga menyakiti hati istrinya tanpa didasari dengan rasa suka maupun cinta.


"Aku berjanji, aku akan bertanggung jawab atas semua yang aku lakukan padamu." Ucap Gane sambil memeluk istrinya dengan erat hingga istrinya sulit untuk bernapas.

__ADS_1


__ADS_2