
Karena rasa penasaran, Ciko mencoba untuk tenang dan tidak langsung menghampiri.
'Aku sedang tidak salah lihat, 'kan? semoga saja, dugaan ku ini benar.' Batin Ciko masih terus mengawasi seseorang yang tengah menikmati makan siangnya.
Tak lama kemudian, seorang pemilik warung menghampiri Ciko dengan membawa pesanannya.
"Ini Nak, pesanan kamu." Ucapnya sambil menyodorkannya.
Setelah Ciko menerimanya, ia segera merogoh kantong saku celananya untuk mengambil dompet dan membayar tagihan.
Sesudah itu, Ciko keluar dan masuk kedalam mobil. Karena rasa penasaran, Ciko memilih untuk menunggu. Takut, jika dirinya akan kehilangan sesuatu yang berharga.
Tidak lama kemudian, seorang lelaki yang tidak lagi muda dengan pakaiannya yang lusuh bak orang gelandangan, baru saja keluar dari warung makan tersebut.
Ciko yang ingin mengetahui kebenarannya, ia terus mengikutinya dengan melajukan kendaraannya dengan lambat untuk mengimbangi seseorang yang tengah berjalan kaki menyusuri jalanan.
Ketika berada di lingkungan yang cukup sepi, Ciko baru sadar, pasti akan ada mata-mata yang terus mengintai dirinya. Saat itu juga, Ciko menghubungi salah satu anak buahnya untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa diketahui.
Sambil menyetir, sambungan telpon bersama anak buahnya masih terhubung.
"Bagaimana, apakah kamu bisa membujuknya?" tanya Ciko sambil menyetir.
Tentu saja, dirinya sangat takut jika sesuatunya akan gagal.
"Baiklah, aku akan segera datang. Awasi dan jaga dengan ketat. Ingat, jangan sampai kabur." Perintah Ciko pada anak buahnya.
__ADS_1
Sedangkan di tempat yang cukup jauh dari pemukiman warga, anak buah Ciko tengah menyandra orang yang dimaksudkan.
"Hei! anak muda, lepaskan tanganku ini."
Dengan suara yang cukup keras, semua anak buah Ciko tersenyum tanpa menanggapinya.
"Kalian itu mau ngapain menangkap ku. Asal kalian tahu, aku ini bukan orang kaya. Kalian akan rugi nantinya, dan aku sendiri tak pandai menjadi seorang pengemis." Ucapnya lagi untuk bisa lepas dari ikatan tali pada tangannya.
Tidak lama kemudian, datanglah Ciko dengan segala penampilan yang sangat aneh. Berambut panjang dan seksi, membuat semua anak buahnya menahan tawa.
Bagaimana tidak ingin tertawa, melihat bosnya udah kek bidadari keluar dari bengkel las, pikir mereka semua.
Tapi tidak untuk yang disandera, justru merasa takut ketika melihat orang jadi-jadian yang super aneh seperti Ciko saat ini.
"Bos, baru pulang mangkal ya?" ledek salah satu anak buahnya sambil menahan tawa.
Ciko yang malas berbicara, hanya melirik pada beberapa anak buahnya.
"Kalian semua keluar, tidak ada yang tersisa di dalam ruangan ini." Perintah Ciko sambil menunjuk pada arah pintu.
Tak ada lagi anak buah yang berada ruangan tersebut. Kini, tinggallah Ciko bersama seseorang yang tidak lagi muda.
"Kau mau apa anak muda?" tanya Beliau langsung pada topik selanjutnya tanpa memperhatikan sosok Ciko di hadapannya.
"Saya tidak ingin apa-apa, hanya ingin sebuah pernyataan dari Bapak." Jawab Ciko sambil melepaskan rambut palsunya dan juga mengusap bibirnya.
__ADS_1
"Sebuah pernyataan?"
Beliau kembali bertanya untuk kembali memastikan permintaan yang aneh itu.
"Ya Pak, saya membutuhkan sebuah pernyataan dan jawaban yang murni tanpa Bapak rekayasa." Jawab Ciko memperjelas ucapannya.
"Katakan padaku, pernyataan apa yang kamu inginkan?"
Ciko yang malas menjelaskan, dirinya cukup mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan sesuatu pada seseorang yang ada di hadapannya itu.
Saat layar ponselnya menyala, Ciko membuka galeri dan menunjukkan sesuatu pada Beliau.
"Apakah Bapak sudah lupa dengan foto ini?"
Bagai tersambar petir saat melihat foto yang tidak asing dalam ingatannya. Saat itu juga, Beliau meneteskan air matanya dan menunduk sedih.
"Apakah Bapak juga lupa dengan saya?"
Ciko kembali bertanya dan melepas pakaiannya dan menghapus make-up nya dan mencuci mukanya sebentar. Dan kini terlihat jelas wajah Ciko yang asli tanpa penampilannya yang palsu.
"Cik- Ciko putranya Wi-cak-sono." Ucapnya terbata-bata, Ciko sendiri mengangguk pelan.
"Benar, saya Ciko Wicaksono." Jawab Ciko dengan tegas.
Seketika, Beliau menangis dan memeluk Ciko dengan erat.
__ADS_1
"Maafkan Bapak yang tidak bisa bertanggung jawab, maafkan Bapak yang tidak becus ini." Ucap Beliau yang terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.