Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Bagai terpenjara


__ADS_3

"Aw!" pekiknya saat tubuhnya terbentur cukup membuat bagian punggungnya terasa sakit.


"Nona Nanney?" sebut Ciko dengan nama adik ipar dari Bosnya.


Nanney yang merasa sedikit sakit, dirinya hanya bisa diam tanpa berucap sepatah katapun. Setelah itu Gane segera masuk kedalam dan menutup kembali pintu mobilnya.


"Cepat kau lajukan mobilnya, jangan banyak tanya." Perintah Gane pada Ciko.


"Ya, Bos." Jawabnya dan menuruti perintah dari Bosnya, sedangkan Nanney masih saja diam dan sambil menahan rasa sakit akibat serangan dari orang orang yang menuduhnya seorang jambret.


Gane meliriknya dengan sekilas, tak ada rasa kasihan sedikitpun atas luka yang tengah dirasakan Nanney pada kedua sudut bibirnya yang terlihat memar.


'Sial! kenapa juga aku mesti bertemu dengan lelaki sombong ini, benar benar menyebalkan. Aku yakin, pasti ujungnya minta imbalan lagi.' Batin Nanney berdecak kesal.


Gane masih tetap diam, pandangannya fokus lurus ke depan tanpa menoleh ke sebelahnya.


"Bos, kita mau kemana?" tanya Ciko sambil menyetir dan juga masih dengan pandangannya lurus ke depan.


"Tentu saja pulang ke rumah, memangnya kemana lagi? ha. Ah sudahlah jangan banyak tanya, ikutin saja apa yang aku perintahkan, nanti kamu bakal tahu sendiri." Kata Gane, Ciko hanya bisa nurut dengan apa yang diperintahkan oleh Bosnya.


Nanney yang mendengarkannya pun, tiba-tiba terkejut dan membulatkan kedua bola matanya.


"Pulang ke rumah?" dengan reflek Nanney tengah berucap dan tentunya menoleh ke arah Gane dengan ekspresinya.


CTAK!

__ADS_1


"Aw!" pekik Nanney sambil mengusap keningnya berulang ulang.


"Kenapa? mau marah? marah saja sendiri. Kau masih mempunyai hutang denganku, ingat itu." Ucap Gane sambil menatapnya tajam.


Nanney memilih untuk diam dan menyandarkan kepalanya pada kaca jendela sambil memikirkan sesuatu, dari pada ia harus menerima perlakuan kasar dari kakak iparnya, pikir Nanney disela sela lamunannya.


Tidak memakan waktu lama, akhirnya telah sampai di halaman rumah yang cukup sederhana untuk dijadikan tempat tinggal.


"Bos, kita sudah sampai." Ucap Ciko mengagetkan Gane yang tengah melamunkan sesuatu.


"He! turun." Perintahnya pada Nanney.


"Apa, kita sudah sampai? perasaan belum putar balik deh." Kata Nanney sambil memperhatikan disekeliling mobil.


"Jangan banyak tanya, ayo turun. Apa perlu aku tarik paksa, ha! ayo cepetan turun."


"Mimpi apa aku semalam, bisa bisanya aku bertemu dengannya lagi setelah bebas dari rumah terkutuk itu. Dan kini aku mau diapakan lagi, coba. Benar-benar membuatku kesal saja, jangan sampai aku dikurung di rumah kecil itu." Gumam Nanney yang tanpa sadar masih ada Ciko yang masih berada didalam mobil.


"Semalam Nona tidak bermimpi apa apa, percayalah dengan saya, Nona. Tempat ini sangatlah cocok untuk ditempati oleh Nona dan Bos Gane, yakinlah." Sahut Ciko setengah meledek. Seketika, Nanney terkejut saat ucapannya tengah didengar oleh Ciko.


"Awas! kamu ya, kalau sampai mengadu sama Bos kamu itu yang tengil. Aku bakal membalasnya, ingat itu." Ucap Nanney sambil menakuti Ciko, padahal diri sendiri jauh lebih takut dengan ucapannya sendiri.


Ciko yang mendengarnya pun, ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dan segera keluar dari mobil. Begitu juga dengan Nanney yang pada akhirnya ikut turun dan menyusul Gane yang kini sudah berada di teras rumahnya yang selama ini dijadikan tempat singgah serta untuk melakukan aksinya ketika dirinya tengah melakukan pengiriman pesanan dari pelanggannya.


Sambil berdecak kesal, Nanney berjalan mendekati kakak iparnya yang sedang membuka kunci pintunya.

__ADS_1


"Jangan bilang kalau kak Gane mau mengurungku di rumah ini, lebih baik aku jadi gelandangan." Ucap Nanney, Gane langsung menoleh ke belakang.


"Kau bilang apa tadi? jadi gelandangan? ha! serius?"


"Ya lah, dari pada aku dijadikan ajang balas dendam." Jawab Nanney dengan terang terangan. Gane yang mendengarkannya puj, ia langsung memegangi dagu oval milik Nanney dan menekannya dengan sangat kuat. Setelah itu, Gane mendekatkan wajahnya didekat wajah milik adik iparnya dan disertai tatapan yang sangat tajam.


"Setelah aku puas membalaskan dendam atas meninggalnya adikku, maka aku akan membiarkan kamu untuk menjadi gelandangan. Sedangkan untuk saat ini, jangan harap kau bisa lepas dari genggamanku." Ucap Gane sambil menekannya lebih kuat lagi.


Nanney yang menahan rasa sakit, ia berusaha untuk memberontak dan melawan kakak iparnya. Namun sayang disayang, tenaga Gane jauh lebih kuat darinya, Nanney hanya bisa meringis menahan rasa sakit saat tangannya dipelintir kebelakang oleh Gane.


"Mau jadi jagoan? lakukan saja kalau berani, aku bisa melakukannya lebih kasar lagi jika kamu terus melawanku." Ucap Gane sambil memberi sebuah ancaman, Nanney hanya menunjukkan ketidaksukaannya di hadapan Gane.


'Saat ini aku boleh kalah darimu, tapi lihat saja nanti. Aku bakal balas semua perlakuan kamu terhadap diriku ini, ingat itu.' Batin Nanney sambil mengepal kuat kedua tangannya serta dengan segala kekesalannya saat ia merasa diremehkan begitu saja.


"Masuklah dan jangan memancing kekesalanku, paham." Ucap Gane dan membuka pintu serta mendorong Nanney masuk kedalam rumah. Kemudian ia tarik tangannya hingga di depan pintu kamar.


Dengan rasa penuh kekesalannya, Nanney berusaha untuk tetap tenang. Walaupun rasa kesal yang sudah menguasai emosinya ingin segera ia luapkan di hadapan kakak iparnya. Namun, sebisa mungkin dirinya untuk tetap terlihat tenang dimata Gane.


"Masuklah kedalam kamar, bersihkan tubuhmu itu yang penuh kesialan. Setelah itu, istirahatlah. Karena kapan saja aku bisa memanggilmu dan menuruti perintahku, paham." Ucap Gane, lalu membuka pintunya dan juga mendorong tubuh Nanney hingga jatuh ke tempat tidur.


Ciko yang melihatnya pun, ia tidak bisa berbuat apa apa pada Nanney. Meski ada rasa kasihan atas perlakuan kasar pada Bosnya, hati Ciko seakan terasa sakit melihatnya. Seketika, ia teringat pada adik perempuannya yang juga tidak dapat ditemukan jasadnya saat mengalami kecelakaan pada kapal bersama kedua orang tuanya beserta keluarga Bosnya.


'Andai saja kamu selamat , kamu pasti sudah tumbuh dewasa. Lihatlah Gane, sedikitpun tidak mau membuka hatinya untuk perempuan lain hanya karena rasa bersalahnya kepadamu yang tidak bisa menyelamatkan nyawamu dikala itu. Sejak perpisahan itu, sosok Gane selalu bersikap kasar terhadap siapa saja yang sudah mengusik miliknya.' Batin Ciko ketika teringat pada adik perempuannya.


Setelah urusannya selesai dengan Nanney, Gane langsung mencari keberadaan Ciko.

__ADS_1


"Bos, sebenarnya ada apa sih?" tanya Ciko karena rasa penasarannya.


"Kita duduk di ruang sana, akan aku jelaskan semuanya padamu." Ucap Gane dan menunjuk pada sebuah ruangan transparan, Ciko mengangguk dan mengikuti langkah Bosnya.


__ADS_2