Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Merasa bersalah


__ADS_3

Saat itu juga, Nanney tersadar atas apa yang dilakukan oleh suami adiknya. Secepatnya, Nanney langsung melepaskan pelukannya.


Henny yang melihat serta mendengar suaminya memanggil Nanney dengan panggilan sayang, benar-benar tidak menyangkanya.


"Lepaskan!" ucap Nanney dan langsung berdiri sambil memegangi perutnya.


"Maksudnya ini semua, apa?" tanya Henny yang sama sekali tidak mengerti.


"Henny, maafkan Kakak. Bukan maksud Kakak untuk membuatmu kesal, ini hanya sebuah pertolongan saja, tidak lebih." Jawab Nanney mencoba untuk meyakinkan adiknya.


"Bohong, jangan-jangan selama ini kalian berdua menjalin hubungan sejak Kakak pulang ke rumah."


"Henny, aku bisa jelaskan semuanya padamu." Ucap Nanney penuh penyesalan karena sudah menyelamatkan suami adiknya.


Henny yang benar-benar sakit hati, ia bergegas langsung berlari untuk pergi dari hadapan sang kakak.


Nenek yang juga ikut merasa dibohongi, hatinya ikut merasa kecewa atas tindakan yang sudah dilakukan oleh Nanney dan lelaki yang bernama Danu.


"Nenek benar-benar sangat kecewa sama kamu, Nanney." Ucap Nenek dengan penuh kekecewaan saat melihat Nanney yang mendapat pelukan dari suami adiknya. Karena merasa malu di khalayak para penonton dan yang lainnya, Nenek Aruma segera pergi menyusul Henny. Takut, jika terjadi sesuatu padanya.


Sedangkan yang lainnya, memilih untuk diam karena memang tak tahu permasalahannya, takut akan menjadi perkara baru.


Nanney yang merasa bersalah, akhirnya segera menyusul Henny dan Nenek Aruma pulang ke rumah untuk menjelaskan semuanya.


Sedangkan sosok Danu yang masih merasakan pusing pada bagian kepalanya, antara sadar dan tidak sadar, ia langsung mengejar Nanney dengan langkah kakinya yang cukup gesit sambil menahan perutnya agar tidak terjadi sesuatu pada kandungan nya.


"Sayang, tunggu." Panggil sosok Danu sambil mengejar hingga berjalan dengan beriringan. Nanney yang masih merasa dongkol, sepatah katapun tak terucap sama sekali dari mulutnya.


"Sayang, berhenti." Ucapnya sambil menghadang Nanney dengan merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Minggir! aku harus segera pulang, aku akan menjelaskannya pada Nenek dan juga Henny. Ini semua gara-gara ucapanmu yang mengacaukan semuanya. Dan kamu, Henny itu istrimu, seharusnya kamu itu mengejarnya dan jelaskan semuanya pada Henny istrimu." Jawab Nanney yang semakin geram.


"Baik, aku akan menjelaskan semuanya pada Adikmu dan juga Nenek Aruma. Bahwa kita adalah suami istri yang sebenarnya, dan sekarang aku sudah mengingat semuanya. Aku adalah Regar Huttama, suami sah kamu. Aku putra dari mendiang Riko Huttama, yang tidak lain adik dari Ganenta Huttama. Dan sekarang, Kak Gane tengah menjalani hukumannya di sel tahanan karena melakukan perdagangan ilegal senjata api dan senjata tajam lainnya." Ucapnya untuk menjelaskan secara detail.


Bagai tersambar petir, ketika mendengar pengakuan dan penuturan dari seseorang yang ada dihadapannya itu. Sekujur tubuh milik Nanney seakan tak berdaya. Bahkan, kedua kakinya tak mampu untuk menopang berat badannya. Sungguh, semua diluar dugaan.


"Bohong! kamu pasti pura-pura mengingatnya, jangan-jangan kamu mengorek berita di media sosial tentang sosok yang mirip dengan dirimu."


"Kalaupun aku berbohong padamu, apa untungnya aku. Aku Regar, suami kamu. Dan kamu itu benar istriku, yang dulunya menjadi sekretaris ku. Kita menjalani hubungan sudah cukup lama, sayang. Aku sudah ingat semuanya, aku pun masih ingat saat kita mendapatkan musibah insiden kecelakaan kapal yang terbakar. Kita terjun bersama, kedua tangan kita sama-sama terikat. Naas, kita harus berpisah saat itu. Diligen yang dijadikan alat untuk menjadi penyelamat kita, rupanya terlepas bersamaan dengan kain yang mengikat pada tanganku. Apakah pengakuan ku ini masih kurang jelas, sayang? aku Regar suami kamu." Ucapnya sambil memperjelas atas pengakuannya.


Nanney terdiam seribu bahasa, mulutnya terasa kelu untuk berucap. Haruskah bahagia atau bersedih, di waktu itu juga Nanney tak mampu untuk menggambarkan perasaannya sendiri.


Dilema dalam sebuah masalah, membuatnya tak tahu harus berkata apa. Tidak mungkin juga untuk mengakui segalanya jika dirinya telah menikah dengan kakak dari suami pertamanya.


"Sayang, aku suami kamu. Aku ini Regar, Regar Huttama." Ucapnya yang terus mencoba untuk meyakinkan.


Karena basah kuyup dan kedinginan disertai dengan rasa penat yang sudah menguasai pikirannya, tiba-tiba Nanney jatuh pingsan. Dengan sigap, dapat di tangkap oleh Regar.


Sampainya di klinik, Nanney segera diperiksa dan digantikan pakaiannya karena basah kuyup akibat menolong suami adiknya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Bu Dokter?" tanyanya dengan cemas.


"Istri Bapak baik-baik saja, begitu juga dengan kandungannya. Mungkin karena shock, istri Bapak jatuh pingsan. Tidak perlu khawatir, sebentar lagi juga siuman." Jawab Bu Dokter.


"Syukurlah jika istri saya tidak kenapa-kenapa. Terimakasih banyak ya, Bu Dokter." Ucapnya.


"Sama-sama, kalau begitu saya permisi. Karena saya harus memeriksa pasien yang lainnya yang sudah mengantri." Jawab Bu Dokter sekaligus berpamitan.


Setelah Bu Dokter keluar, kini tinggal sosok Danu dan Nanney berada di ruang rawat pasien. Tidak lama kemudian, pelan-pelan Nanney membuka kedua matanya dengan sempurna. Kemudian, dirinya mengamati isi didalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Saat itu juga, pandangan Nanney tertuju pada sosok Danu yang tengah duduk disampingnya sambil memegangi kedua tangannya.


Dengan cepat kilat, Nanney langsung melepaskan tangannya. Sebisa mungkin untuk menghindari, takutnya akan ada sesuatu yang bisa menjadikan konflik lebih besar lagi, pikir Nanney dengan kecemasannya.


"Kamu itu kenapa sih, sayang? aku ini suami kamu loh, si Regar."


'Tidak mungkin juga aku harus berkata jujur, jika aku ini adalah istri Kak Gane.' Batin Nanney dengan segala kebingungan nya.


"Nenek, dimana Nenek dan Henny? aku ingin pulang, aku ingin bertemu dengan mereka dan meminta maaf."


"Ya, nanti kalau keadaan kamu sudah benar-benar membaik dan diizinkan untuk pulang, kita akan pulang."


"Tapi aku maunya sekarang, bukan nanti. Aku mohon sama kamu untuk mengatakannya pada Nenek dan juga Henny, jika kita tidak mempunyai hubungan apapun. Aku tidak mau menyakiti hatinya Henny dan juga Nenek Aruma."


"Kamu itu sudah gi*la, apa! seharusnya kita itu berkata jujur pada mereka berdua, bahwa kita ini suami istri yang terpisah karena insiden kecelakaan pada kapal. Bukan untuk membohongi mereka, aku tidak akan mau."


"Jadi, kalian berdua ini suami istri?" tanya Nenek Aruma yang tiba-tiba mengagetkan dan sudah berdiri di ambang pintu sambil mendengarkan semua yang sudah diucapkan oleh sosok Danu.


Saat itu juga, Nanney sangat terkejut saat kedatangan Nenek Aruma. Karena panik dan merasa bersalah besar, ia langsung bangkit dari posisinya dan duduk dengan kedua kakinya yang menggantung saat mendapati Nenek Aruma yang sudah berdiri dengan jarak yang tidak begitu jauh darinya.


Nenek Aruma berjalan mendekati Nanney dan juga sosok Danu yang berstatus suami Henny.


"Nek, maafkan Nanney. Ini semua bisa Nanney jelaskan, dan semua ini ada yang tidak benar." Ucap Nanney dengan perasaan takut, jika Nenek Aruma tidak mau mempercayai dirinya.


"Saya juga minta maaf, Nek." Timpal suami Henny.


"Nanney yang salah Nek, maafkan Nanney. Karena ketidakjujuran, semua mendapatkan imbasnya." Timpal Nanney yang merasa bersalah.


"Nenek benar-benar sangat kecewa sama kamu, bisa-bisanya membohongi adik kamu sendiri." Ucap Nenek Aruma yang penuh kecewa.

__ADS_1


"Nanney berbohong itu ada sebab dan juga akibatnya, Nek. Berkata jujur itu tidak semudah membalikkan telapak tangan ketika kita dipaksa untuk berbohong, Nek." Jawab Nanney dengan gelisah, ditambah lagi tidak ada yang membantu untuk menjelaskan tentang kebenarannya yang ada.


__ADS_2