Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Mendapatkan tugas


__ADS_3

Gane masih menumbangkan apa yang dikatakan Ciko, sahabat sekaligus bagaikan saudara sendiri.


"Aku akan pikirkan lagi saran dari kamu." Kata Gane sambil memijat pelipisnya.


"Baiklah, keputusan ada pada Bos Gane. Aku masih ada pekerjaan yang lain, sebaiknya aku pergi." Ucap Ciko sekaligus berpamitan.


"Jangan lupa untuk mengawasi semuanya, aku percayakan semuanya sama kamu." Kata Gane memberi pesan, Ciko mengangguk serta membalikkan badannya dan bergegas keluar dari ruang kerja Bosnya.


Kini tinggal Gane yang masih berada di ruang kerjanya, suara ketikan pintu tengah mengagetkan. Gane langsung menekan tombol remot, dan pintunya pun terbuka dengan sendirinya.


"Permisi, Tuan."


"Masuklah dan jangan banyak basa-basi." Perintah Gane, dan segera masuk.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa darinya yang menjadi orang kepercayaan di Perusahaan keluarga Huttama.


"Pagi, silakan duduk." Ucap Gane, kemudian menatap pada sekretarisnya.


"Ada apa, Doin?"


"Begini Tuan, hari ini akan ada pertemuan dengan pemilik perusahaan Ganendra Utama."


Seketika, ingatan Gane di masa remajanya. Perlahan ia menghembuskan napasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jam berapa?" tanya Gane sambil menatap Doin dengan tatapan yang serius.


"Jam sebelas, Tuan." Jawab Doin, Gane menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kamu persiapkan saja tempatnya. Sesuai jam perjanjian, kamu panggil aku jika orangnya sudah datang." Ucap Gane memberi perintah pada sekretarisnya.


"Ya, Tuan. Kalau begitu saya permisi."


"Silakan." Kata Gane.

__ADS_1


Saat Doin sudah tidak ada lagi di hadapannya, Gane mulai menyibukkan pada layar kerjanya.


"Ada apa lagi dengan perusahaan Ganendra Utama, apakah ada kaitannya dengan Paman Hardika? bisa saja." Gumam Gane sambil fokus pada layar kerjanya, kemudian membuang napasnya dengan kasar.


Sedangkan di kediaman keluarga Huttama, Nanney tengah sibuk mencari ide. Tentu saja, ide yang bisa membuatnya dapat lepas diri dari keluarga suaminya.


"Bagaimana ini, apakah aku bisa kabur dari rumah ini? ah! aku harus minta bantuan siapa? tidak mungkin sama mbak Lina." Gumam Nanney di depan cermin sambil bermonolog.


Karena tidak ada cara lain selain berusaha sendiri, Nanney terus mencoba mencari idenya. Berharap dirinya bisa lepas dari hukuman kakak iparnya sendiri. Saat itu juga, tiba-tiba Nanney teringat kembali dengan ucapan dari asisten rumah yang bernama mbak Lina.


"Yang dikatakan mbak Lina kira-kira benar atau tidak, ya?" gumam Nanney dengan segala tebakannya.


Ketika terhanyut dalam lamunannya, suara ketukan pintu telah mengagetkan Nanney. Segera ia membuka pintunya, tentunya dengan sangat hati-hati. Takut, jika yang mengetuk pintunya adalah kakak iparnya sendiri.


"Mbak Lina, aku kira siapa. Ada apa ya, Mbak?" tanya Nanney penasaran.


"Tidak ada apa-apa, Nona. Hanya saja, Tuan Gane meminta Nona untuk membereskan kamarnya, termasuk mengganti sepreinya." Jawab mbak Lina, seketika Nanney terkejut mendengarkannya.


"Serius, Mbak?" tanya Nanney untuk memastikan.


"Baiklah kalau begitu, aku akan segera membereskannya." Ucap Nanney dengan lesu.


Ujarnya ingin kabur dari rumah, kenyataan yang ia dapatkan justru berbanding terbalik dari perkiraan.


Tidak perlu untuk menuruni anak tangga, Nanney tinggal berjalan mengarah kamar milik. kakak iparnya. Sampainya didalam kamar, sepasang matanya mengamati isi dalam kamar tersebut.


Meski sudah pernah masuk, Nanney tidak ada kesempatan untuk memperhatikan pada setiap sudutnya. Tanpa Nanney sadari, dibalik layar ada seseorang yang tengah mengawasi dirinya.


Nanney yang tidak mempunyai cara lain, terpaksa ia melakukan apa yang dilakukan oleh asisten rumah. Bukan tidak pernah hidup susah, Nanney hanya merasa jika dirinya tengah direndahkan oleh kakak iparnya sendiri.


Geram, itu sudah pasti. Tidak ada cara lain untuk menghindarinya selain kabur dari rumah kediaman keluarga Huttama.


Selesai mengganti seprainya, pandangan milik Nanney kembali tertuju pada sebuah bingkai kecil yang bertengger di atas nakas.

__ADS_1


Dengan sangat hati-hati, Nanney memperhatikan bingkai kecil itu. Diambil bingkai tersebut dan diperhatikan pada sebua foto yang sudah sangat lama.


"Lucu sekali foto ini, tapi ... kenapa tidak ada suamiku? apakah mereka berdua tidak akrab? tapi ... bukannya kak Gane sangat menyayangi adik laki-lakinya. Bahkan aku saja harus menjadi sasaran empuknya, sasaran ajang balas dendam karena harus kehilangan adik kesayangannya." Gumam Nanney sambil mengamati foto tersebut.


Sedangkan di ruang kerja, tiba-tiba Gane mengepalkan satu tangannya saat melihat rekaman CCTV di dalam kamarnya. Rahang yang mulai mengeras dan disertai suara gigi yang menggerutuk.


Nanney sendiri hanya bisa menyimpan rasa penasaran mengenai foto tersebut. Karena tidak ingin berlama-lama di dalam kamar, cepat-cepat untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Lumayan memakan waktu yang cukup lama, Nanney masih berkutik di dalam kamarnya. Bagaimana mau beres, ruang kamar yang cukup luas membuat Nanney kualahan untuk membereskannya.


"Nona," panggil mbak Lina mengagetkan."


"Mbak Lina, ngagetin saja. Ada apa ya, Mbak?"


"Kalau Nona sudah selesai, Tuan Gane meminta Nona untuk membereskan ruang kerjanya." Ucap mbak Lina, lagi lagi Nanney kembali terkejut.


Bukannya merasa lega, seketika tubuhnya serasa terkunci dan sulit untuk digerakkan. Nanney sendiri hanya bisa menelan ludahnya. Bahkan untuk bernapas lega pun, seakan Nanney merasa sesak di dalam dadanya.


"Nona tidak apa-apa, 'kan?"


"Tidak apa-apa kok, Mbak. Aku baik baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab Nanney beralasan dan sambil mengelap keringat yang mulai membasahi kedua pelipisnya.


Mbak Lina yang melihat Nanney terlihat kelelahan, hatinya begitu tidaj tega untuk melihatnya. Namun mau bagaimana lagi, mbak Lina yang hanya asisten rumah hanya bisa diam sambil menyimpan rasa kasihan.


"Kalau Nona capek, Nona bisa istirahat sebentar. Jangan dipaksakan, Nona. Kalau Nona jatuh sakit, bagaimana?" ucap mbak Lina, Nanney pun tersenyum melihatnya.


"Mbak Lina jangan khawatir, aku baik baik saja. Hal yang wajar jika merasa lelah, Mbak. Yang terpenting itu, pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Setelah itu, baru istirahat." Kata Nanney untuk menyemangati dirinya sendiri, meski kenyataannya merasa diperlakukan tidak baik.


"Ya sudah kalau begitu, Nona. Semoga Nona bisa melewati semua ini, dan setelahnya mendapatkan apa yang terbaik untuk Nona." Ucap mbak Lina berusaha untuk menyemangati istri dari majikannya.


Setelah mbak Lina keluar dari kamar, selanjutnya Nanney mengerjakan tugasnya sesuai yang diperintahkan oleh kakak iparnya melalui asisten rumah.


Ketika sudah berada di ruang kerja milik kakak iparya, Nanney lanjut membereskan isi ruangan tersebut. Satu persatu Nanney mengelap benda yang terlihat kotor. Lanjut lagi untuk menata apa yang berserakan di atas meja kerjanya. Lagi lagi Nanney mendapati beberapa lembar foto yang tergeletak di atas meja kerja.

__ADS_1


"Foto lagi, sepertinya foto keluarga. Tapi ... kenapa tidak ada foto paman pamannya? terus, ini foto siapa? ah, ngapain aku jadi memikirkan foto ini. Lagian juga tidak ada hubungannya denganku." Gumam Nanney saat mengamati foto tersebut.


__ADS_2