
Pagi yang cerah, namun tak secerah harapan Nanney. Meski terasa malas untuk bangun dari tempat tidur, ia sadar bahwa dirinya tengah berada di tempat orang lain.
Karena tidak tahu harus melakukan apa, Nanney segera bangun dan membereskan tempat tidurnya. Setelah itu Nanney mencuci mukanya dan yang lainnya. Selesai semuanya, Nanney langsung keluar dari kamar.
Sepasang matanya celingukan mencari keberadaan Ciko, sekilas bayangannya pun tak nampak walau hanya sebatang hidungnya saja.
"Mumpung lagi pada tidur, apa salahnya jika aku keluar dari rumah ini. Siapa tahu saja aku dapatkan udara segar." Gumamnya, lalu ia segera bergegas menuju pintu utama. Senyum mengembang saat melihat pintunya hanya dikunci manual, pelan pelan Nanney membuka pintunya dan tentu saja berhasil membukanya.
Sambil menggerakkan anggota tubuhnya, dengan pelan-pelan Nanney menghirup udara segar yang sudah lama tidak is hirup dengan leluasa ketika menyambut paginya.
Tanpa Nanney sadari, jika dirinya tengah diperhatikan oleh beberapa warga disekitarnya.
"Eee ada si Eneng yang cantik toh, Istrinya Bang Gane ya, Neng? atau ... istrinya Bang Ciko?" tanya salah satu ibu-ibu yang pas kebetulan lewat didepan rumah dan mendapati Nanney yang tengah mencari udara segar di depan rumah.
Nanney yang mendapati sebuah pertanyaan, sejenak ia terdiam. Tidak mungkin jika dirinya harus berbohong, sama halnya mencelakai diri di sendiri, pikirnya.
"Em ... bukan, Bu."
"Bukan? memangnya siapanya Bang Gane dan Bang Ciko, Neng?" tanya si Ibu penasaran.
"Wah ... sudah tidak beres ini, jangan jangan ..."
"Hus! tidak baik berprasangka buruk, kita tanyakan dulu." Timpal yang satunya.
__ADS_1
"Aku bukan siapa-siapanya mereka berdua, Bu. Aku hanya ..."
"Calon istri saya, Bu. Sebentar lagi kita akan segera menikah, Ibu-ibu semua akan saya undang." Sahut dari belakang, dan tidak lupa merangkul Gane bak kekasih yang nyata.
"Oooh, jadi si Eneng calon istrinya Bang Gane. Kenapa harus malu-malu, Neng. Malu ya, Neng? jangan malu malu atuh." Ucapnya yang tidak lupa melemparkan senyumannya, Nanney hanya tersenyum tipis.
"Ya atuh, Neng. Kenapa mesti ditutupin, nanti jatuhnya berita yang tidak baik. Kalau calon istrinya kan, warga sekitar tidak berprasangka buruk. Kalau bisa sih, cepetan menikah. Takutnya akan ada omongan tidak enak untuk didengar, serta akan dikucilkan oleh semua warga dan tentunya sams tetangga kanan dan kiri. Jangan lupa, secepatnya segera dipercepat pernikahannya agar tidak menimbulkan fitnah yang berkepanjangan." Ucap Ibu yang satunya ikut menimpali serta tidak lupa memberi nasehat kecil untuk Gane maupun Nanney.
"Ya, Bu Tin. Terimakasih sudah mengingatkan kami, secepatnya kita akan segera menikah." Jawab Gane mencoba untuk meyakinkan.
"Siap deh, ya sudah kalau gitu Ibu pamit. Ingat ya, jangan lama lama. Ingat juga untuk melapor ke Pak RT ya, Bang Ciko."
"Pastinya, Bu." Jawab Gane disertai anggukan.
Seketika, Nanney langsung melepaskan tangan Gane yang tengah merangkul dirinya bak sepasang kekasih yang sesungguhnya.
"Jangan sentuh aku, lepaskan." Ucap Nanney sambil berusaha untuk melepaskan tangan Gane.
Sekuat apapun yang dilakukan Nanney, tetap saja tenaga Gane jauh lebih kuat darinya. Bukan karena tidak berani untuk melawan kakak iparnya, Nanney masih bisa untuk melakukannya karena sejak insiden kecelakaan kapal telah mengurangi tenaganya yang sebenarnya juga memiliki kekuatan yang mampu untuk melakukan bela diri.
"Baiklah, sepertinya dengan cara menikahi mu aku akan mempunyai kebebasan untuk memegang anggota badan mu dan melakukan apapun yang aku mau. Dan tentu saja aku tidak harus berbohong di depan banyak orang." Ucap Gane dengan tatapan yang membuat Nanney bergidik ngeri melihat ekspresi dari kakak iparnya.
"Jangan, jangan lakukan itu Kak. Aku mohon, ucapan Kakak dihadapan ibu-ibu tadi untuk segera Kakak cabut." Pinta Nanney sambil mengatupkan kedua tangannya untuk memohon. Gane yang melihat Nanney memohon, dirinya tertawa mendengarkannya.
__ADS_1
"Kak, aku mohon jangan lakukan itu. Aku siap menerima semua pembalasan dari Kak Gane, tapi aku mohon jangan lakukan pernikahan apapun diantara kita. Kepergian suamiku belum ada satu bulan, Kak. Aku mohon, Kak." Ucap Nanney penuh harap dan terpaksa dirinya bersimpuh pada kedua kaki Kakak iparnya.
Saat itu juga, Gane berjongkok dan mengangkat dagu milik Nanney dan keduanya saling menatap satu sama lain.
"Baiklah, kita tunggu sampainya empat puluh hari, setelah itu kita akan menikah. Selama belum datang empat puluh hari, aku akan membiarkan kamu untuk tinggal di rumah ini ditemani oleh beberapa pelayan untuk menjagamu. Ingat, sejengkal pun kau tidak akan pernah bisa kabur dari rumah ini." Kata Gane dengan segala ancaman, Nanney yang mendengarkannya pun, ia hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan kakak iparnya selama belum ide untuk kabur, pikirnya.
"Bab---baiklah, lakukan saja sesuai kemauan Kakak hingga puas dan semua dendam Kakak terbalaskan." Ucap Nanney sambil menatap pada Kakak iparnya dengan tatapan penuh kebencian dan dibarengi dengan napasnya yang terasa panas. Bahkan otaknya pun, serasa mendidih.
"Masuklah, dan segera bersihkan badan kamu itu yang bau. Jangan khawatir, aku sudah memesankan semua pakaian lengkap mu selama kau tinggal di rumah ini." Perintah Gane yang tidak lupa mendorong Nanney hingga terjatuh ke belakang dan tidak lupa dengan tawanya yang seakan sangat puas karena dirinya dapat melakukan apa yang sudah menjadi dendamnya atas kematian adik laki-lakinya.
Nanney yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau ia segera masuk ke rumah. Ciko yang melihat sikap Gane, seakan ingin sekali memarahinya. Namun ia tidak ingin masalah semakin besar dan tentunya berubah menjadi rumit.
'Andai saja adik perempuanku diperlukan kasar seperti Nona Nane, aku tidak akan pernah memaafkan lelaki seperti Bos Gane, apapun alasannya. Tentu saja aku akan balik menghancurkan hidupnya.' Batin Ciko ketika mendapati sikap Gane yang begitu kasar terhadap perempuan yang tidak mempunyai salah apa-apa.
"Nona, bersabarlah." Ucap Ciko dengan singkat saat berpapasan dengan Nanney. Sedangkan Nanney sendiri hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah.
"Bos, rencana apa lagi yang akan Bos Gane lakukan?" tanya Ciko karena penasaran.
"Aku akan menikahi perempuan sial itu setelah kepergian Regar empat bulan sepuluh hari, aku memulai pembalasanku padanya." Jawab Gane tanpa menatap Ciko, justru ia menatap lurus ke sembarang arah.
"Bos, apa itu sudah menjadi keputusan yang tepat? takutnya Bos Gane akan masuk kedalam perangkap sendiri." Ucap Ciko mencoba untuk mengingatkan, Gane menarik napasnya dan membuangnya dengan kasar.
"Ini mutlak keputusanku, dan hanya dengan cara menikahinya aku bebas melakukan apapun untuk menyiksanya." Jawab Gane tanpa menerima nasehat kecil dari Ciko.
__ADS_1