Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Bertahan tapi sakit


__ADS_3

Makan malam pun telah selesai, tidak ada sesuatu hal buruk yang terjadi pada dirinya maupun sang istri. Selesai menikmati makan malamnya, Gane dan istri bergegas untuk pulang. Sebelumnya, Gane membayarnya terlebih dahulu.


Setelah itu, Gane dan Nanney keluar dari Restoran. Namun sebelumnya, Gane merogoh ponselnya yang berada dibalik jaketnya.


"Tunggu sebentar, aku mau mengirimkan pesan terlebih dahulu pada Ciko." Ucapnya, Nanney hanya mengangguk dan mengamati disekelilingnya.


Selesai mengirimkan sebuah pesan singkat untuk Ciko, Gane mengajak istrinya untuk yuk pulang.


Selama perjalanan, keduanya tampak hening. Tidak ada satupun di antara keduanya membuka suara. Nanney yang sedari tadi hanya bersandar pada jendela kaca mobil, ia sama sekali tidak menoleh pada suami barunya.


Saat dalam perjalanan pulang, Nanney kembali teringat dengan kenangan-kenangan indahnya bersama sang suami pertamanya. Pulang kerja yang selalu bersama, makan diluar yang juga selalu bersama, dan kini hanyalah tinggal kenangan semata. Merindukan, itu sudah pasti. Tapi, apalah daya Nanney, hanya bisa menyimpan kenangan indahnya dalam angan-angan.


Gane yang sekilas memperhatikan istrinya, ia kembali fokus dengan pandangan nya lurus ke depan. Setelah memakan waktu yang cukup lama dalam perjalanan, kini akhirnya telah sampai didepan rumahnya. Rumah sederhana, rumah kecil penuh kenangannya bersama gadis kecilnya di masa lalunya.


Kenangan yang sudah begitu lamanya, kini Gane telah mengingatnya kembali pada ingatannya di masa lalunya itu.


'Clara, maafkan aku yang sudah mengingkari janjiku. Percayalah padaku, ini semua aku lakukan demi membalaskan dendam ku pada perempuan sial ini karena sudah membuatku kehilangan adik kesayangan ku.' Batin Gane saat mematikan mesin mobilnya, kemudian ia melepas sabuk pengamannya.


Saat mau membuka pintu mobilnya, selintas Gane menoleh pada sang istri. Dilihatnya sosok sang istri tengah tertidur pulas sambil bersandar pada jendela kaca.


Ingin membangunkan sang istri, itupun tidak akan mungkin, yang ada hanyalah akan berantem dan berantem, pikirnya.


Karena ada sesuatu hal yang sangat penting, Gane memilih untuk tidak membangunkan istinya dan dengan terpaksa menggendongnya sampai dalam kamar.


Sampainya di dalam kamar, Gane menurunkan istrinya dengan pelan. Berharap tidak terbangun dari tidurnya. Saat berhasil membaringkan istrinya di atas tempat tidur, kancing baju milik istrinya pun telah lepas dengan sendirinya.

__ADS_1


Gane yang sempat melihatnya, tidak dapat dipungkiri jika dirinya pun ada rasa tergoda dengan pemandangan yang sangat indah dan juga gratis untuk dipandang. Ditambah lagi, tanpa disengaja tangan kanannya memegangi sempol kiri yang mulus dibawah sana.


Wajar saja jika Gane tertarik pada sesuatu yang menggodanya, karena dirinya pun lelaki normal. Namun, sebisa mungkin untuk menepis pikiran kotornya itu. Alih-alih ia segera meraih selimut dan menutupi anggota tubuh istrinya hingga sampai pada bagian lehernya.


Karena masih ada pekerjaan yang sangat penting untuk dikerjakan, Gane segera merogih ponselnya. Berharap, Ciko sudah membalas pesan darinya.


"Akhirnya Ciko membalas juga pesan dariku." Ucapnya dengan lirih, kemudian ia langsung membuka pesannya.


Karena rasa tidak sabaran nya untuk berbalas pesan, Gane memilih untuk menghubungi Ciko. Alasannya, ia paling tidak suka untuk menunggu.


Gane yang tidak ingin mengganggu istrinya yang tengah tidur pulas, akhirnya memilih untuk keluar dari kamarnya. Gane memilih untuk pindah ruangan, ruangan mana lagi kalau bukan ruang tamu.


"Halo Cik, dimana kamu?"


"Apa! kamu sudah ada di markas? kok bisa, sama siapa?"


"Jangan, kenapa? bukankah malam ini akan ada barang datang? kamu jangan mengerjai ku, Cik."


Setelah cukup puas dengan sesuatu yang dijelaskan oleh Ciko, akhirnya Gane mengerti dengan apa yang dijelaskan dari Ciko, seseorang yang sudah menjadi kepercayaan nya.


"Baiklah, aku percayakan sama kamu. Aku hanya bisa berpesan denganmu, jaga diri kamu baik baik. Karena besok pagi aku harus pergi ke pulau terpencil itu, aku harus menerima sebuah permintaan dari Pamanku. Jadi, untuk sementara ini, kamulah yang akan mengatur masuk dan keluarnya barang. Ingat, waspada itu sangat penting. Kamu harus mengenali siapa saja orangnya yang bertransaksi dengan kita, jangan sampai lengah sedikitpun." Ucap Gane dengan panjang lebar, tidak lupa juga untuk mengingatkan seseorang yang sudah sangat ia percaya bertahun tahun lamanya.


Karena memang tidak ada pengiriman, Gane diminta oleh Ciko untuk beristirahat sejenak dari pekerjaan nya. Ditambah lagi dengan statusnya yang sudah berubah menjadi pengantin baru, tentu saja ada waktunya untuk bersantai sejenak.


Rasa kantuk yang sudah menguasai kedua matanya, Gane menyerah untuk bergadang sampai lewat larut malam. Karena tidak ada sesuatu yang harus dikerjakan, akhirnya Gane memilih untuk beristirahat.

__ADS_1


Sebelumnya, Gane memilih mengambil air minum untuknya ketika merasa haus ditengah malam.


"Kau, sudah bangun?" tanya Gane terkejut saat membuka pintu kamarnya melihat sang istri yang sudah bangun dari tidurnya. Hanya saja masih berselimut dan bersandar di kepala ranjang.


Nanney yang tiba-tiba merasakan sesuatu di kepalanya yang terasa pusing, ia memegangi kepalanya sambil menahan rasa sakit.


"Kau kenapa?" tanya Gane berjalan mendekati.


"Tidak apa-apa, kepalaku hanya terasa pusing saja." Jawabnya masih memegangi kepalanya.


Gane yang tidak ingin terjadi sesuatu hal buruk pada istrinya, ia langsung mengambilkan obat untuknya.


"Minumlah, agar rasa sakitnya mereda." Ucap Gane sambil menyodorkan obat dan air minumnya.


"Tidak usah, bukankah ini yang Kak Gane mau?"


"Maksudnya?"


"Ya, seharusnya Kak Gane senang melihatku sakit. Bukankah Kak Gane pernah bilang, kenapa aku tidak mati sekalian? bukankah begitu yang Kak Gane inginkan? jadi, biarlah aku merasakan sakit ini, kemudian pelan-pelan aku akan mati dengan sendirinya.


"Kau! aku memang ingin membalaskan dendam ku padamu, tapi bukan seperti ini caraku, ngerti. Sekarang juga kau minum obatnya, jangan memancing tensiku naik, kau paham." Ucapnya, kemudian memberikan obat serta air minumnya dengan paksa pada istrinya.


Males berdebat dan juga tidak ingin tensi nya menjadi naik, Gane memilih untuk tidur di sofa.


Nanney yang merasa bingung dengan sikap dari suaminya, ia tidak mau mengambil pusing untuk memikirkannya. Nanney yang kembali teringat dengan nasehat dari Mbak Alana, ia segera menepis pikirannya yang mudah untuk menyerah sebelum memulai.

__ADS_1


'Sebenarnya ada apa dengan diriku ini ya, Tuhan. Terkadang aku menyerah, terkadang aku ingin menjadikan diriku ini menjadi lebih kuat. Tapi ... kenapa aku merasa bimbang dengan diriku sendiri? haruskah aku menyerah? tidak, aku sendiri tidak ingin menyerah begitu saja. Tapi, bagaimana caranya agar aku bisa memenangkannya? aku benar-benar tidak tahu dan juga tidak mengerti tentang hidupku ini.' Batin Nanney sambil melihat suaminya yang kini sudah memejamkan keduanya matanya.


__ADS_2