
Karena ingin mengetahui kebenarannya, Doin segera menghampiri orang-orang yang tengah berkerumun sambil membicarakan apa yang dilihatnya.
"Permisi, bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Doin memberanikan diri.
"Boleh, silakan." Jawab salah satu orang yang ikut dalam kerumunan tersebut.
"Kalau boleh tahu, istri pemilik rumah itu, pergi kemana ya Pak?" tanya Doin sambil menunjuk rumah yang dimaksudkan.
"Ooh istrinya Nak Gane?"
"Ya, Pak."
"Tadi ada yang bilang, katanya pingsan."
"Pingsan? terus, dibawa kemana orangnya, Pak?" tanya Doin yang langsung memotong jawaban dari lawan bicaranya.
"Ke rumah sakit, kemungkinan tidak jauh dari sini."
"Kalau begitu, saya permisi. Terimakasih banyak atas infonya, Pak."
"Ya Nak, sama-sama."
Setelah mendapatkan kabar mengenai istri majikannya, Doin langsung menghubungi Ciko untuk memberitahukannya dan segera pergi ke rumah sakit.
Sedangkan di rumah sakit, Nanney tengah menikmati semangkuk bubur ditemani oleh Bunda Sere seorang.
"Nak, jangan lupa susunya diminum." Ucap Bunda Sere mengingatkan.
"Ya, Tante." Jawab Nanney dengan lesu sambil menyuapi bubur ke mulutnya sendiri.
"Permisi, bolehkah saya masuk?"
Nanney dan Bunda Sere yang mendengar ketukan pintu serta suara yang cukup jelas untuk didengar, Bunda Sere segera membukakan pintunya.
"Doin, ada apa kamu kemari?"
"Maaf, Nyonya. Kedatangan saya kemari yaitu, saya ingin memastikan kondisi Nona Nanney. Kalau boleh tahu, bagaimana keadaannya Nona Nanney, Nyonya?"
__ADS_1
Bunda Sere yang tidak ingin keponakannya terganggu, akhirnya memilih keluar dari ruangan tersebut dan menarik tangan Dion untuk mencari tempat yang leluasa ketika membicarakan tentang keponakannya.
"Ada perlu apa kamu datang kemari?" tanya Bunda Sere yang tidak mau berbelit-belit.
"Saya hanya ingin mengetahui kabar dari Nona Nanney, itu saja."
"Nanney masih sock menghadapi kenyataan tentang suaminya, yakni Gane. Jadi, katakan saja apa perlunya kamu datang kemari."
"Tidak ada, Nyonya. Saya hanya ingin memastikan bahwa Nona Nanney tidak pergi jauh dan baik-baik saja, Nyonya."
"Karena tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, pergilah dan jangan menemui keponakanku dulu. Sampaikan pada Gane, bahwa istrinya baik-baik saja."
"Baik, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi."
Bunda Sere mengangguk dan kembali masuk ke ruang rawat keponakannya dan mendekati Nanney yang baru saja selesai menikmati buburnya.
"Loh, kenapa buburnya tidak dihabiskan?"
"Perut Nanney terasa mual, Tante. Maaf, tadi siapa yang datang, Tante?"
"Nanney belum siap untuk bertemu dengan Kak Gane, Tante. Nanney tidak tahu harus marah atau tidak, Nanney benar-benar dilema, Tante. Takut, jika Kak Gane tidak mengharapkan kehadiran sang buah hati, Tante." Ucap Nanney sambil menundukkan pandangannya dengan rasa bersedih nya.
"Tante yakin jika Gane sangat bahagia mendengarkan kabar bahagia ini, kehadiran sang buah hati adalah penyemangat untuknya, percayalah sama Tante." Jawab Bunda Sere mencoba untuk meyakinkan keponakannya dan tetap percaya diri.
"Nanney benar-benar bingung, Tante." Kata Nanney yang masih terus menunduk.
Bunda Sere segera meraih kedua tangan milik Nanney dan menggenggam nya dengan erat.
"Lihat ke Tante, Nanney." Pinta Bunda Sere, Nanney pun mengangguk dan menatap wajah Bunda Sere yang tidak lagi muda.
"Buanglah pikiran buruk mu itu, berpikirlah yang positif. Gane adalah suami kamu sekaligus Ayah dari calon anak yang sedang kamu kandung." Ucap Bunda Sere yang terus memberi nasehat kecil pada istri keponakannya.
Sambil menarik napasnya dalam-dalam, Nanney membuangnya dengan pelan. Kemudian ia mengangguk dan mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Bunda Sere padanya.
Sedangkan di sel tahanan, Gane masih terus merenungi atas perbuatannya yang sudah dilakukannya.
Penyesalan dan penyesalan yang kini tengah menghantui pada setiap ingatannya tentang apa yang ia perbuat pada istrinya maupun atas pekerjaannya sendiri.
__ADS_1
"Kau kenapa? masihkah mau terus-menerus menyalahkan diri sendiri? percuma saja, tau. Semua sudah terjadi, dan yang harus kamu lakukan itu memperbaiki diri sebelum semuanya terlambat, Bro."
Gane masih menunduk, terasa berat baginya untuk mendongakkan pandangannya pada lawan bicaranya.
"Sudahlah, yang harus kita lakukan itu, kita tetap tunjukkan yang terbaik pada orang-orang yang kita kenal, serta menunjukkannya kepada orang yang kita cintai."
"Kau hanya bilang dan menasehati, tentu saja sangat mudah. Karena apa? karena kau bukan diposisi ku."
"Apa perlu aku yang menggantikan posisi kamu? itu tidak akan mungkin."
"Sudah sudah sudah, diam lah kalian semua. Ingat, kalian semua jangan bermain debat. Kamu, ayo keluar. Ada seseorang yang datang ingin bertemu denganmu, cepat keluar." Ucap salah satu yang menjaga ruangan yang ditempati Gane dan beberapa orang lainnya.
"Bro, yang semangat. Kau sangat beruntung, karena masih ada banyak orang yang peduli denganmu." Ucap Iwan dan menepuk pundak milik Gane dengan pelan, Gane mengangguk dan mengikuti kemana dirinya akan menemui orang yang ingin bertemu dengannya.
"Ingat, waktumu hanya sebentar. Jadi, gunakan waktumu sebaik mungkin saat bertemu keluarga kamu." Ucapnya memberi peringatan pada seseorang yang tidak Nanney kenali.
"Baik, Pak. Terimakasih sudah memberi waktu luang untuk saya, permisi." Jawab Gane setengah membusungkan badannya, kemudian ia segera menemui seseorang yang datang tanpa seorang teman di dekatnya.
"Doin, kamu datang kemari bersama siapa? Ciko? tapi kenapa kalian berdua tidak bersama? hem."
"Aku sendirian, Tuan."
"Tuan kau bilang? tidak usah melucu. Sekarang ini aku bukanlah orang kaya, melainkan sudah jatuh miskin. Katakan padaku, kabar apa yang akan kamu sampaikan padaku. Jangan berbelit-belit, ayo cepat katakan."
"Nona Nanney dirawat di rumah sakit karena sock, itu saja."
"Cuma itukah yang ingin kau sampaikan padaku? sungguh, kau benar-benar membuang-buang waktuku dengan sia-sia saja.
Dengan geram, Gane ingin sekali melayangkan tinjuannya pada seseorang yang sudah membuatnya kesal dan lain sebagainya.
"Ya, hanya itu saja, Tuan. Nyonya Sere telah melarang saya untuk menemui Nona Nanney, lantas bagaimana caranya agar saya bisa bertanya pada istrinya Tuan? masuk saja tidak boleh."
"Terus, apa katanya? adakah pesan yang belum kamu ingat? coba kau ingat-ingat kembali."
"Katanya Nyonya Sere, istrinya Tuan masih sock mendapatkan kabar buruk suaminya. Jadi, saya dilarang masuk untuk menemui Nona Nanney." Jawab Doin memperjelas ucapannya.
"Aku minta sama kamu untuk mengawasi istriku, karena aku tidak ingin istriku kabur begitu saja dan tentu saja meninggalkan jejaknya." Ucap Gane memberi sebuah pesan pada anak buahnya.
__ADS_1