
"Kamu sedang tidak mengerjai Nenek, 'kan?" tanya Nenek Aruma dengan rasa penasaran.
"Yang dikatakan Doin itu memang benar, Nek. Nona Nanney benar-benar sedang hamil anak dari Bos kami." Timpal Ciko membenarkan.
Nenek Aruma yang mendengar penuturan dari Ciko dan Doin, segera mencari keberadaan Nanney.
"Kemana putriku itu." Gumam Nenek Aruma setelah membuka pintu kamarnya masih kosong dan tidak ditemukannya sosok Nanney.
"Nenek. Ada apa mencari Nanney, Nek?"
"Kamu, kenapa berterus terang sama Nenek." Ucap Nenek.
"Maksudnya Nenek, apa?" tanya Nanney yang belum mengerti dengan sebuah pertanyaan dari Neneknya.
"Kamu pura-pura lupa atau sengaja mau menyembunyikan nya dari Nenek?"
Nanney yang masih bingung, dan akhirnya menoleh pada Doin dan Ciko.
"Kamu sedang hamil, 'kan?"
Nanney sungguh terkejut saat Nenek Aruma mengatakan jika dirinya telah hamil.
"Ya Nek, benar. Ini pasti dari Kak Dion, kalau bukan Kak Ciko. Padahal Nanney ingin mengatakannya nanti, biar menjadi kejutan buat Nenek. Tapi ya sudahlah, akhirnya Nenek mengetahuinya juga." Jawab Nanney dan menoleh pada Doin dan Ciko.
"Maaf, Nona. Tadi saya keceplosan, serius." Ucap Doin yang akhirnya angkat bicara dan mengakuinya.
"Sudah sudah, lagian juga Nenek sudah mengetahuinya. Nenek benar-benar sangat bahagia mendengar kabar bahagia atas kehamilan kamu, Nak. Selamat ya, semoga kamu dan calon bayi kamu selalu diberi kesehatan." Kata Nenek Aruma.
__ADS_1
Kemudian, Nanney langsung memeluknya dan tersenyum bahagia saat kabar bahagianya telah sampai pada Nenek Aruma.
Tapi, tiba-tiba Nanney merasa bersedih ketika kabar bahagianya dibarengi dengan nasib suaminya yang harus berada dibalik jeruji besi.
"Terimakasih banyak ya, Nek. Maafkan Nanney ya Nek, jika untuk sementara ini harus tinggal di rumah Nenek." Ucap Nanney dengan berat hati.
Tidak seharusnya mengatakan hal demikian, tetapi Nanney tidak mempunyai cara lain selain meminta izin pada Nenek Aruma.
Nenek Aruma segera melepaskan pelukannya dan menatap Nanney dengan lekat.
"Rumah ini juga rumah kamu, tidak perlu kamu harus bertanya pada Nenek untuk tinggal di rumah ini." Jawab Nenek Aruma.
"Terimakasih banyak, Nek." Ucap Nanney. Nenek Arumi tersenyum bahagia melihat sosok Nanney yang sudah sekian lama tak pernah bertemu.
Doin dan Ciko yang mendengar ucapan dari Nanney pun, keduanya merasa bersedih ketika melihat kondisi istri Bosnya.
"Cik, kita keluar yuk. Aku ingin mencuci mataku ini yang sudah lama tidak pernah melihat pedesaan." Ajak Dion sengaja untuk tidak mengganggu pertemuan antara Nanney dan Nenek Aruma.
"Ya, ayok." Jawab Ciko dan bergegas keluar tanpa harus berpamitan.
Kini tinggal Nenek Aruma dan Nanney yang masih melepas rindu bagaikan anak dengan orang tua.
"Nek, Nanney mau ganti baju dulu ya Nek."
"Ya, Nak. Kalau begitu, Nenek mau ke belakang. Nenek mau masakin makanan kesukaan kamu, gurame bakar. Kebetulan, ikan guramenya sudah besar-besar."
"Benarkah, Nek? wah ... keberuntungan Nanney kalau begitu, Nek. Sudah lama juga, Nanney tidak pernah makan gurame bakar."
__ADS_1
"Ya sudah, kamu ganti baju dulu. Setelah itu, kamu temani Nenek masak." Ucap Nenek Aruma, Nanney mengangguk pelan dan segera masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Nenek Aruma yang begitu bahagia saat Nanney pulang ke rumah, ingin rasanya untuk selalu bersamanya. Namun, mau bagaimana lagi, perempuan yang sudah menikah diwajibkan untuk ikut bersama suaminya kemanapun berada.
.
.
.
Masih di halaman rumah Nenek Aruma, Ciko dan Doin tengah menikmati suasana di pedesaan yang tidak dipadati kendaraan yang lalu lalang. Benar-benar sangat tenang untuk menikmati hari-harinya tan ada suara yang bising, suara yang dapat mengganggu indra pendengaran.
Tanpa sengaja, Doin maupun Ciko telah pergi ke belakang lewat samping rumah dan mendapati Nenek Aruma yang tengah mengambil ikan gurame di kolam kecil.
"Nenek, sedang apa?" tanya Ciko dan berjalan mendekati.
"Ini, Nenek mau tangkap ikan gurame. Nenek mau masak ikan gurame bakar untuk kalian." Jawab Nenek Aruma.
"Sini Nek, biar saya saja yang tangkap ikannya." Ucap Ciko, kemudian segera melepas celana panjangnya dan menyisakan celana kolor beserta kaos oblong.
Tetangga yang melihat sosok Ciko yang rupanya terlihat mempesona, telah mencuri perhatian dari seorang perempuan yang rumahnya bersebelahan dengan Nenek Aruma.
Setelah ikannya dapat ditangkap, Ciko segera mencuci kakinya.
"Nek, enak banget ya tinggal di Kampung. Ada banyak ternak, termasuk ayam." Ucap Doin sambil memperhatikan sekeliling halaman belakang rumah yang di dapati ada hewan ternak lainnya.
"Ya Nak Doin, di Kampung kebanyak berternak, bertani, dan berkebun." Jawab Nenek Aruma.
__ADS_1