
Nanney yang tidak ingin melihat pemandangan yang tidak seharusnya untuk dilihat. Nanney langsung menutup matanya dengan telapak tangannya.
Saat itu juga, Gane langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur. Tentu saja di sebelah istrinya, Nanney semakin takut dibuatnya.
Nanney yang merasa takut, ia langsung menyambar selimut yang ada didekatnya dan berusaha untuk menutup sebagian tubuhnya.
Gane yang melihat istrinya ketakutan, justru tertawa kecil dan berusaha melepaskan penghalang wajahnya.
"Kau kenapa? kelihatannya sangat gugup." Tanya Gane setelah berhasil melepaskan tangan sang istri yang berusaha untuk menutupi wajahnya, sebisa mungkin Nanney untuk terlihat tenang dan tidak gugup.
"Tidak, aku tidak gugup." Jawabnya, lagi lagi Gane kembali tertawa ketika sang istri berusaha untuk berbohong dan penuh alasan.
"Terus, ini apaan?" tanya Gane sambil menunjukkan selimut yang tengah menutupi bagian tubuh milik istrinya.
"Ah ya, aku tidak terbiasa dengan AC, jadi aku memilih untuk menutupi tubuhku ini dengan selimut." Jawabnya dengan alasan, Gane langsung menariknya dan membuangnya ke sembarang arah.
"Sekarang juga, kau pijat aku. Badanku terasa pegal-pegal, aku butuh istirahat yang cukup untuk hari ini."
"Pijat?" tanya Nanney dengan kedua mata yang melebar.
"Tidak segitunya juga ekspresi mu itu, sudah cepetan kau pijat aku." Perintah Gane yang sudah dengan posisinya tengkurap.
"Aku mau ganti baju dulu, tidak mungkin juga aku mengenakan pakaian seperti ini." Kata Nanney dan beranjak untuk mengganti pakaian santainya, Gane sendiri hanya mengangguk.
Sambil berdecak kesal, Nanney terpaksa mengganti pakaiannya. Cukup lama Nanney memilih baju ganti, tidak ada satupun bsju yang menurutnya cocok untuk ia kenakan.
'Maksudnya apa coba, kenapa semuanya berisi celana sangat pendek dan kaos ketat gini sih.' Batin Nanney sambil mendengus dan melirik pada suaminya yang dengan posisi yang tengkurap.
Karena tidak ada pilihan lain untuk ia kenakan, mau tidak mau Nanney terpaksa mengenakan kaos yang sangat ketat dan pres body. Begitu juga dengan celananya yang tidak kalah ketat dan sangatlah pendek. Bahkan terlihat jelas sesuatu yang mulus yang dapat menggoda siapa saja yang melihatnya dalam satu ruangan.
Dengan detak jantung yang berdegup sangat kencang, Nanney berusaha untuk tetap tenang. Apapun yang akan terjadi, sebisa mungkin untuk bisa menghindar dari sesuatu yang buruk menimpanya.
__ADS_1
"Cepetan, lama sekali kau ini."
"I--iya, aku baru saja mengganti pakaianku." Sahut Nanney dari dekat lemari baju, kemudian ia segera mendekati sang suami. Saat tinggal dua langkah lagi, rupanya Gane sudah membalikkan badannya dan duduk bersandar di kepala ranjang.
Nanney yang merasa gugup ketika sang suami memperhatikan penampilannya, Nanney langsung menutup sesuatu yang mulus dan bagian dadanya silih berganti karena gugup saat suaminya tidak berkedip sama sekali ketika menatapnya.
"Kau tidak perlu menutupinya, karena aku pun sudah melihatnya sejauh jauh hari." Kata Gane dengan entengnya, sedangkan Nanney langsung terkejut ketika mendengarkan dari ucapan suaminya.
Malu, itu sudah pasti. Kesal dan ingin marah, itu yang sedang dirasakan oleh Nanney ketika mendengar pengakuan dari suaminya yang benar-benar sudah membuatnya geram.
"Sudahlah, cepat kau pijat aku sekarang juga. Nanti malam aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang tentunya tidak akan membuatmu bosan."
Nanney masih terdiam, meski pandangannya masih tertuju pada sang suami, namun entah kemana pikirannya itu.
Gane yang sudah tidak sabar untuk menunggu, segera ia menarik tangan istrinya dengan terpaksa untuk naik ke atas tempat tidur. Saat itu juga, Nanney tersentak kaget, kemudian ia segera naik ke atas tempat tidur.
Gane yang sudah siap untuk mendapatkan pijatan dari sang istri, ia tiduran dengan posisi badan tengkurap.
Nanney yang merasa seperti wanita rendahan, ia hanya menahan segala rasa yang tengah dipendam nya. Berharap tidak akan terjadi sesuatu yang lebih, karena tidak dapat dipungkiri jika suaminya adalah lelaki normal. Ditambah lagi dengan penampilannya sendiri, Nanney tidak bisa tenang dengan pikirannya sendiri.
Dengan muka masamnya, Nanney terus memijat suaminya bak jadi tukang urut. Sambil menahan kekesalannya, sebisa mungkin untuk tetap tenang selama memijat sang suami.
"Aw!" pekik Gane saat ia merasakan sakit bak tercekik pada bagian lehernya. Gane langsung bangun dari posisinya. Nanney sendiri juga kaget saat suaminya yang tiba tiba bangkit dari posisinya.
"Kau, mau membunuhku? ha."
"Tid--tidak, Kak. Maaf, tadi aku benar-benar tidak sengaja, serius. Aku kira tadi sedang memijat kaki, rupanya aku salah memijat." Ucap Nanney dengan perasaan takut saat dirinya salah memijat suaminya, justru Nanney menekan leher suaminya dengan sangat kuat karena dirinya sambil melamunkan sesuatu.
"Ah sudahlah, bisa bisa bukan cuman leher saja yang kamu cekik." Kata Gane sambil mengusap bagian lehernya yang terasa sakit saat sang istri yang hampir saja mencekik lehernya.
"Aku benar-benar meminta maaf sama Kakak. Serius, tadi aku benar-benar kalau yang aku tekan itu leher Kak Gane." Ucap Nanney yang akhirnya menyadari atas kesalahannya itu.
__ADS_1
Ketika keduanya sedang berhadapan, suara ketukan pintu akhirnya dapat menghentikan obrolan mereka berdua.
"Kau diam aja disini, aku mau melihat siapa yang datang."
"Ya," jawab Nanney dengan singkat.
Gane yang teringat dengan sebuah pesan ia kirimkan saat berada di Restoran, ia segera bergegas untuk membukakan pintunya.
"Permisi, Tuan. Maaf sebelumnya, apakah ini kamar milik Tuan Gane? kamar yang bernomor 96?"
"Benar sekali, kamar ini bernomor 96."
"Berarti ini benar, Tuan yang memesan beberapa makanan ringan dan sekaligus minumannya." Ucapnya, kemudian menyodorkan bingkisan yang sudah dipesan oleh Gane sebelumnya. Dengan ramah, Gane menerimanya.
"Terimakasih sudah mengantarkannya dengan tepat waktu." Jawab Gane dan tersenyum ramah.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya pamit untuk pergi, permisi." Ucapnya dan membusungkan badannya dengan hormat, lalu pergi dari hadapan Gane.
Setelah pesanan sudah diterima oleh Gane, segera ia mengunci kembali pintunya dan berbalik arah sambil membawa pesanannya.
"Apa itu?" tanya Nanney dengan penasaran.
"Makanan ringan, ayo kita duduk santai di balkon. Bukankah tadi di Restoran kamu bilang bosan di dalam kamar? aku membelikannya untukmu." Jawab Gane dan membawanya ke balkon.
Saat itu juga, kedua matanya berbinar. Senyum manis tengah menghiasi kedua sudut bibirnya. Kemudian ia berjalan mengikuti suaminya di balkon.
"Duduklah, kita akan bersantai meski tidak harus keluar. Karena aku tidak menyukai hal itu, aku menyukai hal yang seperti ini."
"Padahal Kak Gane itu suka balap liar, seharusnya Kakak lebih suka makan diluar, begitu." Ucap Nanney.
"Aku sudah meninggalkan dunia balap." Jawab Gane sambil membuka bingkisan yang berisi makanan ringan dan minuman sesuai yang ia pesan.
__ADS_1