Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Sampai di Pelabuhan


__ADS_3

Nanney yang sudah menyiapkan sarapan pagi, ia segera kembali ke kamar. Naas, saat dirinya hendak membalikkan badannya, rupanya sang suami sudah berdiri di belakangnya.


"Kak Gane, sejak kapan Kakak berada di dapur?" tanya Nanney dengan gugup. Secara, tiba tiba sang suami sudah berada di belakangnya.


"Sejak kamu sibuk dengan pekerjaan mu." Jawabnya dengan posisi kedua tangannya dimasukkan di saku celananya kanan dan kiri.


"Ah ya, aku sudah menyiapkan sarapan pagi untuk Kakak. Bagaimana kalau kita sarapan pagi terlebih dahulu? biar sekalian kotor." Ucap Nanney.


"Tidak, aku tidak terbiasa makan sebelum mandi. Lebih baik sekarang kamu mandi, setelah itu baru kita sarapan pagi." Kata Gane yang tetap dengan pendiriannya.


"Baiklah, kalau begitu aku mau mandi terlebih dahulu." Ucap Nanney yang juga sudah merasa risih dan badan terasa lengket.


Gane mengangguk, kemudian ia sendiri langsung pergi dari hadapan istrinya. Nanney yang merasa aneh dengan sikap suaminya itu, sebisa mungkin untuk menepis pikiran buruknya.


Nanney yang memang sudah merasa risih pada tubuhnya yang terasa lengket, ia segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Sampainya berada didalam kamar, Nanney langsung mengunci pintunya. Takut, jika sang suami tiba-tiba masuk tanpa permisi, pikirnya.


Sedangkan Gane yang tidak ingin membuang buang waktunya, ia masuk ke kamar Ciko. Diambil lah sebuah benda yang menjadi alatnya untuk melakukan pekerjaannya, sambil menunggu istrinya selesai mandi, Gabe menyibukkan diri untuk mengoperasikannya.


Nanney yang tidak memakan waktu lama saat membersihkan diri, akhirnya selesai juga ritual mandinya. Bingung harus mengenakan pakaian yang seperti apa, Nanney memilih mengenakan pakaiannya yang sangat sederhana.


"Aku harus merubah penampilanku seperti dulu lagi, yang mana sebelum aku mengenal Regar." Gumam Nanney yang kini sudah bertekad untuk merubah penampilannya, yakni mana yang menurutnya nyaman untuk ia kenakan.


"Maafkan aku, Kak Gane. Maafkan aku yang sudah lancang mengenakan kaos oblong mu, karena penampilan yang seperti inilah yang bisa membuatku nyaman." Ucapnya lirih didepan cermin sambil menatap dirinya sendiri lewat pantulan cermin yang ada dihadapannya itu.


Setelah selesai bersiap siap, Nanney segera keluar dari kamar. Celingukan pada setiap sudut ruangan, Nanney tidak menemukan keberadaan suaminya.


Karena rasa penasaran, akhirnya ia memeriksa kamar Ciko untuk memastikan jika suaminya ada didalam. Sedangkan Gane sendiri yang merasa gerah, ia segera mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Tentu saja, Gane melepaskan pakaiannya tanpa berpikir panjang dan hanya menyisakan pakaian dalamnya.


Nanney sendiri yang sudah tidak sabar, ia sejenak untuk memastikan terlebih dahulu sebelum membuka pintu kamar.

__ADS_1


"Buka, tidak, buka, tidak." Gumam Nanney sambil berpikir untuk membuka pintunya.


"Aaaaaaaaa!!!" teriak Nanney dan langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangan.


Gane yang terkejut saat terdengar ada suara berteriak dan pintu kamar yang sudah terbuka, Gane langsung menutupinya dengan handuk yang ada di tangannya. Kemudian, Gane langsung mendekati istrinya yang sedang berdiri mematung di ambang pintu sambil menutup kedua matanya. Gane yang sudah berada di hadapan istrinya, segera ia melepaskan kedua tangan milik Nanney.


"Siapa yang menyuruhmu untuk membuka pintu kamar ini? ha."


"Tid--tidak ada yang menyuruhku. Maaf, aku benar-benar tidak sengaja." Ucap Nanney dengan gugup.


Saat itu juga, Gane memperhatikan penampilan sang istri yang terlihat berubah. Tidak hanya itu saja, sepasang matanya pun tertuju pada baju yang dikenakan istrinya.


Gane memegangi bagian bawah baju, kemudian menatap wajah istrinya kembali.


"Kenapa kau mengenakan bajuku? bukankah aku sudah membelikan banyak baju untukmu?"


Deg!


Ucapan yang sama persis yang pernah ia dengar.


"Kau membuatku bingung, ah sudahlah, terserah kamu saja. Yang pasti, aku tidak akan pernah melepaskan kamu sebelum semuanya aku anggap lunas." Ucap Gane, kemudian mendorong istrinya dan menutup kembali pintu kamar tersebut.


"Aku tidak peduli dengan apa yang akan Kak Gane lakukan padaku, setidaknya aku masih bisa menjaga diriku ini." Ucapnya lirih, kemudian ia kembali ke ruang makan.


Gane sendiri mulai penasaran dengan sosok istrinya, yang mana tiba-tiba menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Bukan perempuan feminim pada umumnya, tetapi terlihat berbeda.


"Siapa dia sebenarnya? kenapa aku merasa mengenalinya." Gumam Gane sambil menerka nerka siapa sosok istrinya itu. Tetap saja, Gane begitu sulit untuk mengenalinya.


Gane yang tidak ingin terlambat sampainya di Pelabuhan, cepat-cepat segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Setelah selesai ritual mandinya, ia segera mengenakan pakaiannya. Kemudian, ia keluar dari kamar menuju ruang tamu dan langsung duduk berhadapan dengan istrinya.


"Jangan banyak bertanya, makanlah dan segera bersiap-siap. Kamu tidak perlu membawa pakaian, cukup pakaian yang kamu kenakan." Ucapnya, Nanney mengangguk. Kemudian Gane dan Nanney menikmati sarapan paginya.


Setelah itu, keduanya segera bersiap-siap untuk berangkat. Saat sudah berada di dalam mobil, Gane tengah sibuk dengan ponselnya.


"Tunggu sebentar, ada seseorang yang ingin aku hubungi."


"Ya, Bos." Jawabnya, kemudian Gane segera menghubungi seseorang. Selesai memberi perintah kepada anak buahnya, Gane langsung mematikan panggilan telponnya.


"Jalan." Perintah Gane, mobil pun segera melaju dengan kecepatan sedang.


Nanney yang tidak mempunyai lawan bicara, ia memilih untuk bersandar di jendela kaca mobil sambil melamun, lagi-lagi ia kembali merindukan kampung halamannya. Tempat yang sudah menjadikan hidupnya merasa nyaman, pikirnya.


'Nenek, aku sangat merindukanmu. Ingin rasanya aku tidur dipangkuan mu seperti dulu, Nek.' Batin Nanney penuh harap dan bisa pulang ke kampung halaman nya. Tempat yang dimana dirinya tinggal.


Gane yang sempat memperhatikan istrinya yang tengah melamun, dirinya kembali berpikir sejenak mengenai sosok istrinya itu.


Nanney masih terus melamun, kini ingatannya kembali pada suaminya yang sudah tiada lagi di Dunia ini.


'Mungkinkah hidupku ini hanya sebatas bayangan saja? yang tak akan pernah bisa untuk mendapatkan cinta.' Batin Nanney terasa sedih yang harus kehilangan orang yang dicintainya, siapa lagi kalau bukan sosok Tegar yang sudah mengisi hari-harinya sejak dirinya menjadi sekretaris nya.


Tidak terasa telah memakan waktu yang cukup lama, sepasang suami-istri yang sedari tadi sama-sama diam, akhirnya telah sampai juga di Pelabuhan menuju Pulau terpencil. Pulau yang dijadikan tempat liburan bagi keluarga Huttama.


"Bos, kita sudah sampai." Ucapnya mengagetkan. Gane maupun Nanney pun tersadar dari lamunannya masing masing. Kemudian keduanya melepaskan sabuk pengaman nya.


"Ayo, kita turun." Ajak Gane pada istrinya, Nanney pun mengangguk dan segera turun dari mobil.


Saat turun dari mobil, tubuhnya terasa lemas. Ingatan yang belum sempat ia lupakan, kini ingatannya muncul kembali.

__ADS_1


__ADS_2