Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Perjalanan Pulang


__ADS_3

Dalam perjalanan, Regar hanya berdua sama sang istri didalam mobil dan hanya Pak Sopir yang menjadi saksi diantara keduanya.


Henny yang tidak tahu harus berbuat apa didalam mobil dengan perjalanan cukup memakan waktu yang cukup lama, dirinya hanya menatap luar lewat jendela kaca mobil.


Begitu juga Regar, dirinya pun sama halnya seperti yang dilakukan oleh istrinya. Sama-sama diam tanpa ada yang membuka suara diantara keduanya.


Cukup lama dalam perjalanan dan baru mendapat setengah jalan, tiba-tiba Henny merasa mengantuk karena tidak memiliki obrolan apapun bersama suaminya.


'Ada apa dengan kedua mataku, kenapa harus ngantuk begini sih? benar-benar membuatku malu jika sampai aku ketiduran.' Batin Henny yang berusaha untuk membuang rasa kantuknya itu.


Regar yang sempat memperhatikan istrinya dengan sekilas, ada rasa kasihan pada istrinya yang kelihatan sangat mengantuk. Berbeda dengan Nanney yang sudah tidak merasa canggung lagi pada suaminya.


Henny yang sudah berkali-kali keningnya terbentur tempat duduk yang berada didepannya, Regar merasa tidak tega melihatnya.


Saat itu juga, Regar menarik tubuh istrinya hingga tiduran di atas pangkuannya. Henny yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya, tidak peduli dengan rasa malunya itu.


"Tidurlah, perjalanan kita masih panjang." Ucap Regar sambil menatap lurus ke depan.


"Terimakasih." Jawabnya singkat.

__ADS_1


Kemudian, Henny memejamkan kedua matanya hingga terlelap dari tidurnya.


Begitu juga dengan Regar, dirinya sendiri ikut terhipnotis dan berulang kali ia menguap dan ingin rasanya untuk tidur. Sambil menjaga keseimbangan istrinya agar tidak terjatuh, Regar ikut memejamkan kedua matanya hingga tertidur.


Berbeda dengan suasana di mobil yang dinaiki oleh Gane bersama istrinya dan juga dengan yang lainnya bersenda gurau.


"Cik, kamu kapan nikah? adikmu loh sudah nikah. Bentar lagi kamu akan mempunyai keponakan, masa iya masih jomblo, nggak keren ah." Tanya Doin sambil menyetir mobil.


"Ah cerewet, kamu itu. Kamu dulu tuh yang menikah, aku masih ingin menunggu keponakanku sampai lahir." Sahut Ciko yang tengah duduk disebelah Nenek Aruma.


"Kelamaan, Cik. Keburu karbitnya abis, Bro." Kata Doin yang terus meledek sahabatnya.


"Aw! sakit tau, Cik. Eh, ngomong-ngomong lapar tidak nih? kita mampir dulu ke warung makan, bagaimana?"


Seketika, Nanney yang mendengar kata makan, semangatnya pun membara dan langsung duduk dengan tegak.


"Makan! asik ...."


Sontak semuanya yang ada didalam mobil dibuatnya kaget oleh Nanney dengan suaranya yang cukup keras, termasuk suaminya sendiri yang duduk disebelahnya.

__ADS_1


"Untung saja jantungku masih normal, ada-ada saja Nona ini." Ucap Doin dengan lirih.


"Maaf, Kak Doin. Ngagetin, ya."


"Tidak kok, Nona. Hanya saja detak jantung saya ini berdegup sangat kencang, dug! dug! gitu bunyinya, Nona." Kata Doin.


"Jangan ngelantur, Bro. Ada Bos Gane yang sudah mengintai kamu. Bisa-bisa gaji kamu hangus, baru tahu rasa." Sahut Ciko.


Sedangkan Gane hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum saat melihat kedua anak buahnya sekaligus sahabatnya.


Sekilas, Doin menoleh kebelakang.


"Jangan marah, Tuan. Saya hanya bercanda, tidak lebih. Biasalah, biar tidak sepi." Ucap Doin sambil menyetir.


"Kamu mah emang begitu, Bro. Sudahlah, lebih baik kamu fokus saja sama nyetir mobilnya. Ingat, kalau ada warung makan, kita berhenti." Sahut Gane.


"Siap, Tuan. Keknya sebentar lagi kita akan sampai di warung makan." Ucap Doin.


Dan benar saja, hanya maju beberapa meter, terlihat jelas warung makannya.

__ADS_1


__ADS_2