
Masih di rumah Nenek Aruma, Ciko dan Doin sudah bangun dari tempat tidur. Keduanya tampak menikmati udara pagi hari di Kampung halaman istri Bosnya.
Sedangkan Nanney tengah jalan-jalan tidak jauh dari rumah Nenek Arumi, tak lama juga telah sampai di halaman rumah.
Pandangannya pun, tertuju pada pohon buah mangga yang terlihat sangat lebat buahnya. Nanney tak lupa mengusap perutnya dan tersenyum sendiri.
Ciko dan Doin yang mendapati Nanney senyum-senyum sendiri, keduanya saling menatap satu sama lain.
"Nona Nanney kenapa senyum-senyum begitu ya Cik, kamu tahu?" tanya Doin yang merasa aneh dengan istri Bosnya.
"Sepertinya Nona Nanney menginginkan buah mangga, dia kan, sedang hamil. Bukankah orang hamil menyukai mangga muda? mungkin saja begitu."
"Ya juga sih, sepertinya yang kamu katakan itu memang benar."
Saat itu juga, Nanney melihat Ciko dan Doin yang tengah mengobrol santai, tanpa pikir panjang, Nanney langsung memanggil keduanya.
"Kak Ciko, Kak Doin, sini dong." Panggil Nanney sambil berjalan mendekat ke pohon mangga.
Ciko dan Doin yang merasa namanya dipanggil, keduanya segera menghampirinya.
"Maaf Nona, ada apa?" tanya Ciko. Kemudian, Ciko mendongak dan melihat ada buah mangga di atasnya.
"Aku pingin buah mangga yang baru metik, tapi aku tidak bisa manjat pohonnya. Sebenarnya sih bisa manjat, hanya saja aku sedang hamil. Jadi, tidak mungkin juga kalau aku manjat pohon mangga ini." Jawab Nanney dan menunjuk pada mangga yang terlihat buahnya.
Doin yang memiliki trauma ketinggian soal panjat memanjat, langsung angkat tangannya. Ciko yang melihatnya pun, mengerutkan keningnya tatkala Doin sudah menyerah sebelum bertindak.
'Awas kamu ya, Doin.' Batin Ciko sambil menarik napasnya dan membuangnya dengan kasar.
"Loh loh loh. Nak Ciko, kamu mau ngapain?"
Nenek Aruma yang melihat Ciko hendak manjat poho mangga, segera menghentikannya.
__ADS_1
"Mau panjat pohon mangga, Nek. Soalnya Nona Nanney menginginkan buah mangga yang baru metik dari pohon, Nek." Jawab Ciko.
"Aduh aduh, ini bisa bahaya kalau kamu jatuh. Urusannya bisa tambah berat, dan badan kamu akan cidera. Begini saja, Nenek ada kayu panjang khusus buat metik buah mangganya. Jadi, kamu tidak perlu repot-repot manjat pohonnya. Ayo ikut Nenek, biar kamu tidak susah payah manjat pohon mangganya." Kata Nenek Aruma, Ciko mengangguk dan mengikuti kemana perginya Nenek Aruma.
Setelah itu, Ciko dapat memetik buah mangganya dengan mudah. Nanney tersenyum bahagia saat permintaannya terpenuhi.
Karena sudah tidak sabar untuk makan buah mangga muda, Nanney langsung membawanya ke dapur dan mengambil sejumput garam untuk menjadi temannya menikmati buah mangga muda.
Sedangkan Ciko segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya dan diikuti Doin dari belakang dengan membawakan buah mangga.
Saat sudah berada dalam rumah, Doin mencuci tangannya takut gatal karena kotor akibat getah dari buah mangga.
Dengan nikmatnya, Nanney duduk di ruang makan sambil menikmati buah mangga muda dengan garam saja.
Doin yang melihat suara kunyahan dari mulut Nanney, giginya sendiri terasa ngilu dan benar-benar membuat air liurnya ingin tumpah.
Begitu juga dengan Ciko, dirinya ikut ngilu saat keluar dari kamar mandi dan mendapati Nanney tengah menikmati buah mangga yang masih muda.
"Kak Ciko, kok berdiri di situ. Sini, ayo kita sarapan. Masakan Nenek sangat enak loh, awas nanti tidak ada obatnya kalau sudah kecanduan masakan dari Nenek."
Karena tidak ingin banyak mengobrol, Ciko segera duduk disebelah Doin. Kemudian, sarapan pagi bersama di rumah Nenek Aruma.
.
.
.
Selesai sarapan pagi, Ciko dan Doin bergegas bersiap-siap untuk pulang ke Kota. Sedangkan sambil menunggu Doin dan Ciko selesai mandi, Nanney membereskan kopernya dan menaruh pakaiannya kedalam lemari.
Satu persatu, pakaiannya sudah berpindah ke dalam lemari baju dan lemari barang-barang yang lainnya.
__ADS_1
Saat semua sudah masuk ke tempatnya masing-masing, Tiba-tiba Nanney dikejutkan atas tidak adanya barang berharga. Nanney kembali mengecek dan mengingatnya kembali, tetap saja tidak ditemukan barang berharganya.
Nanney semakin panik dan ketakutan, jika barang berharganya telah hilang dan tidak ditemukan lagi.
"Nenek, Nenek." Panggil Nanney dengan suara gelisah dan terdengar kebingungan.
Nenek Aruma maupun Ciko pun ikutan panik saat mendengar Nanney memanggil seperti orang histers. Saat itu juga, Nanney bergegas keluar dari kamar.
"Nenek, barang berharga milik Nanney tidak ada."
"Barang berharga apaan, Nak?"
"Itu Nek, itu." Kata Nanney yang sulit untuk menyebutkan.
"Katakan pada Nenek, apanya yang tidak ada? ayo katakan. Kamu jangan membuat Nenek semakin panik, sedangkan kamu tidak memberitahunya pada Nenek."
"Gelang, Gelang itu Nek." Jawab Nanney dengan kebingungan karena merasa kehilangan barang berharganya satu satunya."
Nenek Aruma langsung memegangi kedua pipi milik Nanney, mencoba untuk menenangkan pikirannya yang seakan berubah ketakutan.
Ciko yang melihatnya pun, benar-benar sangat terkejut melihat Nanney tidak seperti biasanya. Seperti ada yang tidak beres dan aneh, pikirnya.
"Maaf Nek, ada apa ya? ada masalah apa dengan Nona Nanney?" tanya Ciko penasaran dan juga ikutan khawatir jika terjadi sesuatu pada istri Bosnya.
Nenek Aruma langsung memeluk Nanney mencoba untuk memenangkan pikirannya dan memberi isyarat kepada Ciko untuk tidak bertanya dulu.
Ciko mengangguk, pikirannya merasa takut jika harus meninggalkan di Kampung halaman tanpa adanya suami. Tentu saja, sangat membutuhkan seseorang yang bisa memeluknya untuk memberi kenyamanan.
Ciko pun yakin, jika Bosnya lah yang mampu mencairkan suasana.
Nenek Aruma yang merasa jika Nanney sudah mendingan, pelan-pela melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Coba kamu ingat lagi dengan baik, jelaskan pada Nenek kapan kamu terakhir menyimpan benda itu?"
"Aku lupa Nek, setahuku aku sudah menyimpannya dalam koper." Jawab Nanney dengan sedih.