Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Kebahagiaan


__ADS_3

Sepasang mata milik Nanney masih memandangi serta memperhatikan dua buah gelang yang ia terima dari suaminya.


Setelah itu, Nanney menatap wajah suaminya.


"Kakak bisa mendapatkan gelang ini, dari mana?" tanya Nanney yang tanpa sadar tengah diperhatikan.


"Dari Iko, Kakak kamu. Itu, Kak Iko nya kamu." Jawab Gane dan menunjuk pada Ciko yang tengah berdiri disebelah Doin dengan jari telunjuknya.


Nanney yang penasaran, sepasang matanya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh suaminya.


"Kak Ciko?"


Nanney yang belum mengerti, dirinya kembali memastikan. Gane segera turun dari ranjang pasien. Lalu, menghampiri Ciko dan menarik tangannya untuk mendekati Nanney yang tengah duduk dengan pikiran yang tidak mengerti maksud dari suaminya.


Sedangkan sosok laki-laki yang pernah menjadi suami Nanney sebelumnya, bersama sang istri dan Nenek Aruma tengah memperhatikan serta ikut mendengarkan perbincangan antara Gane, Nanney, dan Ciko.


Saat itu juga, Gane menoleh pada adik laki-lakinya yang tengah berdiri di ambang pintu dengan segala perasaannya, sedih, bahagia, kecewa, menyesal, semua terkumpul menjadi satu dan tidak tahu apa yang harus dirasakannya saat itu juga.


Gane segera menghampiri adiknya, dan mengajaknya untuk berada di dekat istrinya. Entah apa yang akan dilakukan oleh sang kakak, Regar hanya bisa nurut.


"Sini, Kakak bantu kamu. Sekarang sudah waktunya untuk kembali seperti dulu lagi, lupakan sejenak masalah kita soal status pernikahan." Ucap Gane membujuk.


Berharap, semua akan baik-baik saja.


Meski terasa dongkol dan penuh kesal, Regar sendiri hanya bisa nurut pada sang kakak. Sedangkan Doin, Henny, dan Nenek Aruma hanya bisa menyaksikan momen haru.


'Mereka benar-benar anak yang cerdas, tanpa memintaku untuk bercerita, mereka dapat menyelesaikan masa lalunya bersama.' Batin Nenek Aruma dengan perasaan haru dan juga bangga.

__ADS_1


Begitu juga dengan Henny yang hanya bisa menyaksikan suaminya yang tengah berada di sekeliling orang-orang terdekatnya.


'Sepertinya mereka sangat akrab dulunya, karena sebuah insiden kecelakaan, membuat mereka harus bisa untuk melewatinya.' Batin Henny yang ikut haru melihatnya.


Doin yang berdiri di dekat Henny, tak lepas ikut tersenyum bahagia ketika melihat pemandangan yang sangat mengharukan itu.


Gane selaku yang paling tua usianya, dirinya memilih berdiri di tengah-tengah Regar dan Ciko seperti dahulu ketika salah satunya sudah membuat sosok Nanney kecil menangis, maka ketiganya berdiri dengan formasinya yang tidak pernah berubah.


"Bagaimana? apakah kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Gane sambil merangkul sang adik dan juga Ciko, sahabat sekaligus orang kepercayaannya.


Nanney menggelengkan kepalanya. Kemudian, dirinya berusaha untuk kembali mengingat masa kecilnya dulu. Tetap saja, belum sepenuhnya mengingatnya.


Merasa frustrasi dan sulit untuk mencari jawaban atas pertanyaan dari suaminya, Nanney mencoba dengan cara memejamkan kedua matanya. Berharap, ingatannya kembali pulih dengan sempurna walaupun sudah begitu lamanya tidak dapat mengingat dimasa kecilnya dulu setelah insiden kecelakaan yang dialami bersama keluarganya.


'Kak Iko, Kak Nenta, Kak Ega. Ya, sekarang aku ingat mereka. Tapi ... dimana mereka bertiga? apa Kak Gane mengenal Kak Iko? terus, kenapa bisa tahu sebutan Pangeran?' batin Nanney berusaha untuk mengingat kembali masa kecilnya.


Sedangkan Regar sendiri masih tertunduk dengan segala apa saja yang dipikirkannya. Tentunya, Regar teringat dengan momen bahagia saat bersama perempuan yang ada dihadapannya itu.


Nanney yang menyimpan rasa penasaran, pelan-pelan kembali membuka kedua matanya. Dilihatnya ketiga lelaki yang sama besarnya dan juga sama dewasanya, Gane melempar senyumannya pada sang istri.


Ciko yang sedari tadi berdiri dihadapan sang adik perempuannya, rasanya sudah tidak sabar untuk memeluknya dan menyembuhkan kesedihannya selama bertahun-tahun.


"Kakak beneran kenal dengan Kak Iko? terus, Kakak tahu darimana dengan sebutan Pangeran?" tanya Nanney dengan segala rasa penasarannya.


Regar yang mendengarkannya pun, telinganya sedikit terasa panas dan juga ada rasa cemburu. Diam, diam, hanya diam yang bisa dilakukannya.


"Akulah Pangeran yang kamu maksudkan, dan kamulah gadis kecilku, Clara. Dan Ciko adalah yang tidak lain Kak Iko yang kamu maksudkan. Satu lagi, Regar adalah Ega yang kamu maksudkan." Jawab Gane sambil menyebutkan satu persatu diantara ketiganya, termasuk Gane sendiri.

__ADS_1


Saat itu juga, alangkah terkejutnya ketika Nanney mendengarkan penuturan dari sang suami yang begitu jelas. Bahkan, Nanney sendiri sudah dapat mengingat kembali masa kecilnya.


Ciko hanya bisa menundukkan pandangannya, sedikitpun dirinya tidak berani untuk menatap seseorang yang ada dihadapannya. Siapa lagi kalau bukan seseorang yang selama ini dirindukannya.


Gane yang memang sudah mengetahuinya, sedikitpun tidak ada keterkejutan sama sekali. Justru, Gane merasa sangat bahagia dan merasa jika dirinya telah memenangkan hati istrinya, walaupun belum sepenuhnya mengakui akan perasaannya.


"Beb-ben-beb-benarkah?" tanya Nanney dengan pengucapannya yang terbata-bata dan seperti mimpi.


Ciko yang tiba-tiba merasa malu karena menganggap dirinya gagal menjadi seorang Kakak yang tidak bisa menyelematkan adiknya, Ciko membalikkan badan untuk pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Nanney sendiri tidak peduli dengan selang infus yang terpasang di tangannya. Dengan cepat, Nanney langsung turun dari ranjang untuk mengejar sosok lelaki yang diyakini Kakak kandungnya sendiri.


Saat itu juga, Nanney langsung memeluknya dari belakang.


"Kak Iko jangan pergi, jangan tinggalkan Clara sendirian." Ucapnya sambil menangis sesenggukan.


Seperti mimpi, Ciko mendengar suara manja dari adik perempuannya yang selalu memberi pesan padanya untuk tidak meninggalkan adik perempuan kesayangannya.


Tidak dapat dipungkiri, Ciko sendiri meneteskan air matanya karena perasaan bahagianya saat kebenaran telah terungkap. Bahkan, perasaan haru dan bahagia kini menjadi satu yang dirasakan oleh seorang Ciko.


"Kak Iko kenapa? apakah Clara ada salah sama Kakak? Clara minta maaf." Ucapnya lagi yang juga masih memeluk sang kakak.


Karena tidak ingin menjadi pusat perhatian yang ada disekelilingnya, Ciko melepaskan tangan milik adiknya dan membalikkan badannya.


"Kamu tidak pernah punya salah sama Kakak, justru Kakak yang banyak salah denganmu karena gagal menjadi seorang Kakak yang bertanggung jawab. Kakak malu, dan merasa gagal menjadi seorang Kakak untukmu." Ucap Ciko sambil mengusap air mata milik adiknya dengan ibu jarinya.


"Tidak, Kakak tidak pernah gagal. Justru Kakak orang yang bertanggung jawab." Jawabnya dan balik mengusap air mata milik kakaknya.

__ADS_1


Kemudian, Ciko kembali memeluk adik perempuannya dengan perasaan yang sangat bahagia. Bahkan, Ciko merasa kesulitan untuk menggambarkan perasaannya sendiri.


Berbeda dengan Regar, dirinya lebih memilih untuk pergi dari ruangan tersebut. Doin yang melihatnya, segera mengejar kemana perginya Regar. Sedangkan Henny yang hendak mengejar suaminya, tiba-tiba dilarang oleh Doin.


__ADS_2