Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Ada rasa takut


__ADS_3

Malam telah tiba, semua anggota keluarga sudah berada di ruang kamar. Hanya Gane dan Nanney yang belum juga keluar dari kamar. Bunda Sere yang tidak melihat keduanya, segera memanggilnya.


"David," panggil Bunda Sere.


"Ya Ma, ada apa?" jawabnya dan bertanya.


"Mama minta untuk memanggil kakak kamu Gane, ajak dia untuk makan malam bersama. Katakan padanya, semua sudah menunggu di ruang makan." Perintah ibundanya.


"Baik, Ma." Jawab David, kemudian ia segera bergegas menuju kamar milik saudara sepupunya.


Begitu juga dengan Bunda Sere, Beliau juga menuju kamar milik keponakannya.


Suara pintu yang diketuk oleh David lumayan cukup mengagetkan Gane yang tengah sibuk dengan ponselnya. Dengan malas, Gane akhirnya membuka pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Gane yang tidak menyukai basa basi.


"Semua sudah menunggu Kakak untuk makan malam." Jawab David, Gane membuang napasnya kasar ke sembarang arah.


"Aku masih kenyang, suruh pelayan untuk mengantarkan makan malamnya ke kamarku." Ucap Gane sekaligus memberi perintah kepada David.


"Tapi Kak, apa tidak sebaiknya Kakak ikut makan malam bersama." Kata David berusaha untuk membujuk Gane.


"Aku sedang tidak berselera makan, bawakan saja makan malamnya ke kamarku." Jawab Gane yang tidak bisa diganggu gugat atas apa yang sudah ia katakan.


David yang tidak ingin memancing emosinya, ia segera pergi dari hadapan saudara sepupunya.


"Baiklah kalau memang itu yang Kak. Gane mau, akan aku sampaikan sama pelayan untuk mengantarkan makanannya." Kata David dan segera keluar dari kamar Gane, sedangkan Gane sendiri tiba-tiba mendapatkan ide yang entah dari mana datangnya.


"Tunggu," cegah Gane pada David yang hendak keluar dari kamarnya. Disaat itu juga, David langsung membalikkan badannya.


"Ya Kak, ada apa?" tanya David.


"Sampaikan pada pelayan rumah. Setelah selesai makan, suruh istrinya Regar untuk mengantarkan makan malamnya ke kamarku." Jawab Gane memberi pesan pada David.

__ADS_1


Seketika, David seperti tidak percaya mendengarkan apa yang diperintahkan oleh sang kakak.


"Kak Nanney maksudnya? kenapa bukan pelayan saja, Kak?" tanya David penuh keheranan.


"Kamu tidak usah banyak tanya, sampaikan saja pesanku ini sama pelayan." Jawab Gane yang tidak suka dibantah, David sendiri hanya bisa mengiyakan dengan apa yang diperintahkan oleh saudara sepupunya.


"Baik, Kak." Jawab David disertai dengan anggukan.


"Ya sudah, cepetan keluar dari kamarku." Usir Gane pada adik sepupunya.


"Ya Kak, ya." Kata David dan segera pergi dari hadapan sang kakak.


'Aneh sekali kak Gane, kenapa mesti kak Nanney yang harus mengantarkan mskan malamnya? apakah kak Gane menyukai kak Nanney? sepertinya sih tidak mungkin. Secara kak Gane dari dulu tidak pernah tertarik sama perempuan, benar benar bikin penasaran.' Batin David sambil menuruni anak tangga.


Setelah sampai di ruang makan, dilihatnya sudah ada Nanney duduk disebelah Bunda Sere.


"David, mana Gane?" tanya Tuan Pras.


"Kak Gane masih kenyang, katanya. Ah ya, hampir saja aku lupa." Jawab David yang langsung teringat dengan pesan dari kakak sepupunya.


"Kak Gane meminta sama Kak Nanney untuk mengantarkan makan malamnya ke kamar Kak Gane, begitu pesannya." Jawab David, semua yang ada di ruang makan menoleh pada Nanney.


"Nanney?" semua menyebut nama Nanney bersamaan.


"Ya, Kak Nanney." Kata David mengulangi kalimatnya.


Sedangkan Nanney sendiri kembali teringat dengan ancaman yang diucapkan dari Gane. Ancaman penyiksaan dan balas dendam atas meninggalnya sang suami.


'Benarkah Kak Gane akan membalaskan dendamnya padaku? dan malam ini pun akan segera dimulai.' Batin Nanney dengan penuh ketakutan, dan tentunya membuat selera makannya seketika langsung menghilang.


"Jangan berprasangka buruk, mungkin saja ada yang ingin disampaikan oleh Gane untuk Nanney. Sudahlah, ayo kita lanjutkan makan malamnya. Tapi sebelumnya kamu panggilkan pelayan untuk menyisakan makan malamnya untuk Gane." Ucap Tuan Pras dan menunjuk putranya untuk memanggilkan pelayan.


"Baik, Pa." Jawab David, sedangkan yang lainnya hanya mengangguk.

__ADS_1


"Nanney, kamu jangan takut. Gane orangnya baik, mungkin ada sesuatu yang ingin disampaikan sama kamu. Jangan berpikiran yang tidak-tidak, ayo kita lanjutkan makan malamnya. Kamu harus menjaga kesehatan kamu, jangan terlalu larut dalam kesedihan." Ucap Bunda Sere menenangkan hati Nanney yang terlihat gelisah.


"Ya Tante, terimakasih sudah baik dengan Nanney." Jawab Nanney sedikit canggung dan juga malu.


"Ya Kak, jangan takut sama kak Gane." Kata Vandu ikut menimpali, Nanney sendiri mengangguk dan tersenyum tipis pada Vandu.


Setelah seorang pelayan mengambilkan makan malam untuk Gane, kini yang lainnya mulai mengambil porsinya masing masing.


Dengan pikirannya yang cukup tidak karuan, Nanney terasa hambar untuk menikmati makan malamnya. Bahkan untuk mengingat suaminya sendiri pun sudah lewat, yang ada dalam pikiran Nanney kini hanya ada Gane dan Gane.


Yang mana dirinya selalu terngiang atas ancaman yang sangat menakutkan itu, pikir Nanney penuh kekhawatiran.


Cukup lama menikmati makan malam bersama keluarga sang suami, tidak terasa juga semuanya telah selesai menikmati makan malamnya. Kini tinggal lah Bunda Sere dan Nanney yang masih berada di ruang makan.


"Nanney, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Bunda Sere membuyarkan lamunannya.


"Ya,Tante. Maaf, sudah melamun." Jawab Nanney dengan malu, Bunda Sere tersenyum melihatnya.


"Tidak apa-apa, Tante dapat memahaminya kok. Oh ya, kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa mengantarkan makan malam milik Gane sekarang juga. Jika kamu takut, biar pelayan saja yang akan mengantarkannya."


"Nanney tidak keberatan kok, Tante." Ucap Nanney meyakinkan, karena dirinya pun masih teringat dengan ucapan dari asisten rumah yang bernama mbak Lina. Nanney tidak bisa lupa begitu saja, ia takut jika Gane akan murka padanya.


"Kamu yakin? kalau kamu takut, biar pelayan saja yang akan mengantarkannya."


"Tidak kok, Tante. Nanney tidak merasa keberatan. Mungkin benar apa yang dikatakan Paman, Tante." Kata Nanney berusaha untuk tetap terlihat tenang, meski kebenarannya sangat takut jika dirinya akan diperlakukan buruk oleh kakak iparnya.


"Ya sudah jika kamu tidak keberatan, jika ada apa-apa kamu panggil saja Tante, atau yang lainnya." Ucap Bunda Sere.


"Ya, Tante. Kalau begitu Nanney mau mengantarkan makan malam ke kamar kak Gane." Ucap Nanney cukup tegang dan juga takut, tentunya. Bunda Sere mengangguk dan tersenyum pada Nanney.


Dengan sangat hati hati, Nanney berjalan membawa satu nampan berisi makan malam untuk Gane. Dan kini sampailah di depan pintu kamar milik Gane, detak jantung Nanney berdetak tidak karuan.


'Ketuk, tidak, ketuk, tidak.' Batin Nanney dengan sejuta prasangka atas apa yang akan dilakukan dari kakak iparnya.

__ADS_1


Karena tidak ingin berlama-lama di depan pintu, akhirnya Nanney memberanikan diri untuk mengetuk pintunya. Meski memang kenyataannya takut, sebisa mungkin Nanney membuangnya rasa takut itu.


__ADS_2