Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Keputusan yang sudah bulat


__ADS_3

Setelah pikirannya dirasa cukup tenang dan tidak begitu tertekan atas ucapan yang tidak mengenakan hati dari mulut kakak iparnya, Nanney memilih untuk beristirahat. Berharap, semua yang ia jalani selama berpisah dengan sang suami, hati dan pikirannya baik-baik saja.


Sedangkan di rumah yang dijadikan tempat tinggal selanjutnya. Gane tengah bersandar di sofa sambil merentangkan kedua tangannya dan mendongak menatap langit langit ruang tamu.


"Bos, obatnya diminum dulu." Ucap Ciko sambil menyodorkan beberapa obat dan air minumnya. Gane menerimanya dan segera meminum obatnya.


"Bos, apa tidak sebaiknya Bos Gane istirahat dulu?"


"Aku masih kepikiran dengan seseorang yang sudah menabrak ku di rumah sakit, Cik. Aku sangat penasaran dengannya, entah kenapa aku merasa ada yang tidak beres dengan kejadian tadi, termasuk insiden kecelakaan yang terjadi pada Nanney." Ucap Gane yang kembali berpikir atas sesuatu yang membuatnya sangat curiga.


"Aku sudah memerintahkan anak buah kita, Bos. Bersabarlah, nanti kita akan mendapatkan hasilnya." Kata Ciko berusaha untuk menenangkan pikiran Bosnya.


Karena lupa untuk membeli makanan untuk makan siang, Ciko akhirnya memesan lewat jasa online.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya pada sebuah gedung yang cukup jauh dari pemukiman. Seseorang yang tidak lagi muda tengah duduk di kursi goyangnya sambil memainkan asap rokoknya.


BRAK!


"Dasar! kalian tidak berguna, melenyapkan perempuan itu saja kalian tidak becus." Bentaknya dengan suara yang meninggi dan membuat kedua orang yang ada di hadapannya itu ketakutan.


"Maaf Bos, kami telah gagal untuk melenyapkan perempuan itu. Kami berdua berjanji, bahwa kami akan melenyapkan perempuan itu. Bahkan, kami tidak segan-segan untuk melenyapkan seorang Gane sekaligus Ciko." Jawabnya dengan berbagai janji untuk memenuhi perintah dari Bosnya.


Seseorang yang memerintahkan pada kedua anak buahnya, kini sudah beralih pada sebuah pistol yang ada di tangannya. Pelatuk yang mencekam, kini tinggal di hempaskan begitu saja. Namun, niatnya diurungkan karena kedua anak buahnya kembali berjanji untuk menuruti perintahnya yang mana berharap bisa melenyapkan orang yang sudan menjadi targetnya.


"Hari ini aku masih memberi ampun pada kalian berdua, tapi tidak untuk hari kedepannya. Aku pastikan pelatuk ini akan aku lepaskan dan akan aku menghempaskan peluru ini hingga tembus ke tubuh kalian berdua, ingat! itu." Ucapnya dengan segala ancaman, tidak peduli siapa yang ada di hadapannya itu.


"Siap, Bos. Kami berdua akan menjamin, bahwa kami akan segera melenyapkan mereka bertiga." Jawabnya dengan segala janjinya pada sang Bos Besarnya.

__ADS_1


"Pergilah, jangan pernah kembali sebelum kalian berdua membawakan hasilnya." Usir nya serta memberi pesan untuk kedua anak buahnya.


"Siap! Bos." Jawab keduanya dan segera pergi dari hadapan Tuannya.


Tidak ada lagi anak buah di hadapannya, sesekali menatap pada cermin yang berdiri tegak di sampingnya.


DOR!


Sebuah peluru telah dihempaskan pada cermin hingga retak tidak beraturan.


"Gane, aku tahu semuanya tentang hidupmu dan perempuan yang kamu rindukan hingga membuatmu menjadi gila. Aku akan melenyapkan kalian berdua satu persatu, dan terakhir pada Ciko." Ucapnya sambil menatap pada cermin yang baru saja ia hancurkan dengan sekali tembakan.


Sedangkan di rumah sakit, tidak terasa sudah tibalah waktunya malam hari. Nanney masih ditemani Mbak Alana dan juga Doin yang sedari tadi dengan tugasnya masing-masing.


Nanney yang hendak menuju kamar mandi, tiba-tiba ia merasa sakit pada bagian punggungnya yang terbentur cukup keras pada trotoar.


"Nona, Nona tidak apa-apa, 'kan?" tanya Mbak Alana terasa khawatir.


"Ya, Nona. Saya melihatnya waktu membantu seorang perawat menggantikan pakaian Nona. Saya minta kepada Nona untuk tidak banyak bergerak, saya takut sakitnya akan semakin berasa." Ucap Mbak Alana sembari mengingatkan.


"Terimakasih banyak ya Mbak, sudah bersedia mengingatkan saya." Kata Nanney sambil turun dari ranjang dan dibantu oleh Mbak Alana.


Berbeda dengan kondisi Gane yang kini terasa penat ketika memikirkan sesuatu yang tidak hanya satu masalah, namun berbagai macam yang tengah ia pikirkan. Usianya yang tidak lagi muda, lambat laun mulai merasa bosan dengan kehidupannya yang tidak sesuai yang diharapkannya.


Malam pun telah tiba, Ciko kembali berkutat pada benda andalannya untuk melakukan pekerjaannya. Pekerjaan yang sudah menjadi keaktifannya di dunia kerja malamnya.


Gane yang sedari tadi hanya memijat pelipisnya, berharap rasa penat yang ada di kepalanya segera mereda.

__ADS_1


Ciko yang mengerti akan situasi hati Bosnya, ia akhirnya pergi ke dapur untuk membuatkan minuman penghangat. Minuman apalagi kalau bukan jahe merah yang sudah menjadi teman kerjanya.


Gane yang tidak tahu harus memikirkan apa, akhirnya memilih untuk memejamkan kedua matanya. Berharap, apa yang ia pikirkan tidak membuatnya semakin stres.


"Bos, minumlah. Aku membuatkan minuman jahe untuk mu, untuk menghangatkan tubuhmu, Bos." Ucap Ciko mengagetkan, kemudian ia meletakkan satu gelas minuman jahe di hadapan Gane. Sedangkan tangan yang satunya tengah memegangi minumannya sendiri.


Gane yang merasa tergoda dengan aroma jahe yang wanginya tidak membosankan, ia meraih gelas yang ada dihadapannya itu.


"Terimakasih, sejauh ini kamu masih berbaik hati denganku." Ucap Gane, lalu menyeruput minumannya.


"Sama-sama, Bos. Sudah menjadi keputusan ku untuk selalu membantumu. Kalau boleh bertanya, aku akan mengajukan pertanyaan padamu, Bos. Jikalau Bos Gane keberatan, aku tidak akan mengajukan pertanyaan ku." Jawab Ciko, serta meminta izin terlebih dahulu sebelum bertanya sesuatu pada Bosnya.


"Silakan, tanyakan saja apa yang ingin kamu tanyakan padaku. Asalkan pertanyaan kamu itu benar-benar waras untuk aku jawab." Kata Gane, Ciko pun tersenyum mendengarkannya.


"Bos kira selama ini aku mengajukan pertanyaan yang gila, begitu kah? jangan gila kamu, Bos." Sahut Ciko dan meletakkan gelasnya.


"Siapa tahu saja, kamu mau mengajukan pertanyaan yang tidak waras. Bukanya kamu itu bisa bersikap konyol semau mu? hem, kau ini."


Ciko dan Gane akhirnya tertawa bersama, keduanya kembali teringat kenangan kenangan yang dilewatinya bersama. Kebersamaan yang tidak pernah redam oleh waktu. Tapi tidak akan ada yang tahu kapan dan dimana dan dengan siapa keduanya akan mendapatkan ujian, bisa saja diantara keduanya akan merasa tersakiti karena sebuah sebuah masalah yang tidak pernah keduanya ketahui.


Ciko yang sebenarnya merasa bosan untuk membahas hal yang sudah-sudah, tetap saja ia tidak pernah bosan untuk bertanya kembali.


"Bos, serius nih, kalau Bos Gane mau menikahi Nona Nanney? maaf, jika pertanyaan aku ini sangat membosankan untuk didengar."


Sejenak Gane diam, tetapi dirinya tidak akan pernah lupa dengan tekadnya itu. Bagi Gane sebelum terlambat, dirinya harus membayarkan sakit hatinya itu. Entah apa yang akan terjadi pada akhirnya, Gane tetap bersikeras pada pendiriannya.


Ciko yang penasaran, dengan sabar ia menanti jawaban dari Bosnya.

__ADS_1


"Ya, aku akan tetap menikahinya. Setidaknya aku mempunyai asisten yang bisa aku jadikan alasan, apakah kamu mengerti maksudku?"


"Tentu saja, Bos." Jawab Ciko dengan singkat, meski pada hati kecilnya merasa keberatan jika Bosnya akan menikahi seorang perempuan yang pernah menjadi istri adiknya sendiri, yang kini akan menjadi alat balas dendamnya atas meninggalnya sang adik laki-laki.


__ADS_2