
Setelah malam, Nanney tengah bersiap-siap dibantu Bunda Sere untuk meninggalkan rumah sakit. Tiba-tiba saja Nanney duduk termenung ditepi ranjang terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya Bunda Sere sambil melipat selimut.
Nanney menarik napasnya dalam-dalam, dan membuangnya dengan pelan. Saat itu juga, Nanney menoleh pada Bunda Sere dan diraihnya tangannya.
"Tidak apa-apa, Tante. Nanney hanya kepikiran sama Kak Gane, ingin mengetahui kabarnya serta ingin menemuinya, Tante." Jawab Nanney sambil menatap Bunda Sere.
"Setelah keluar dari rumah sakit, kita akan langsung menemui suami kamu. Kamu yang sabar ya, Nak. Kalau begitu, kita sarapan dulu sambil menunggu David."
"Ya, Tante. Terimakasih banyak atas kebaikan Tante yang sudah menolong Nanney saat dalam kondisi seperti saat ini."
"Kita ini keluarga, sudah sepatutnya Tante ikut bertanggung jawab. Sudahlah, ceritanya nanti lagi. Lebih baik sekarang kita sarapan dulu, ok."
"Baik, Tante."
Merasa lega karena ada yang peduli dengan dirinya, Nanney merasa tidak sendirian. Selesai menikmati sarapan paginya bersama Bunda Sere, David pun telah datang untuk menjemputnya.
__ADS_1
Karena tidak ada lagi yang harus ditangani, Nanney sudah bisa untuk pulang dan meninggalkan rumah sakit. Dengan kelegaan yang Nanney rasakan, ingin rasanya segera bertemu dengan suaminya.
Entah kenapa, Nanney merasa ingin sekali bertemu dengan suaminya dan bermanja dengannya. Namun, tiba-tiba ia teringat dengan keadaan suaminya yang harus tinggal dibalik jeruji besi.
Selama dalam perjalanan menuju tempat yang dimana suaminya di tahan, Nanney hanya bisa melamun dalam sandaran nya.
Bunda Sere yang melihat istri keponakannya tengah melamun, diraihnya tangan dan digenggam erat tangannya.
"Jangan banyak melamun, kasihan dengan yang ada didalam perutmu, ada calon bush hati kamu yang perlu untuk kamu jaga. Percayalah sama Tante, jika suami kamu baik-baik saja." Ucap Bunda Sere untuk memenangkan pikiran istri keponakannya.
"Terimakasih banyak sudah menyemangati Nanney, Tante." Jawab Nanney dan berusaha untuk dapat tersenyum pada Bunda Sere.
Nanney yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan suaminya, ingin rasanya cepat-cepat memberi kabar tentang kehamilan nya. Tidak peduli baginya dengan apa yang akan di ucapkan suaminya ketika mendengar jika dirinya telah hamil anaknya.
Cukup lama memakan waktu dalam perjalanan, akhirnya telah sampai di depan sebuah tempat tinggal orang-orang yang memiliki masalah dengan kasusnya masing-masing.
Gemetar dan gelisah, seperti itulah yang sedang dirasakan oleh Nanney saat ini ketika dirinya hendak masuk kedalam untuk menemui suaminya.
__ADS_1
"Ayo kita masuk, Nak. Dan kamu David, jangan mengganggu pertemuan kakak iparmu." Ajak Bunda Sere dan tidak lupa memberi pesan untuk putranya agar tidak mengganggu momen istri dari saudara sepupunya, David pun mengangguk.
"Ya, Ma. Tenang aja, David tidak akan mengganggu Kakak Ipar." Jawab David meyakinkan.
"Ya sudah, ayo kita masuk. Waktu kita tidak banyak, kamu harus menggunakan waktunya sebaik mungkin." Ajak Bunda Sere dan menggandeng tangannya sampai ditempat yang akan dipertemukan nya dengan suaminya.
"Tante akan menunggu ksmu disini, pergilah dan temui suami kamu. Bukankah kamu ingin bertemu suami kamu dan memberinya kabar spesial? pergilah."
Nanney mengangguk untuk meyakinkan.
"Nanney tinggal dulu ya, Tante." Jawab Nanney dan pergi untuk menemui suaminya.
Sambil berjalan, Nanney seperti kehilangan keseimbangannya. Bahkan terasa berat untuk melangkahkan kakinya untuk menemui sang suami.
Dengan gemuruh nya didalam dada yang sedang dirasakan, tak ada henti-hentinya untuk mengontrol kesadarannya agar tidak jatuh pingsan.
Begitu juga dengan Gane, dirinya pun sudah tidak sabar untuk bertemu istrinya. Entah perasaan dari mana datangnya, Gane merasa rindu dan ingin bertemu.
__ADS_1