Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Gugup


__ADS_3

Nanney dapat tersenyum kembali saat kedua sahabatnya datang, meski ada rasa kesedihannya tentang rasanya berpisah dengan sosok yang dicintainya.


"Nan, kamu serius nih kalau kamu benar-benar sudah menikah dengan Kakak ipar kamu?"


Nanney mengangguk sebagai jawabannya, tidak ada pilihan lain selain menurutu ancaman dari sang kakak iparnya itu.


"Jadi, yang dikatakan Pak Bos Gane itu benar?" lagi-lagi Aira benar-benar baru mempercayai nya, meski ada rasa tidak percaya atas penuturan dari sahabatnya, Nanney.


"Jadi, benar ya. Apa yang dikatakan kakak ipar mu itu? aku hanya bisa mendoakan mu, semoga kalian berdua bahagia." Ucap Ira ikut menimpali.


"Aku juga hanya bisa mendoakan mu, semoga kamu bahagia dengan pernikahan mu yang kedua." Kata Aira ikut mendoakan sahabatnya.


"Ya, terimakasih atas doa dari kalian berdua. Oh ya, ngomong-ngomong kapan kalian berdua akan menikah? aku ingin kita bertiga sudah menikah semua." Tanya Nanney ikut memberi pertanyaan kepada Aira dan Ira, sahabat dekatnya.


Keduanya tertawa kecil saat mendapat pertanyaan dari Nanney, yang diberi pertanyaan pun hanya menatapnya bingung secara bergantian.


"Kalian itu kenapa? aku ini tengah bertanya pada kalian, kok tertawa."


"Kita kesini memang mau menyampaikan itu, Nan. Sepuluh hari lagi, aku akan menikah. Aku berharap, kamu bisa datang di acara pernikahan ku bersama suami kamu. Tidak hanya itu saja, aku mengundang teman teman kita untuk reuni."


"Kamu mau menikah Ai? serius, 'kan? reuni juga? wah ... pasti seru banget. Aku pasti akan datang, tapi aku aku tidak janji."


Aira mengangguk dan tersenyum, kemudian meraih tangan milik Nanney. "Bener, Nan. Aku itu serius, datang ya bersama suami kamu." Jawab Aira, Nanney langsung tersenyum mendengarnya. Tidak lupa juga, Nanney langsung memeluknya.


"Selamat ya, Ai. Semoga acaranya berjalan dengan lancar, tanpa suatu halangan apapun hingga acaranya selesai. Aku doakan juga untukmu, semoga bahagia dengan pernikahan mu." Ucap Nanney yang tidak lupa untuk memberi ucapan selamat pada Aira.


"Ya, Nan. Terimakasih banget atas doa darimu, semoga kamu juga bahagia dengan pernikahan mu yang kedua." Jawab Aira, keduanya sama-sama mengangguk dan mengusap punggung satu sama lain.


Ira yang melihatnya ikut terharu dengan sebuah persahabatan dengannya dan kedua teman yang ada disebelahnya.


Setelah cukup berpelukan, keduanya saling melepaskan pelukan dan berpindah untuk memeluk Ira dan ketiganya saling berpelukan.


"Semoga kamu segera menyusul, bersabarlah. Kita harus gantian, agar kita ada momen yang seperti ini." Kata Aira sambil memeluk Ira.

__ADS_1


"Ya, momen seperti ini jarang kita temukan. Aku yakin jika secepatnya kamu akan segera menyusul, percayalah padaku." Ucap Nanney ikut berkata.


"Terimakasih penyemangat nya dari kalian berdua." Jawab Ira dan melepaskan pelukannya.


"Sudah sudah sudah, nanti yang ada kita menangis. Bagaimana kalau kita tanya pada Nanney soal pernikahannya dengan kakak ipar, setuju? harus setuju pokoknya." Ucap Aira untuk mengalihkan obrolan tentang waktunya menikah, Aira tidak ingin Ira akan bertambah bersedih.


Nanney tersenyum saat mendapati pertanyaan yang menurutnya sangatlah konyol, sedangkan Ira mengangguk.


"Kalian itu mau bertanya apa padaku? perni-ka-han?" tanya Nanney sambil tertuju pada jam dinding yang begitu jelas angkanya.


Ira maupun Aira menatap Nanney dengan heran.


"Kamu ada janji? maksud aku janji dengan suami kamu?"


Nanney menggelengkan kepalanya, kemudian ia tersenyum paksa.


"Tidak ada janji, aku hanya melihat ada cicak didekat jam dinding itu yang mau menangkap nyamuk. Maafkan aku yang fokus pada cicak." Jawab Nanney berbohong, padahal yang sedang dipikirkannya itu sebuah ancaman dari suaminya.


"Ye, itu nyamuk mau menggigit." Jawab Nanney mencari pembenaran, kemudian ketiganya tertawa lepas.


Tanpa disadarinya, ada Gane yang baru saja keluar dari kamar. Seketika, ketiganya sama diamnya, termasuk Nanney sendiri sebagai sangat istri.


Karena sudah cukup lama mengobrol, Aira menyenggol Ira untuk memberi kode padanya. Takut sahabatnya akan dimarahi oleh sang suami, akhirnya Aira untuk mengajak Ira segera pulang.


"Nan, sudah hampir jam dua belas nih. Aku dan Ira pamit pulang, ya. Kita bertemu lagi di lain waktu, aku tunggu kedatangan mu pokoknya." Ucap Aira berpamitan.


"Ya, akan aku usahakan untuk datang diacara pernikahan kamu." Jawab Nanney dan tersenyum, ketiganya kembali berpelukan.


Gane sendiri sudah berada di dapur, entah apa yang dilakukan oleh suami Nanney itu. Karena merasa tidak enak hati, kedua sahabat Nanney memelih untuk berpamitan pulang.


"Hati-hati di perjalanan, salam buat orang tua kalian." Ucap Nanney yang sudah berada di teras rumah.


"Ya, kamu tenang saja." Jawab keduanya bersamaan, lalu ketiganya saling berpelukan.

__ADS_1


Saat sudah tidak ada lagi tamu, Nanney buru-buru segera masuk ke rumah sekaligus mengunci pintunya.


Terdengar suara berasal dari dapur, Nanney langsung melihatnya. Dan benar saja, ada suaminya yang tengah sibuk dengan alat masaknya.


"Ka, biar aku saja yang memasak. Lebih baik Kakak duduk saja, nanti luka Kakak akan bertambah sakit loh." Ucap Nanney sambil meraih teflon yang ada ditangan suaminya.


"Sudah terlanjur, biar aku saja yang memasak. Kau pasti sedang bersedih, lebih baik kau duduk saja." Jawab Gane tetap bersikukuh apa yang akan dilakukannya.


"Aku sedang tidak bersedih, aku tadi hanya terbawa suasana saja, Kak. Sini, biar aku saja yang masak."


"Apa kamu tidak mendengarkan ku bicara? ha. Aku yang akan memasak, dan kamu duduk lah di ruang makan, atau di kamar. Ingat, jangan memancing emosiku." Bentak Gane dengan suara yang cukup keras.


Nanney yang kembali mendapat bentakan dari sang suami, segera menyingkir dari hadapan nya.


Dengan perasaan dongkol entah dimulai karena apa, ia seakan penuh emosi. Ingin rasanya memaki dirinya sendiri, tapi tidak mampu untuk melakukannya.


Nanney yang sudah berada didalam kamar, bingung harus berbuat apa. Berulang kali mencoba untuk mencerna ucapan dari suaminya itu, tetap saja tidak mendapatkan jawaban apapun dari sang suami.


"Sebenarnya Kak Gane itu ada masalah apa sih? kenapa tiba tiba jadi aneh gitu, apa salahku." Gumam Nanney dengan bingung.


Sambil menunggu suaminya masuk ke kamar, Nanney memilih untuk tiduran. Ingin sekali menghubungi keluarga yang ada di Kampung rasanya terasa takut.


"Henny, besok adalah hari pernikahan mu. Sedangkan aku, entahlah. Aku hanya bisa berdoa, semoga kamu bahagia bersama lelaki pilihanmu." Gumam Nanney sambil menatap langit-langit kamarnya.


Saat itu juga, Gane sudah masuk ke kamar dan mendekati istrinya.


"Bangun, cepat." Perintah Gane yang sudah berdiri di sebelahnya. Nanney terperanjat dari posisinya.


"Kakak, ada apa?" tanya Nanney dengan gugup, lagi-lagi ia merasa gugup.


"Bantu aku untuk melepaskan bajuku, cepetan." Jawabnya sekaligus memberi perintah.


"Melepaskan baju? kita mau ... ii--itu, ya." Tanya Nanney sambil menatap suaminya dengan gugup.

__ADS_1


__ADS_2