
Karena tidak ada sebuah pilihan selain menuruti permintaan Nanney, mau tidak mau akhirnya menurutinya.
"Kalau perutmu nanti terasa perih, bagaimana sayang?" tanya Gane yang takut jika istrinya akan merasakan sesuatu yang tidak mengenakan pada perutnya.
Apalagi dengan rasa masam pada buah jeruk yang belum matang, tentunya bisa mengganggu pencernaan, pikir Gane dengan kekhawatiran.
"Tapi aku menginginkannya, Kak. Dikit aja kok, cuma untuk obat kepingin aja." Jawab Nanney yang terlihat begitu menginginkan buah jeruk yang masih masam.
"Baiklah, aku akan memetiknya untukmu." Ucap Gane.
Sedangkan Ciko dan Doin memilih untuk melihat-lihat tanaman buah jeruk yang berjejer dengan buah yang sangat lebat.
"Kak Ciko, Kak Doin, sini." Panggil Nanney sambil melambaikan tangannya.
"Bro," panggil Doin pada Ciko yang tengah menikmati buah jeruknya.
"Apaan?" tanya Ciko dan lanjut mengupas buah jeruknya.
"Itu lihat, sepertinya kita dipanggil Nona Nanney. Ayo kita samperin, sapa tahu saja kita sedang dibutuhkan." Jawab Doin.
Kemudian, Ciko menoleh dan mengarahkan pandangannya ke adik perempuannya yang terlihat melambaikan tangan seraya memanggil dirinya.
Saat itu juga, Ciko segera menghampiri sang adik.
"Ada apa kamu memanggil Kakak? bukankah sudah ada suami kamu?"
"Aku menginginkan sesuatu, tapi ..."
"Tapi kenapa, sayang?" tanya Gane ikut menimpali karena dirinya pun penasaran dengan permintaan istrinya.
"Tapi janji dulu,"
__ADS_1
"Kalau merugikan, saya tidak jadi janji, Nona." Sahut Doin lebih dulu.
"Kalau tidak mau, ya sudah pergi saja kalian bertiga."
"Apa, pergi? jangan gitu dong, sayang ..."
Gane yang tidak ingin istrinya kecewa, dirinya terus memohon.
"Cik, Doin, sudahlah, turuti saja keinginan istriku yang sedang hamil. Tenang saja, aku akan membayar kalian setara gaji satu bulan, bagaimana?"
Seketika, kedua mata Doin berubah menjadi warna ijo.
"Aw! sakit tau, Bro."
"Mata duitan, kamu ini." Ucap Ciko setelah menjewer Doin, sahabatnya.
"Mumpung lagi ada gratisan, Bro. Kapan lagi, coba."
"Ah ya. Maaf, Bro." Ucap Doin yang baru tersadar jika istri Bosnya itu yang tidak lain adalah adik dari temannya.
Seketika, Doin tersenyum pasti gigi.
"Memangnya, apa yang kamu inginkan, sayang?" tanya Gane memastikan lagi.
"Temani aku makan untuk jeruk mentah ini, Kak." Jawab Nanney sambil menunjukkan buah jeruknya yang belum matang.
"Apa! makan buah jeruk mentah?"
Dengan serempak, ketiganya berucap.
Gane maupun Doin dan Ciko, ketiganya sama-sama ngilu membayangkannya. Bahkan, serasa air liurnya menetes dengan sendirinya.
__ADS_1
"Yang benar saja, sayang." Kata Gane yang sudah terasa ngilu bagian giginya.
"Ya nih, yang benar saja itu Nona. Makan yang mateng kek, atau semangka gitu, kita bertiga kan, tidak tersiksa begini. Mana itu jeruk belum matang, lagi." Timpal Doin sambil menggigit bibir bawahnya menahan rasa ngilu.
Belum juga mencobanya, giginya sudah terasa ngilu duluan.
"Kan, kalian bertiga menolak." Ucap Nanney dibuat cemberut.
"Tapi ini masam loh, sayang." Kata Gane yang juga berusaha menolak permintaan istrinya yang aneh itu.
"Ganti aja gimana? buah semangka, naga, apel, pir, melon, anggur, durian juga tidak apa-apa." Timpal Ciko ikut bernegosiasi.
"Itu namanya bukan ngidam, Kak ... tetapi buah kesukaan." Kata Nanney dan tidak lupa mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi cemberut.
Karena tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti permintaan Nanney, mau tidak mau ketiganya menurutinya.
Dengan terpaksa dan sambil menahan ngilu, Gane maupun Ciko dan Doin tengah menikmati buah jeruk pilihan Nanney.
Saat menikmati buah jeruk yang masih masam, Gane begitu heran ketika mendapati istrinya dengan santainya menikmati buah jeruknya.
Begitu juga dengan Ciko dan Doin, keduanya ikutan terheran-heran ketika melihat Nanney begitu menikmati seperti tidak merasa masam sekalipun.
Setelah itu, ketiga merasa lega. Tidak terasa telah menghabiskan satu buah jeruk.
"Jadi, kita diajak ke kebun jeruk, cuma untuk makan jeruk masam? Bos kaya, tajir melintir, istrinya ngidam cuma pingin buah jeruk. Itupun masih masam, benar-benar membagongkan." Gerutu Doin sambil mengunyah buah jeruk yang manis.
Gane, Ciko dan Nanney tertawa mendengarkannya.
Setelah itu, mereka berempat segera pergi meninggalkan kebun tersebut dan menuju ke restoran karena sudah waktunya untuk makan siang.
Sedangkan di rumah Utama, Regar dan Henny masih kelelahan karena aktivitas ritualnya.
__ADS_1