Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Penat


__ADS_3

Henny dan suami tengah tidur dengan mimpinya masing-masing. Namun, entah kenapa sosok yang bernama Danu tengah terbangun dari mimpinya. Bahkan, tubuhnya berkeringat.


Karena terbawa dengan mimpinya yang selalu sama, ia segera keluar dari kamar dan memilih pindah ke ruang tamu. Saat itu juga, Nanney telah lebih dulu duduk bersandar dengan memainkan ponselnya.


Tidak dapat dipungkiri, jika Nanney sama halnya tak bisa untuk memejamkan kedua matanya lantaran terus dilema karena memikirkan banyak sesuatu yang mengendap di kepalanya.


Saat sosok Danu keluar dari kamar, Nanney sangat terkejut saat pandangannya tertuju pada seseorang yang tengah berdiri di depan pintu kamar adik perempuannya.


Dengan reflek, Nanney menjatuhkan ponselnya. Secepat mungkin, Nanney langsung mengambilnya. Takut, foto-foto yang ada didalam ponselnya dapat dilihatnya.


"Maaf, aku tidak sengaja mengagetkan mu. Maksud aku, kakak ipar." Ucapnya merasa bersalah karena sudah mengagetkan hingga ponselnya saja terjatuh.


"Tidak apa-apa, lagi pula aku mau masuk ke kamar." Jawab Nanney sebisa mungkin untuk tenang dan tidak membuat orang yang dihadapannya itu merasa tidak enak hati, pikirnya.


"Tunggu."


Nanney berhenti dan menoleh kebelakang.


"Ada apa?" tanya Nanney sedikit gugup.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Boleh, mau bertanya apa ya?" tanya Nanney.


Tanpa disadari oleh keduanya, bahwa ada Henny yang tengah memperhatikan.


"Kakak ipar tau tidak, bagaimana caranya untuk mengembali ingatan yang sulit untuk diingat kembali." Tanyanya memberanikan diri.


Ponsel yang ada ditangannya pun, kembali jatuh ke lantai. Nanney kembali terkejut saat mendengar sosok lelaki yang begitu sama persis dengan Regar suaminya yang pertama.


Sosok Danu ikut kaget dan terkejut saat melihat Nanney yang begitu kaget mendengar pertanyaan darinya.

__ADS_1


Henny yang tak kalah kagetnya, ia langsung menghampiri kakaknya dan mengambilkan ponselnya.


"Yah, mati." Ucap Nanney saat tak bisa menghidupkan ponselnya.


"Kakak ipar kenapa kaget?" tanya suami Henny sambil berjalan mendekati.


"Maaf, akhir-akhir ini kondisiku sedang banyak pikiran. Oh ya, kalau begitu aku mau istirahat." Jawab Nanney dan langsung masuk kedalam kamar dengan terburu-buru, tak ingin adiknya akan salah paham.


Saat Nanney sudah kembali masuk ke kamarnya, kini tinggallah Henny dan suaminya. Keduanya pun tanpa bersuara, dan diantara salah satunya masuk ke kamar.


Henny yang merasa ingin menyerah dan menyudahi pernikahannya, ia teringat dengan pesan Nenek Aruma untuk bersabar hingga suaminya kembali pada ingatannya.


Tapi, perempuan mana yang akan tahan dengan lelaki dingin dan tidak menganggapnya ada. Henny perempuan normal, yang juga membutuhkan perhatian dari seorang suami.


"Kenapa mas Danu berani bertanya dengan Kak Nanney? ada apa dengannya? apakah suamiku menyukai Kakakku sendiri? ah, kenapa juga aku harus pusing memikirkannya." Gumam Henny dan memilih pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


Sedangkan di dalam kamar, Nanney berusaha untuk mengatur pernapasannya. Kemudian, diambilnya satu gelas air minum didekat tempat tidurnya dan meminum hingga tandas tak tersisa.


Seketika, Nanney teringat dengan sebuah pesan pada Ciko. Karena ingin mengetahui gelang miliknya, segera ia menghubungi anak buah suaminya.


Naas, Nanney teringat jika ponselnya telah mati total. Nanney menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan kasar.


"Benar-benar sial aku ini. Tidak seharusnya aku terkejut seperti tadi. Bodohnya aku, karena kelalaian ku yang tidak hati-hati." Gumam Nanney frustrasi.


Karena takut dengan kesehatan pada janin yang dikandung, Nanney berusaha untuk berpikir tenang. Takut, jika kehamilannya akan bermasalah. Sebisa dan sekuat untuk menerimanya dengan hati yang lapang.


Sakit hati, kecewa, itu sudah pasti. Tapi, mau bagaimana lagi, tak mungkin juga secara tiba-tiba harus mengungkapkan kebenaran. Semua itu sama halnya mencekik leher dengan bringasnya.


Apalagi dalam satu keluarga, tak mungkin juga Nanney melakukannya. Karena sadar jika sosok Danu tak mampu mengembalikan ingatannya, dirinya bisa apa? pikir Nanney sambil menatap lurus pada dinding.


Rasa kantuk yang sudah menguasai dirinya, Nanney berbaring ditempat tidur. Kemudian, ia memejamkan kedua matanya dan melupakan segala penatnya.

__ADS_1


Dilain tempat, Gane yang sudah berusaha untuk bisa tidur dengan lelap, tetap saja tak mampu untuk memejamkan kedua matanya.


Dirinya pun, masih ditemani oleh Doin dan juga Ciko, keduanya benar-benar setia pada Bosnya.


Gane yang ingin minum air putih, ia berusaha untuk bangun dari posisi tidurnya dan duduk. Masih dengan keadaan yang belum stabil, Gane memaksakan diri untuk meraih gelas berisi air minum didekat ranjang pasien.


Tidak peduli dengan kepalanya ikut terasa pusing akibat banyaknya sesuatu yang dipikirkan dan dibarengi dengan isak tangis, tak dapat dipungkiri jika kepalanya mendapatkan imbasnya.


"Bos!" Ciko terbangun dengan suara yang cukup keras saat mendengar ada sesuatu yang jatuh.


Dan benar saja, ada gelas yang terjatuh dari atas meja. Doin pun ikut terbangun dari tidurnya dan segera membereskan pecahan gelas yang hancur berantakan.


Gane membuang napasnya kasar, dirinya merasa tak berdaya dan tak ada gunanya untuk hidup.


Ciko yang takut Bosnya akan kambuh lagi dari sakitnya, segera mengambilkan air minum dan menyodorkannya pada Gane.


"Ini Bos, air minumnya." Ucap Ciko sambil menyodorkan minumannya pada Gane.


"Maaf ya Cik, Doin. Jika aku sudah banyak menyusahkan kalian berdua. Aku sadar, selama ini aku sudah banyak salah dengan istriku. Mungkin ini adalah hukuman untukku, agar aku sadar atas perbuatan yang sangat keji. Bahkan, sepertinya tak pantas untuk mendapatkan sebuah kata maaf." Ucap Gane sambil tertunduk sedih.


"Jangan bilang begitu, Bos. Aku sudah menganggap kamu sebagai saudaraku, apapun keadaan kamu." Jawab Ciko meyakinkan.


Ada rasa kecewa dengan perbuatan Bosnya, yang mana telah dilakukannya pembalasan pada seseorang yang tidak tepat pada sasaran. Melainkan pada adik perempuan nya sendiri.


Ciko sendiri tak berhak menghakimi, semua sudah terjadi atas ketidaktahuan akan kebenarannya.


"Tuan tidak perlu meminta maaf pada kami berdua, kita ini bagai teman, bagai saudara. Jadi, tidak perlu untuk merasa paling rendah maupun paling tinggi dalam tolong menolong." Timpal Doin ikut berbicara.


"Ah ya, masih ada waktu untuk istirahat, ayo kita kembali tidur. Besok kita harus menyambut pagi dengan damai, buang keegoisan yang selalu menyalahkan diri sendiri maupun menyalahkan orang lain." Kata Ciko.


"Ya, karena aku sudah mendapatkan titik terang untuk memberi tugas pada kalian berdua. Dan aku yakin jika kita akan berhasil melakukannya." Jawab Gane dan tak lupa untuk memberi pesan pada Ciko dan Doin.

__ADS_1


Keduanya mengiyakan dan kembali tidur ke tempat yang semula hingga tertidur dengan pulas.


__ADS_2