Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Kelegaan


__ADS_3

Ciko yang hendak keluar dari Lapas, tiba-tiba dirinya dikagetkan dengan suara ponselnya yang sepertinya ada seseorang yang menelpon.


Karena takut ada hal penting yang akan disampaikan, Ciko langsung menerima panggilan telpon.


"Ada kabar apa kamu menelpon ku?" tanya Ciko dengan rasa penasaran.


"Apa! baiklah, aku akan menunggu kabar darimu lagi." Ucapnya dan langsung mematikan ponselnya.


"Siapa yang menelpon mu, Cik?" tanya Tuan Hardika penasaran.


"Nanti akan saja jelaskan pada Tuan, kalau kita sudah sampai di rumah. Karena sekarang ini sudah waktunya untuk makan siang, bagaimana kalau kita pergi mencari warung makan dulu?"


"Ya, benar. Ya sudah, ayo kita berangkat. Untuk mengurus soal Gane, mungkin kita membutuhkan waktu satu minggu. Jadi, kita harus bersabar menunggu keputusan dari pihak yang berwajib." Ucap Tuan Hardika.


"Tidak apa-apa, sembari menunggu keputusan dari yang berwajib, kita menyelesaikan masalah lainnya yang belum terselesaikan." Sahut Pak Elyam ikut menimpali.


"Benar, Pak Elyam." Ucap Tuan Hardika.


Karena penasaran, Tuan Hardika kembali bertanya ketika teringat istri dari keponakannya.


"Oh ya Cik, Ngomong-ngomong bagaimana kabar dari istrinya keponakan ku si Gane?" tanya Tuan Hardika yang teringat dengan sosok Nanney.


"Kabarnya yang saya dapatkan, baik-baik saja, Tuan. Setelah Bos Gane dibebaskan, saya akan mengajaknya untuk ikut menjemput istrinya ke Kampung, Tuan. Mau bagaimanapun, masalah harus segera diselesaikan dengan baik. Apapun yang terjadi, setidaknya ada kejujuran." Jawab Ciko, Tuan Hardika dan Pak Elyam mengangguk.


"Yang kamu katakan itu ada benarnya, Nak Ciko. Bapak setuju dengan pendapatmu." Ucap Pak Elyam.


"Meski akan menjadi masalah besar, tetap akan diselesaikan dengan baik. Untuk keputusan, pihak yang bersangkutan yang akan memutuskannya." Jawab Ciko, kemudian membukakan pintu mobil serta mempersilahkan Tuan Hardika dan Pak Elyam untuk segera masuk ke dalam mobil.


.


.


Sedangkan dalam perjalanan, Nanney terus memikirkan sesuatu yang sangat ia takutkan. Yakni, dirinya merasa khawatir jika adik perempuannya akan mengetahui akan kebenaran yang ada. Tentu saja akan sangat menyakitkan untuk adik perempuannya.


.


.


.


Kembali pada sosok Danu yang sedang mengendarai motor, tiba-tiba perut yang juga belum terisi makanan saat berada di warung makan, lelaki yang membonceng Nanney pun, perutnya terasa lapar dan terpaksa menghentikan motornya di depan warung bakso dan mie ayam.


"Aku lapar, ayo turun." Ucapnya, Nanney sendiri segera turun tanpa menjawabnya.


"Ah ya, aku sendiri hampir lupa." Kata Nanney yang tersadar jika dirinya belum membelikan sesuatu untuk Nenek Aruma dan Henny adiknya.

__ADS_1


"Lupa kenapa?" tanyanya sambil turun dari motor.


"Aku belum membelikan sesuatu untuk Nenek Aruma dan Henny. Aku rasa membelikan bakso, mereka akan senang." Jawab Nanney.


"Ya, benar. Tapi sebelumnya, aku mau makan dulu, karena tadi aku belum makan siang gara-gara ulah kamu yang memesan cumi-cumi." Ucapnya, Nanney mengangguk dan berjalan masuk ke warung bakso.


"Maaf, aku tidak tahu jika kamu tidak suka dengan cumi-cumi." Jawab Nanney dibuat lirih.


"Jangan banyak alasan, kamu itu sengaja mengetes aku untuk mengetahui bahwa aku ini suami kamu atau bukan, ya 'kan? jujur saja. Percuma saja dengan berbagai macam alasan darimu, aku tetap percaya bahwa kamu adalah istriku."


"Terserah kamu, aku tidak peduli. Aku yakin jika nanti setelah sadar dari ingatan, kamu akan tahu bahwa aku ini bukan istrimu."


Bukannya marah, justru sosok Danu tertawa mendengarkannya.


"Kamu itu selalu saja mengelak. Aku tahu, kalau kamu mementingkan perasaan adikmu dari pada perasaan kamu sendiri. Sudahlah, akui saja."


"Mau masuk atau mau pulang?" tanya Nanney mengalihkan topik.


Dengan beraninya, sosok Danu langsung meraih tangan Nanney dan menggandengnya sampai di dalam warung.


"Lepaskan, aku malu karena aku tidak terbiasa." Ucap Nanney dengan lirih dan menekan bagian kukunya agar bisa terlepas dari genggaman sosok Danu.


"Aw!" pekiknya dan langsung melepaskan tangannya. Nanney tersenyum penuh kemenangan.


Saat sudah memesan, sosok Danu segera menghampiri Nanney dan duduk berhadapan. Aroma yang begitu menusuk pada indra penciuman Nanney, akhirnya dirinya tergoda dengan aroma kuah baksonya.


Sejak hamil, Nanney tak pernah mengalami keluhan apapun pada kehamilannya. Untuk makan saja, Nanney tidak ada yang tidak ia sukai, semua ia suka dan rasa lapar saja selalu menggoda perutnya yang ingin selalu makan dan makan.


Saat duduk berhadapan, tiba-tiba Nanney ingin menikmati baksonya. Tanpa ragu dan canggung ataupun malu, Nanney berterus terang untuk memesan baksonya.


"Kamu mau kemana?" tanyanya pada Nanney yang sudah bangkit dari posisi duduknya.


"Aku mau memesan bakso, aku lapar lagi." Jawab Nanney dan segera memesan bakso.


'Perasaan baru saja makan siang, sudah lapar lagi dianya. Apakah orang hamil itu mudah lapar? mungkin saja begitu.' Batinnya merasa heran.


Setelah memesan bakso sesuai seleranya, Nanney kembali duduk dihadapan lelaki yang disangka suaminya yang pertama, Regar.


Tidak dapat ditutup-tutupi lagi, lelaki yang ada dihadapannya saat ini yang tidak lain adalah suami pertamanya, pikir Nanney setelah merasa yakin dan tidak dapat untuk dipungkiri. Nanney sendiri masih tetap bersikap cuek dan biasa aja, dirinya tidak ingin menunjukkan kebenaran sebelum ayah dari anak yang dikandungnya berterus terang tentang semuanya.


Cukup lama berada di warung bakso, akhirnya pulang juga. Tidak lama kemudian, Nanney sudah sampai di rumah.


Dua porsi bakso yang Nanney bawa, tak lupa memberikannya pada Nenek Aruma dan Henny adiknya.


"Kak Nan, terimakasih sudah belikan aku bakso. Kita makan bakso bareng yuk Kak?" ucap Henny sambil menawarkan baksonya.

__ADS_1


"Ya ini, bakso punya Nenek juga banyak." Ucap Nenek Aruma ikut menimpali.


"Tidak usah Nek, buat Nenek sama Henny saja. Tadi Nanney udah makan baksonya bareng Danu, udah kenyang." Jawab Nanney.


"Oh ya udah, aku makan dulu ya Kak." Kata Henny, Nanney pun tersenyum.


"Hampir saja Nenek lupa, bagaimana dengan kehamilan kamu, Nak?" tanya Nenek yang hampir saja lupa.


"Baik-baik saja, Nek. Nanney masuk ke kamar dulu ya Nek?"


"Ya Nak, silakan. Sudah siang juga, waktunya untuk istirahat." Ucap Nenek Aruma.


Setelah itu, Nanney bergegas masuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Danu yang sedari pulang dari rumah sakit, dirinya langsung masuk ke kamar.


Perasaan yang tidak karuan, kini tengah bersemayam di kepala Nanney maupun sosok Danu. Keduanya sama-sama dilema dan terasa penat dengan pikirannya masing-masing.


Danu yang ingin mengetahui kebenaran atas dirinya, ia kembali mencari informasi lewat situs web. Berharap, dirinya akan menemukan titik terang mengenai keluarganya.


Sedangkan Nanney sendiri akhirnya mengirimkan sebuah pesan pada Ciko dan menjelaskan semuanya pokok permasalahannya.


Ciko yang tengah sibuk membicarakan kebenaran, tiba-tiba ponselnya berdering dengan nada suara yang khusus si A maupun si B berbeda beda. Jadi, Ciko dapat mengetahui siapa yang tengah mengirimkan pesan padanya tanpa melihat kontak nama.


Karena takut ada sesuatu yang sangat penting, akhirnya Ciko segera membuka pesan masuk ke nomor ponselnya.


Dengan seksama dan tidak ada kalimat yang tertinggal, Ciko benar-benar sangat terkejut membacanya. Gelisah, itu sudah pasti. Pasalnya akan bertambah rumit untuk menyelesaikan masalah berikutnya.


Baru saja menyelesaikan masalah dan merasa lega. Kini, datanglah satu masalah lagi yang bisa mengakibatkan kebencian dan lainnya yang dikhawatirkan.


Tuan Hardika dan Pak Elyam yang melihat ekspresi Ciko yang terlihat gusar, merasa ada yang disembunyikan dari Ciko.


"Cik, kamu kenapa? seperti ada masalah." Tanya Tuan Hardika penasaran.


"Begini Tuan, istrinya Bos Gane ingin secepatnya di jemput." Jawab Ciko yang mulai khawatir jika terjadi sesuatu pada istri Bosnya, yang tidak lain adik kandungnya sendiri.


"Kamu bilang saja pada istrinya Gane, suruh menunggu paling lama satu minggu. Besok secepatnya Gane akan segera diproses, dan berharap bisa bebas dalam waktu beberapa hari ini." Ucap Tuan Hardika.


"Yang dikatakan Tuan Hardika itu ada benarnya Nak Ciko, kamu minta pada istrinya Nak Gane untuk menunggu paling lama satu minggu. Bapak pastikan, Nak Gane akan segera bebas dalam waktu dekat ini." Timpal Pak Elyam ikut angkat bicara.


Setelah mendapatkan saran dari Tuan Hardika dan Pak Elyam, Ciko nurut dan langsung membalas pesan dari adiknya sendiri.


Nanney yang menerima balasan pesan masuk dari Ciko, secepatnya ia langsung membuka dan membacanya dengan seksama. Senyum merekah tengah menghiasi kedua sudut bibirnya.


Terlihat jelas kelegaan yang akhirnya ia tidak harus berlama-lama untuk berada dalam kepenatan yang terus menghantui dirinya.


"Benarkah Kak Gane akan bebas? semoga saja demikian." Gumamnya sedikit ada rasa kelegaan.

__ADS_1


__ADS_2