Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Memberi saran


__ADS_3

Gane masih memperhatikan adik iparnya yang tidak jauh dengan jarak pada keduanya.


"Tidak jadi, pergilah." Ucap Gane tanpa ekspresi apapun.


"Baiklah, aku akan keluar." Kata Nanney dan segera pergi dari hadapan kakak iparnya.


Sambil menuruni anak tangga, Nanney merasa aneh dengan sikap Gane. "Ada ape dengan Kak Gane? kenapa jadi aneh begitu, ya." Gumamnya.


"Hai Kakak ipar, selamat pagi." Sapa Vandu dengan ramah, Nanney pun tersenyum.


"Hai juga, selamat pagi." Balas Nanney.


"Cie cie ... pagi pagi sudah menyapa Kakak ipar, buruan menikah." Ledek David ikut nimbrung.


"David, jangan bikin gaduh. Ayo, kita sarapan pagi. Nanney, kamu juga ikutan sarapan pagi. Dan kamu Vandu, panggil Kakak kamu." Ucap Bunda Sere ikut menimpali, kemudian meminta Vandu untuk memanggil Gane.


"Kak Gane, maksud Tante?" tanya Vandu.


"Ya, panggil Gane untuk ikut sarapan pagi."


"Ya, Tante."


"Tidak perlu," sahut Gane sambil menuruni anak dan juga tengah mengenakan jam tangannya sedikit kesusahan.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita ke ruang makan." Ajak Bunda Sere.


Saat hendak berjalan menuju ruang makan, tiba tiba Gane meraih tangannya. Nanney sendiri terkejut, ia langsung menoleh ke sisi kanannya. "Ada apa, Kak?" tanya Nanney yang tidak sadar jika tangannya masih dipegang Gane.


Nanney yang kemudian tersadar, segera ia melepaskannya. Tanpa berucap sepatah kata, Gane menunjukkan jam tangannya pada Nanney. Gane memberi isyarat untuk membantunya mengenakan jam tangan.


"Oh." Ucap Nane, Gane memilih untuk diam. Setelah itu, Gane pergi begitu saja ketika Nanney sudah membantunya.


"Dasar! lelaki aneh." Gerutu Nanney dengan suara yang lirih, Gane sendiri tidak dapat mendengarkannya.


Ketika sudah berkumpul di ruang makan, semuanya tampak hening dan tidak ada satupun yang bersuara hingga semuanya tengah menikmati sarapan paginya masing-masing.


Selesai sarapan pagi, semua sibuk mengelap mulutnya dengan tissue.


"Gane," panggil Tuan Hardika.

__ADS_1


"Ya, Paman." Jawab Gane setelah minum air putih.


"Paman ingin berbicara sesuatu denganmu dan paman kamu, Prasetyo." Ucap Tuan Hardika yang selaku menjadi paman tertuanya.


"Baik, kita akan membicarakan sesuatunya di ruang privat." Kata Gane setenang mungkin, kemudian ia langsung bangkit dari posisi duduknya dan pergi menuju di ruang privat keluarganya.


"Pras, ayo kita selesaikan semuanya." Ajak Tuan Hardika kepada adiknya.


"Baik, Kak." Jawab Beliau, kemudian segera menemui Gane yang sudah masuk lebih dulu.


Saat berada di ruang privat, Tuan Hardika dah Tuan Pras ikut duduk di dekat keponakannya.


"Apa yang sebenarnya ingin Paman sampaikan, apakah ada hubungannya dengan Perusahaan?" tanya Gane masih dengan santainya.


"Ya, benar. Begini, kamu sudah dewasa, apakah kamu tidak ingin segera menikah?" tanya Tuan Hardika, sejenak Gane terdiam cukup lama.


"Maaf, bukan maksud Paman untuk mendesak. Paman hanya tidak ingin kamu dalam kesendirian, setidaknya kamu memiliki penerus." Ucap Tuan Hardika.


"Untuk apa, Paman?" Gane balik bertanya.


"Untuk menjadi penerus hak waris kamu, siapa lagi?"


"Bukan begitu maksud Paman, Gane."


"Stop, jangan dilanjutkan." Ucap Tuan Pras agar sang kakak tidak melanjutkan ucapannya.


"Apa maksudnya kamu, Pras?"


"Biarkan Gane berpikir, jangan memaksakan kehendak. Gane baru saja kehilangan Regar, Kak." Kata Tuan Pras, Tuan Hardika mengangguk.


Gane yang sudah mulai bosan dengan sebuah pertanyaan yang sama sejak dirinya memasuki usia dua puluh lima tahu, akhirnya Gane meyakinkan atas tekatnya.


"Baiklah, aku perintahkan sama Paman Hardika untuk memanggil pengacara yang berkuasa atas amanah dari Kakek Huttama. Setelah itu, kita jalani hidup kita masing masing tanpa beban apapun yang tertinggal." Ucap Gane yang mulai bosan dengan sebuah pertanyaan yang sama.


Gane yang merasa sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, ia lebih memilih untuk pergi ke Kantor.


Tuan Pras maupun Tuan Hardika segera bergegas pergi dari ruangan tersebut.


Dalam perjalanan, Gane meminta pada supirnya untuk menambah kecepatannya karena rasa ketidaksabaran nya.

__ADS_1


Kepala yang semakin terasa pusing, Gane merogoh ponselnya dan segera menghubungi Ciko. Panggilan telponnya pun terhubung ke ponsel Ciko, sebelum berbicara, Gane membuang napasnya dengan kasar.


"Cik, datanglah ke Kantorku sekarang juga. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, cepat." Perintah Gane, kemudian ia langsung menutup panggilan telponnya.


Sampainya di Kantor, Gane langsung masuk ke ruang kerjanya dan segera duduk sambil bersandar pada kursi kerjanya. Pelan-pelan ia memijat pelipisnya, berharap rasa penat yang yang sedang bersemayam dikepalanya pun, semua masalah akan segera terstasi. Suara ketukan pintu tengah mengagetkannya. Gane yang sudah tidak sabar, ia menekan tombolnya dan terbukalah pintunya.


"Tutup pintunya." Perintah Gane, Ciko segera menutup kembali pintunya.


"Ada masalah apa, Bos?" tanya Ciko sambil berjalan mendekati Bosnya.


"Duduk lah," kata Gane.


"Ada masalah besarkah, Bos? kelihatannya sangat penting."


"Paman Hardika sepertinya meminta hak warisnya, dan aku sudah memintanya untuk memanggil pengacara dari kakek Huttama." Jawab Gane, Ciko masih belum bisa menangkap seratus persen tentang apa dan tujuan apa yang sesungguhnya.


"Terus," Ciko yang penasaran kembali ingin dijelaskan lebih detail lagi.


"Paman Hardika juga memintaku untuk menikah, aku sendiri tidak ada minat sama sekali untuk menikah. Hatiku sudah terjaga untuk Clara, selamanya." Kata Gane yang akhirnya berterus terang pada Ciko yang sudah dianggapnya orang kepercayaannya dan tidak berpaling.


"Bos, mungkin benar yang dikatakan oleh Tuan Hardika."


"Kau mendukung lelaki Tua, itu?"


"Bukan mendukung, tetapi ada benarnya. Lagian juga untuk apa menjaga perasaan kamu pada Clara? yang benar-benar nyata kenapa sih, Bos."


"Tidak, Cik. Aku benar-benar tidak bisa. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah berpaling sesuai janjiku sendiri."


"Janji, janji macam apa? lagian umur kamu itu sudah tidak lagi muda. Kamu harus mempunyai penerus, Bos."


"Tidak, Cik. Aku masih merasakan sakit, Cik. Sakit kehilangan orang yang aku punya, yaitu Regar."


"Terserah Bos Gane saja, yang terpenting aku sudah mengingatkan. Mau diterima saranku atau tidaknya juga tidak apa apa, aku hanya mengingatkan saja. Soal ada apanya atas saran dari Tuan Hardika, mungkin dengan Bos Gane menikah, mungkin juga akan ada jawabannya." Kata Ciko sedikit memberi nasehat kecil untuk Bosnya.


"Menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, Cik. Kamu pikir menikah itu hal yang sangat gampang, begitu kah maksud kamu? hem."


"Ya sih Bos, masalahnya aku sendiri belum menikah." Kata Ciko sambil meringis.


"Cih, diri kamu sendiri saja belum menikah, sudah begitu mau sok jadi penasehat. Makanya, buruan menikah. Setelah itu, kamu boleh menasehatiku, paham."

__ADS_1


"Tapi, Bos. Coba Bos Gane Pikirkan lagi, yang sedang dihadapi Bos Gane itu bukan hal yang kecil." Kata Ciko kembali memberi nasehat pada Bosnya.


__ADS_2