Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Tidak perlu dicari


__ADS_3

"Akhirnya aku bisa kabur dari rumah terkutuk ini, aku bebas! ya! aku bebas sekarang. Mulai detik ini juga, aku tidak lagi mendapatkan hukuman dari lelaki sombong itu." Kata Nanney merasa lega. Setelah itu, Nanney kembali melanjutkan langkah kakinya yang entah kemana perginya.


Sedangkan di kediaman keluarga Huttama tengah disibukkan pada Gane yang hendak pergi dari rumah utama.


"Gane, dengarkan Paman dulu." Pinta Tuan Hardika mencoba untuk mencegah keponakannya. Gane tetap tidak menghiraukan, ia terus berjalan keluar dari rumah utama tanpa membawa apapun selain benda berharganya. Apa lagi kalau bukan beberapa lembar foto dan satu buah laptop dan dua buah ponsel miliknya. Ketiga benda yang berbeda sangatlah berharga.


Gane yang memang pada dasarnya sangatlah dingin dan kaku, sedikitpun tidak peduli dengan kedua pamannya.


"Aku pamit, Paman tidak perlu khawatir denganku. Hal kecil bagiku untuk menghidupi diriku sendiri. Untuk Paman Pras, terimakasih banyak karena sudah merawat aku dan Regar selama ini, aku rasa dua puluh persen bisa menggantikan jasa dari Paman. Untuk Paman Hardika, pertahankan semua milik Kakek Huttama." Ucap Gane berpamitan.


"Gane, kamu masih bisa untuk tinggal bersama Paman."


"Ya Kak, kita masih bisa tinggal bersama. Kita bisa tukar rumah ini dengan Perusahaan, kita masih mempunyai tempat tinggal." Sahut David ikut menimpali, Gane segera menoleh ke sumber suara.


"Tidak, aku akan tetap pergi. Jaga diri kamu baik baik, bekerjalah dengan benar, agar kamu bisa sukses." Ucap Gane yang justru memberi nasehat kecil pada saudara sepupunya.


"Ya, Kak. Aku tidak keberatan jika Kak Gane tinggal di rumah utama, lagi pula kita ini keluarga." Kata Vandu yang juga ikut menimpali.


"Tidak, keputusanku sudah bulat dan tidak bisa goyah sedikitpun." Ucap Gane tetap pada pendiriannya.


"Gane, Paman mohon untuk tetap tinggal di rumah utama." Kata Tuan Hardika, sedangkan Gane tetap menolaknya.


Saat itu juga, terdengar asisten rumah tengah terburu buru menuruni anak tangga. Gane dan yang lainnya pun menoleh ke arah tangga.


"Tuan, Tuan, itu, em ...." Ucapnya sambil menggaruk garuk tengkuk lehernya karena bingung untuk mengatakan sesuatunya.


Gane maupun yang lainnya pun, semua dibuat bingung.


"Ada apa? cepat kau katakan sekarang juga, jangan lambat." Tanya Gane.


"Em ... Nona Nanney tidak ada di kamarnya, Tuan. Sepertinya Nona Nanney sudah kabur, Tuan." Jawabnya, sedangkan Gane mengepal kuat pada kedua tangannya.


"Apa! kabur?" tanya Tuan Pras terkejut.

__ADS_1


"Ya, Tuan. Nona Nanney tidak ada di rumah, saya sudah mengeceknya lewat CCTV memalui pak Sero. Dan saya mengeceknya kembali kedalam kamarnya, tetap saja tidak ada bayangannya." Jawabnya menjelaskan.


'Sial! kenapa perempuan sial itu harus kabur sebelum aku keluar dari rumah ini. Baguslah jika dia kabur, lebih mudah untukku menangkapnya.' Batin Gane, kemudian ia langsung berpamitan yang kedua kalinya.


Tuan Pras maupun Tuan Hardika hanya bisa menuruti kemauan Gane.


"Gane," panggil seorang perempuan paruh baya sambil berjalan. Gane menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang.


"Tante,"


"Kamu mau kemana?" tanya bunda Sere.


"Aku harus pergi dari rumah ini, Tante. Maafkan aku, Tante. Ini sudah menjadi keputusanku, selebihnya aku ucapkan banyak terimakasih atas jasa Tante yang sudah membesarkan aku dan Regar. Sekali lagi maafkan aku dan Regar yang sudah merepotkan Tante. Kalau begitu aku pamit pergi, Tante." Ucap Gane, Bunda Sere sendiri merasa keberatan jika harus menyaksikan keponakannya pergi dari rumah utama.


"Kenapa kalian semua hanya bisa diam. Cepat kalian cegah Gane, dia keponakan kalian berdua." Pinta Bunda Sere kepada kakak iparnya dan juga pada suaminya sendiri.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa, pergi dari rumah utama sudah menjadi keputusan Gane. Kita bisa apa? anak itu kan, memang keras kepala. Percuma kita memohon, sekali tidak ya tidak." Kata Tuan Pras menjawab pertanyaan dari istrinya.


Karena tidak ada hasilnya juga, Bunda Sere pergi dari hadapan sang suami dan yang lainnya.


"Bos, ada apa? sepertinya ada masalah besar. Tumben minta jemput, biasanya juga pakai sopir khusus."


"Jangan banyak bicara, kau ini. Sudahlah, cepat kau tambahkan kecepatannya. Masih banyak yang harus kita lakukan."


"Ya ya ya, Bos. Tenang sedikit kenapa, Bos." Sahut Ciko sambil menyetir mobil, sedangkan Gane memilih untuk bersandar dan memejamkan kedua matanya.


Ssssttttt


Ciko mendadak menghentikan mobilnya saat melihat banyak orang kerumuman dipinggir jalan raya. Tentu saja sangat mengganggu kendaraan yang sedang melaju kencang.


Gane yang hampir terbentur, saat itu juga ia terbangun dari tidurnya.


"Gila, kau ini. Kamu sengaja mau mencelakai aku, begitu maksud kamu? ha."

__ADS_1


"Tidak sih, Bos. Itu, ada kerumunan." Jawab Ciko sambil menunjuk ke arah yang ia maksud.


"Ah, tinggal belok aja apa susahnya. Sini, biar aku saja yang menyetir mobilnya."


"Jangan, Bos. Nanti bermasalah kalau Bos Gane menabrak orang orang itu." Ucap Ciko berusaha untuk mencegah.


Gane yang tidak sabar, ia langsung turun dan mendekati kerumunan yang mengganggu jalan lalu lintas.


"Minggir! ada apa ini? apa kalian semua tidak lihat, banyak mobil yang mengantri gara-gara ulah kalian semua harus menunggu."


Seketika, semua diam dan tersadar jika ulah mereka semua sudah menyalahi aturan.


"Maaf, kita semua sedang menangkap jambret." Jawabnya sambil menunjuk pada seorang perempuan yang terlihat pada sudut bibirnya lebam.


Gane membulatkan kedua bola matanya karena terkejut dengan apa yang ia lihat. Perempuan itu menutupi wajahnya karena malu, lebih lebih Gane yang berada di hadapannya.


"Jangan salah tuduh kalian semua, perempuan itu tidak mungkin seorang jambret." Kata Gane.


"Tapi aku menemukan tas Ibu ini ada ditangan perempuan itu." Jawabnya sambil menunjuk pada korban dan tersangka.


"Eh Bapak, aku ini bukan jambret. Aku itu yang merebut tas Ibu ini dari tangan si jambret." Ucapnya membela diri.


"Halah, namanya maling itu tidak mau mengaku. Maling tetaplah maling, ayo kita bawa dia ke Kantor polisi."


"Tunggu, jangan ambil kesimpulan semaunya kalian. Perempuan ini adalah istriku, kalian tidak boleh menuduhnya yang tidak-tidak. Jika istriku tidak bersalah, apa kalian mau aku jebloskan ke penjara? ha." Ucap Gane setengah menggertak.


Semua yang sudah menghakimi perempuan yang disangka jambret, satu persatu saling menatap satu sama lain.


"Tidak, kita semua tidak mau masuk penjara." Jawab satu mewakili yang lainnya.


"Lagi pula, isi dalam tas Ibu ini tidak ada yang kurang, 'kan? jadi tidak perlu dipermasalahkan. Karena aku bisa nuntut balik kepada kalian semua, mau."


"Tidak, tidak mau." Jawabnya sedikit gemetaran.

__ADS_1


Saat itu juga, Gane langsung menarik paksa dan memasukkannya kedalam mobil.


__ADS_2