Kakak Ipar Pengganti

Kakak Ipar Pengganti
Merasa aneh


__ADS_3

Pagi yang cerah, namun tidak secerah harapan Gane. Semua harapannya seakan ikut terhanyut bersama kapal yang dinaiki adik kesayangannya.


"Bos," panggil Ciko yang kini ikut berdiri di sebelah Gane.


"Hem," sahut Gane berdehem tanpa berucap sepatah kata apapun untuk menyahut panggilan dari Ciko.


"Sekarang sudah jam delapan, Bos. Waktunya untuk sarapan pagi, setelah itu kita lanjutkan kembali untuk mencari Tuan Regar." Ucap Ciko mencoba untuk membujuk Bosnya, berharap tidak terus menerus ikut terbawa dalam kesedihannya.


Tanpa menjawab ucapan dari Ciko, Gane langsung menoleh ke sebelahnya.


"Apakan Paman dan Vandu masih ada di sini?" tanya Gane.


"Ya, Bos. Tuan Hardik dan Tuan Pras beserta Vandu masih berada di tempat ini, Bos. Semalaman mereka bertiga menginap, kata Tuan Pras akan terus mendampingi Bos Gane sampai ditemukannya Tuan Regar. Hanya itu yang aku tahu, selebihnya aku tidak begitu tahu." Jawab Ciko sesuai apa yang ia dapatkan informasi mengenai kedua paman Bosnya.


"Oh,"


"Kenapa, Bos? kok cuman oh."


"Tidak ada apa-apa, ayo kita sarapan." Jawab Gane, kemudian mengajak Ciko untuk sarapan pagi.


Ciko yang merasa aneh atas sikap Bosnya, ia hanya mengerutkan keningnya.


'Bos Gane tidak sedang kambuh, 'kan? seperti ada yang tidak beres.' Batin Ciko penuh tanda tanya terhadap Bosnya yang tiba-tiba mendadak aneh menurutnya.


Bagaimana tidak aneh, Ciko yang selalu kesulitan untuk membujuk Bosnya, tiba-tiba Gane sendiri yang mengajaknya sarapan pagi, pikir Ciko bertanya-tanya.


Sampainya di lantai bawah, Gane mendapati kedua pamannya dan juga Vandu.


"Kak Gane," panggil Vandu sambil berjalan menghampiri saudaranya.


Gane menoleh ke sumber suara, tepatnya pada seseorang yang tengah memanggilnya. "Ada apa?" tanya Gane masih dengan sikapnya yang dingin dan kaku.

__ADS_1


"Kak Gane baik-baik saja, 'kan?" tanya Vandu.


"Ya, kenapa?" Gane balik bertanya.


"Tidak apa-apa, aku takut soal yang semalam." Kata Vandu yang teringat saat saudara sepupunya tengah meluapkan emosinya.


"Oh soal semalam, tidak ada masalah apapun pada diriku. Aku hanya terbawa lamunanku soal memikirkan Regar, itu saja." Jawab Gane dengan santai.


"Syukurlah kalau begitu, paman juga ikutan khawatir. Kata Ciko kamu baik baik saja, jadi paman sudah merasa lega. Oh ya, setelah kita sarapan, kita akan lanjutkan lagi untuk mencari Regar." Ucap Tuan Pras ikut menimpali ketika Beliau mendengar percakapan dari kedua keponakannya.


"Paman tenang saja, selagi ada Ciko, aku baik baik saja." Kata Gane, Tuan Pras tersenyum tipis mendengarkannya.


"Ya, Paman percaya dengan Ciko. Dari dulu Ciko selalu menangani kamu, Paman benar-benar bangga dengan Ciko. Kalian tahu? ayah Ciko juga sosok yang bertanggung jawab, sama seperti Ciko." Ucap Tuan Pras.


"Tuan tidak perlu berlebihan ketika memuji orang tua saya, karena semuanya sudah menjadi tanggung jawab sebagai orang kepercayaan, Tuan." Kata Ciko ikut menimpali.


"Sedang apa kalian semua, sepertinya sedang membicarakan sesuatu?" tanya Tuan Hardika sambil berjalan mendekati.


"Tidak ada apa-apa, ayo kita sarapan dulu." Sahut Tuan Pras, kemudian segera menuju ke ruang makan. Yang mana sudah di hidangkan menu sarapan pagi untuk masing-masing.


'Aku tahu yang kamu rasakan, Bos. Bahkan untuk menelan saja rasanya sangat sulit, namun bagaimana lagi, tubuhmu butuh asupan untuk dijadikan energi. Karena aku tidak ingin, di luaran sana ada lawan yang akan mentertawakan kamu ketika kamu terlihat lemah.' Batin Ciko sambil mengunyah makana.


Setelah selesai menikmati sarapan paginya, satu persatu beranjak dari tempat duduknya dan segera bersiap siap untuk melanjutkan pencarian sosok Regar yang juga belum ditemukan.


Gane yang tidak ingin membuang buang waktunya, ia cepat-cepat untuk mengambil ponselnya yang masih tertinggal di ruangannya. Setelah dirasa tidak ada lagi yang tertinggal, Gane dan Ciko bergegas keluar.


"Gane, tunggu."


Gane yang malas untuk menanggapi, terpaksa ia berhenti. Tetap saja dengan sifatnya yang kaku itu, Gane tidak menoleh sedikitpun.


"Gane, apa tidak sebaiknya kamu berada di rumah saja? maksud Paman di tempat peristirahatan."

__ADS_1


Seketika, Gane langsung menoleh ke sebelahnya. Tatapan Gane seakan berubah menjadi murka, namun ia sadar dengan siapa ia berhadapan.


"Tidak, Paman. Aku akan tetap ikut, aku harus bertanggung jawab atas keselamatan Regar. Karena Regar adalah tanggung jawabku, sebagaimana Mama telah berpesan padaku untuk menjadi pelindung Regar. Dan aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika Regar tidak juga ditemukan." Jawab Gane yang tidak bisa di goyahkan apa yang sudah menjadi keputusannya.


"Tapi Gane, cuaca di luaran sana masih buruk." Ucap Tuan Hardika yang mencoba untuk mencegahnya.


"Biarkan saja, Kak Hardika. Biarkan Gane ikut melakukan pencarian Regar, Gane adalah kakaknya dan berhak atas keputusannya." Kata Tuan Pras ikut menimpali.


"Ya sudah jika itu keputusan kamu, Gane. Paman tidak akan menghalangi kamu, tetap saja kamu akan Paman ikuti. Kita akan sama-sama mencari Regar, ayo kita berangkat jika sudah keputusan kamu tidak bisa goyah." Ucap Tuan Hardika, Gane sendiri hanya mengangguk dan segera keluar dari tempat peristirahatan beriringan dengan Ciko.


Saat sedang berjalan menuju tepi pantai, tiba-tiba Ciko dikagetkan dengan deringan ponselnya.


"Bos, tunggu sebentar. Sepertinya ada seseorang yang menghubungiku." Ucap Ciko pada Gane.


"Cepat kamu angkat telponnya." Perintah Gane, sedangkan Ciko segera menerima panggilan tersebut sedikit merenggangkan jaraknya dari Bosnya.


"Apa! sudah sadarkan diri?"


"Baik lah, kamu urus Nona Nanney dengan baik. Ingat, jangan sampai kabur." Ucap Ciko memberi perintah pada anak buahnya yang sudah ditugaskan untuk menjaga istri dari adik Bosnya.


"Oh, syukurlah jika Nyonya Sere sudah berada di rumah sakit. Tetap saja, kamu harus melakukan penjagaan ketat agar Nona Nanney tidak kabur." Kata Ciko kembali memberi pesan untuk anak buahnya.


Setelah dirasa sudah cukup, Ciko kembali mendekati Bosnya. "Siapa yang menelpon mu, Cik? sepertinya sangat penting." Tanya Gane sambil berjalan.


"Dari rumah sakit, Bos." Jawab Ciko sambil mengantongi ponselnya.


"Siapa yang sakit, pacar kamu? memangnya kamu punya pacar? jangan mimpi di pagi hari, Cik."


"Tidak lucu, Bos. Tadi aku mendapatkan kabar dari rumah sakit, jika istri Tuan Regar sudah sadarkan diri."


"Terus apa hubungannya dengan kamu? hem."

__ADS_1


"Tidak ada sih, Bos. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu juga pada istri Tuan Regar, itu saja."


Gane yang mendengar jawaban dari Ciko pun, ia langsung menoleh padanya. Tatapan penuh kecurigaan kini tengah bersemayam dalam pikiran Gane.


__ADS_2