
Di rumah kediaman keluarga Huttama, telah berkumpul bersama dengan anggota keluarga. Ada Tuan Hardika bersama putranya yang akan menginap.
Sedangkan Pak Elyam akan tetap tinggal di rumah utama untuk dijadikan orang kepercayaan serta menjadi pengawas di dalam rumah.
Semua yang sedang berada didalam kamarnya masing-masing tengah beristirahat beberapa menit sebelum makan malam.
Berbeda dengan tempat lain, Ciko dan Doin tengah menikmati makan malamnya.
"Bro, setelah ini kamu mau kemana?" tanya Doin disela-sela menikmati makanan.
"Aku tidak tahu, entahlah. Kamu mah enak, sudah menjadi sekretarisnya." Jawab Ciko sambil mengunyah makanannya.
"Lebih enakan kamu, jelas-jelas kamu itu kakak iparnya Tuan Gane. Tentu saja, kamu akan mendapatkan hal lebih dari sekretaris." Ucap Doin, sedangkan Ciko hanya mengernyit.
"Tidak lah Bro, kalau bisa aku lebih baik mandiri." Jawab Ciko masih menikmati makanannya.
"Mandiri yang bagaimana? enakan juga ikut ajakan adik ipar saja. Penghasilan jelas, kamu tidak bingung untuk soal pekerjaan. Jadi, kamu itu tinggal mencari pendamping hidupmu. Apa ya, kamu akan membujang selamanya? jangan sampai."
"Aku tidak tahu, yang jelas aku jalani hidupku bagaimana air itu mengalir."
"Ah sudahlah, ayo kita selesaikan dulu makan malamnya." Kata Doin.
__ADS_1
Ciko yang ingin cepat-cepat istirahat, ia segera menghabiskan makanannya.
Sedangkan di keluarga Huttama, Gane yang sedang berbaring dipangkuan istrinya tiba-tiba dikagetkan degan suara panggilan telponnya.
"Sayang, aku angkat telponnya sebentar." Ucap Gane dan segera meraih ponselnya, sang istri mengangguk pelan.
"Tumben sekali Tuan Herdi Ningrat menelpon ku, ada apa ya? semoga saja tidak ada hal buruk yang akan disampaikan padaku." Gumam Gane sambil menerka-nerka.
Takut, akan ada sesuatu hal buruk yang akan disampaikannya.
"Apa Tuan, body guard untuk putrinya Tuan Herdi Ningrat? yang benar saja, Tuan."
"Baiklah, saya akan mencoba bicarakan dengan orangnya dulu, Tuan. Tapi sebelumnya saya tidak memaksakan kehendaknya, antara mau ataupun tidak." Jawab Gane.
Setelah mematikan panggilan telpon, Gane kembali mendekati istrinya yang tengah duduk dan bersandar di atas tempat tidurnya.
"Siapa yang menelpon, Kak?" tanya sang istri penasaran karena saat menerima panggilan, Gane bersuara dengan nada yang terkejut.
"Tuan Herdi Ningrat memintaku untuk mencarikan body guard untuk putrinya." Jawab Gane dan membuang napasnya dengan kasar.
"Memangnya kenapa mesti pakai body guard segala, Kak?"
__ADS_1
"Karena Tuan Herdi Ningrat tidak merestui hubungan putrinya dengan lelaki yang tidak di sukai oleh keluarga Ningrat, sayang. Makanya, untuk sementara harus pakai jasa body guard."
Jawab Gane menjelaskan.
"Terus, siapa orangnya yang akan dijadikan body guard nya Tuan Herdi Ningrat, Kak?"
"Kalau Kakak kamu tidak keberatan, aku akan memintanya untuk menjadi body guard putrinya Tuan Herdi. Kalaupun tidak mau, mungkin Doin. Tapi, aku rasa lebih baik Kakak kamu."
"Kak Ciko?"
"Ya, siapa lagi. Aku yakin jika Kakak kamu pasti bisa diandalkan dan bisa menjadi body guard." Jawab Gane penuh yakin.
"Semoga saja Kak Ciko beneran mau, siapa tahu aja bisa kecantol sama majikannya." Ucap sang istri dengan tawa kecilnya.
"Ah ya juga ya, semoga saja benar. Lagian juga Tuan Herdi sudah mengenal Kakak kamu, hanya saja aku belum menyebutkan namanya." Kata Gane menjelaskan.
"Benarkah? semoga saja ini kabar baik buat Kak Ciko, kasihan harus sendirian terus." Ucapnya penuh harap jika sang kakak dapat melabuhkan cintanya pada perempuan yang akan nantinya akan menjadi istrinya, entah siapa jodoh sang kakak.
Apakah ada yang ingin kisah dari babang Ciko? kalau ada akan saya pisah ceritanya, tapi belum sekarang atau besok, tentunya nunggu semuanya berakhir dengan indah.
Seru kali ya, jika babang Ciko yang jomblo akut jadi body guard cewek tomboy.
__ADS_1