
Waktu terus berganti untuk melakukan pencarian, tidak hanya satu tim saja yang ikut terjun mencari sosok Regar. Bahkan banyak orang yang sudah dikerahkan untuk ikut mencari korban dari insiden kecelakaan pada kapal milik keluarga Huttama. Namun, tetap saja tidak ada titik terang untuk mendapatkan informasi apapun, termasuk jejaknya.
Gane yang merasa prustasi dan juga merasa sangat kecewa atas tidak ditemukannya sang adik laki laki, berkali kali ia berteriak sangat kencang sambil menyebut nama adik kesayangannya.
Butiran-butiran air matanya kini tengah membasahi kedua pipinya. Nafas terasa sesak, bahkan seperti tercekik. Gane langsung menjatuhkan diri ditepi pantai dengan menggenggam pasir sangat kuat.
"Regar!" teriak Gane sangat kencang.
Ciko yang berada di belakangnya hanya bisa diam, ia tengah berpikir untuk mencari cara agar Bosnya dapat dibujuknya.
"Regar, kamu ada dimana? aku sudah menyiapkan segalanya untuk kamu. Untuk kebahagiaan kamu, tentunya." Ucap Gane sambil menunduk, bahkan dirinya tidak kuasa untuk mendongakkan pandangannya.
Ciko yang tidak ingin Bosnya semakin larut dalam kesedihannya, segera ia mendekati dan mencoba untuk membujuknya.
"Bos, semua sudah berakhir. Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain memberinya sebuah doa, hanya doa." Ucap Ciko yang kini posisinya tengah berjongkok disebelah Bosnya.
Gane masih tertunduk lemas, bahkan seakan hidupnya telah hilang separuhnya. Tidak henti hentinya Gane menangis sesenggukan atas kepergian sang adik laki laki kesayangannya.
"Gane, Ciko benar. Semua telah berakhir, kita hanya punya doa untuk Regar. Kamu harus relakan kepergian Regar bersama kedua orang tuamu, doakan yang terbaik untuk mereka. Paman ikut berduka cita atas kepergiannya Regar, kita juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari Regar. Tapi, kita tidak mempunyai kehendak. Kita hanya bisa menerima takdir, tidak lebih selain berusaha dan berdoa." Ucap Tuan Pras pada keponakannya.
Gane langsung bangkit dari posisinya dan berdiri di hadapan sang paman, dan menatap nya masih terlihat sembab akibat menangisi atas kepergian adik kesayangannya.
"Paman tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan yang kedua kalinya, Paman tidak akan pernah mengerti." Ucap Gane dengan segala emosinya.
__ADS_1
"Kakak tidak sendirian, Kak Gane masih ada aku dan kak Vandu. Kita tidak bisa mencegah musibah yang sudah menjadi takdir kita, Kak." Ucap David ikut menimpali.
"Yang dikatakan Ciko, Paman kamu dan David itu ada benarnya. Kita tidak bisa melawan takdir, kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Kamu tidak sendirian, kamu masih mempunyai keluarga." Kata Tuan Hardika ikut menimpali, Gane hanya melirik nya tajam.
"Ciko, ayo kita pulang." Ajak Gane dengan tiba tiba memutuskan untuk pulang, bahkan dirinya tidak peduli dengan apa yang dikatakan kedua pamannya dan sepupunya sendiri. Justru Gane memilih mengajak Ciko untuk pulang dan tidak berpamitan kepada kedua pamannya.
"Lihatlah keponakan kamu itu, masih saja keras kepala. Dari dulu tidak pernah berubah, angkuh dan keras kepala." Ucap Tuan Hardika mengomentari tentang sikap keponakannya, Tuan Pras hanya menggelengkan kepalanya dan memilih untuk segera kembali ke tempat yang sudah dijadikan penginapan.
Ciko yang mendengarkan ucapan dari Bosnya itupun, ia seperti tidak percaya atas sikap dari Bosnya. Kemudian ia langsung mengejarnya, begitu juga dengan Tuan Pras yang ikut masuk ke tempat penginapan dan diikuti oleh Tuan Hardika beserta putranya dan David keponakannya.
Sampainya berada di dalam ruangan khusus, Gane segera bersiap siap untuk pulang.
"Bos, kita mau kemana?" tanya Ciko mencoba untuk memastikannya.
Gane menarik napasnya dan membuangnya dengan kasar. "Pulang." Jawab Gane singkat, kemudian ia langsung menyambar jaketnya.
"Serius lah, kapan aku tidak pernah serius. Ayo kita pulang, untuk apa kita berlama-lama di tempat ini. Bukanlah sudah tidak ada lagi harapan, ya 'kan? semua sudah berakhir." Ucap Gane dengan tatapan yang cukup serius.
"Bos Gane sedang tidak marah dengan ku, 'kan? maafkan aku, Bos. Bukan niat aku untuk berkata yang tidak baik, aku hanya tidak ingin melihat Bos Gane terus terusan terhanyut dalam kesedihan. Aku hanya ingin Bos Gane menjadi sosok yang lebih kuat lagi, Bos Gane masih punya harapan untuk meneruskan penerus selanjutnya." Ucap Ciko setengah membusungkan badannya.
Gane segera mendekati Ciko yang masih dengan posisinya tanpa mendongak pada dirinya.
"Maksud kamu, apa? penerus selanjutnya? maksud nya?" tanya Gane tepat berada dihadapan Ciko.
__ADS_1
Ciko yang masih dihantui dengan rasa takut atas ucapannya sendiri, sedikitpun dirinya tidak mampu untuk menatap wajah Bosnya.
"Kenapa kamu masih diam? tidak beranikah untuk menatap ku? hem."
Ciko yang mendapatkan pertanyaan dari Gane, segera ia memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dari Bosnya.
Dengan perasaan campur aduk, Ciko berusaha untuk tetap tenang ketika harus berhadapan dengan Bosnya.
"Maksud aku itu, Bos Gane sudah cukup usianya untuk menikah. Bukankah begitu, Bos? menikah." Ucap Ciko dengan sangat hati-hati ketika berucap. Gane yang mendengarkan nya pun, ia hanya mengernyitkan keningnya.
"Menikah?" tanya Gane yang kini seolah olah berubah menjadi orang bo*doh ketika membahas tentang menikah.
"Ya, Bos. Menikah, bukankah dengan cara menikah Bos Gane akan mendapatkan keturunan untuk menjadi penerus keluarga Huttama? ingat, Huttama." Jawab Ciko memperjelas maksud dari ucapannya.
"Tidak, semua perempuan sama saja. Hanya Ibuku, ibuku, dan ibuku yang setia." Ucap Gane yang tetap dengan pendirian nya yang masih tidak pernah berubah.
"Bos, tidak semua perempuan itu sama." Kata Ciko, Gane menatapnya tajam.
"Kita mau pulang atau mau berdebat? ha! ingat, aku masih sakit atas kehilangan adikku. Jadi, kamu tidak usah membahas soal perempuan, ngerti." Ucap Gane tetap pada pendiriannya, sedangkan Ciko hanya mengangguk. Setelah itu Gane bergegas keluar dari ruangan tersebut.
'Mau sampai kapan kamu akan terus menutup hatimu untuk perempuan, Bos? aku tahu rasanya sakit kehilangan sang adik yang kita sayangi. Tapi kita bisa berbuat apa, kita tidak bisa melawan takdir. Kita hanya bisa menerimanya dengan hati yang lapang, dan tentunya doa yang bisa kita berikan untuk mereka yang pergi lebih dulu. Tidak hanya kamu saja yang merasa kehilangan orang orang yang kita sayangi. Sama sepertiku yang juga kehilangan adik perempuan dan kedua orang tua.' Batin Ciko yang juga merasa sakit ketika harus kehilangan adik perempuannya.
Selesai merenungi masa lalunya, Ciko segera bergegas untuk pergi mengikuti Bosnya.
__ADS_1
Sedangkan di kediaman keluarga Huttama, Nanney hanya bisa menangisi kepergian suami yang ia cintai. Pandangannya seakan tidak menyisakan senyuman yang biasa ia tunjukkan pada setiap orang yang ia temui.
"Nanney, kamu yang sabar ya, Nak. Ini semua sudah jalannya, kita tidak bisa berbuat apa apa selain menerima kenyataan ini. Semua sudah berusaha semaksimal mungkin, namun takdir berkata lain. Lapangkan hatimu, doakan yang terbaik untuk suami kamu. Percayalah, jika ada keajaiban, suami kamu pasti akan kembali bersama kamu lagi." Ucap ibundanya David sambil memberi pelukan pada Nanney, istri dari keponakannya.