
Nanney yang tidak bisa berbuat apa-apa atas perlakuan dari kakak iparnya pun, ia hanya menahan rasa sakit pada punggung yang terbentur cukup kuat akibat ulah dari kakak iparnya sendiri.
Mbak Lina yang sedari tadi menyaksikannya, sedikitpun tidak bisa berbuat apa-apa atas amarah majikannya, ia hanya bisa diam sambil membereskan kamar milik majikannya.
Ciko yang juga melihat sikap Gane yang sudah keterlaluan itu, ia langsung mencoba mencegahnya.
"Bos! hentikan. Sadar, Bos. Dia adik ipar mu, istri dari Tuan Regar." Ucap Ciko mencoba untuk mengingatkan Bosnya, tetap saja Gane masih menatapnya dengan penuh amarah.
"Istri macam apa, Dia. Aku yakin, Regar tenggelam karena demi menyelamatkan nyawanya." Ucap Gane yang masih dikuasai oleh amarah kebenciannya pada Nanney, yakni adik iparnya sendiri.
"Bos, namanya takdir itu tetap takdir. Kita tidak bisa untuk menghakimi seseorang, termasuk musibah pada Tuan Regar." Ucap Ciko mencoba memberi penjelasan pada Gane, berharap tidak melakukan hal buruk pada diri Nanney, pikirnya.
Gane yang malas menanggapi ucapan dari Ciko, ia langsung segera pergi begitu saja. Ciko yang merasa kasihan pada Nanney, dirinya hanya bisa berusaha sebaik mungkin agar tidak menjadi masalah yang lebih besar dan juga rumit.
"Nona, mulai hari ini berhati-hatilah bila berhadapan dengan kakak ipar Nona. Aku tidak bisa menjamin semua akan baik baik saja." Ucap Ciko mengingatkan Nanney.
"Terimakasih sudah mengingatkan, selanjutnya aku akan lebih berhati hati lagi." Jawab Nanney sambil menahan rasa sakit pada punggungnya yang terbentur dinding yang cukup kuat karena dorongan dari kakak iparnya.
Ciko yang tidak ingin menambah masalah, ia segera pergi untuk menemui Gane.
"Ciko, tunggu." Panggil Tuan Hardika, Ciko langsung menghentikan langkah kakinya dan memutar balikkan badan.
"Ya, Tuan."
"Ada apa dengan Gane? apa yang dilakukannya di dalam kamar Regar? bukankah didalam kamar ada istrinya Regar?" tanya Tuan memberi banyak pertanyaan pada Ciko.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, Tuan."
"Oh, kirain ada apa. Ya sudah kalau gitu, silahkan jika mau menemui Gane." Ucap Tuan Hardika.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi, mari." Kata Ciko, kemudian ia segera menemui Gane untuk menyelesaikan masalah yang barusan terjadi. Setidaknya Ciko dapat meredamkan amarah yang tengah menguasai Bosnya, pikir Ciko dengan kekhawatiran atas masalah yang masih belum juga terselesaikan.
Gane yang sudah berada didalam kamar, ia melepaskan pakaiannya dan hanya menyisakan kaos oblong dan celana kolornya. Kemudian ia mencuci mukanya, berharap pikirannya sedikit tenang dan tidak mudah terbawa oleh emosinya sendiri.
Selesai mencuci mukanya, terdengar jelas jika ada yang mengetuk pintu kamarnya. Gane berjalan mendekat dan membuka pintunya.
"Ada apa? mau pulang? bawa saja mobilnya, kuncinya ada ditempat biasa."
"Ya, terimakasih. Tapi bukan itu topiknya, ada yang lain." Jawab Ciko yang tatapan serius.
"Masuklah, dan tutup pintunya." Kata Gane, Ciko mengangguk dan segera masuk kedalam kamar dan menutup pintunya.
"Sebelumnya aku mau minta maaf, Bos. Jika ucapan ku tidak enak untuk didengar."
"Sudah aku katakan dari tadi, jangan banyak alasan. Cepat Kau katakan apa topiknya, jangan membuang buang waktu."
"Aku minta sama Bos Gane untuk tidak bersikap kasar pada Nona Nanney. Kasihan Dia, Bos."
Disaat itu Gane menatap tajam pada Ciko, tatapannya seperti ingin memangsa musuhnya sendiri. Dengan pelan Gane mendekati Ciko lebih dekat lagi.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang kesedihan ku, jadi berhentilah untuk menjadi penasehat ku. Aku punya hak untuk memberi hukuman sama perempuan itu, dia sudah menghilangkan nyawa adikku. Harta satu satunya dalam hidupku, paham."
__ADS_1
"Bos, aku mau tanya. Seandainya Bos Gane berada di posisi Tuan Regar, apa yang akan Bos Gane lakukan. Apakah Bos Gane akan membiarkan orang yang dicintainya tidak selamat? dan membiarkan nyawanya hilang? tidak, 'kan? sama seperti Tuan Regar yang mencintai Nona Nanney yang sangat dicintainya itu. Bahkan nyawa pun menjadi taruhannya demi keselamatan seseorang yang sangat dicintainya." Ucap Ciko mencoba menjelaskan sebaik mungkin, berharap Bosnya akan mengerti maksud dari semuanya.
Gane yang mendengarkannya, sedikitpun tidak terketuk hatinya. Bahkan kebenciannya kini semakin mendalam. Rasa belas kasihan saja seakan tidak ada sedikitpun, yang ada hanya kebencian dan kebencian kepada adik iparnya sendiri.
"Tidak tahu lah Cik, yang jelas aku masih belum bisa menerimanya, Cik. Apapun alasannya, perempuan itu harus menanggung akibatnya." Kata Gane yang tetap pada pendiriannya yang tidak bisa untuk dirubah sedikitpun.
"Bos, ah sudahlah. Aku hanya bisa mengingatkan mu saja, Bos. Behati hatilah ketika berhadapan dengan seorang perempuan, karena bisa menjadi bumerang diri sendiri." Ucap Ciko setengah memberi ancaman kepada Bosnya, berharap tidak akan melakukan hal buruk terhadap adik iparnya sendiri.
"Sok tahu, kamu. Sudahlah Cik, lebih baik kamu pulang saja. Lama lama aku bisa setres jika kamu terus menerus menjadi seorang penasehat." Usir Gane yang merasa risih jika harus mendengar sebuah nasehat dari anak buahnya sendiri, pikir Gane.
"Baik, Bos." Jawab Ciko dengan singkat, kemudian ia segera bergegas untuk pulang.
Sedangkan di dalam kamar, Nanney tengah menangis sesenggukan. Tidak ada lagi teman selain asisten rumah yang bisa diajaknya untuk berkeluh kesah.
"Yang sabar ya, Nona. Tuan Gane memang seperti itu, tetapi hatinya sangat baik. Mungkin Tuan Gane masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Tuan Regar telah pergi untuk selama mamanya." Ucapnya mencoba untuk memenangkan hati Nanney yang tidak karuan.
"Tapi Mbak, aku takut dengan ancaman darinya, aku takut jika apa yang dikatakannya itu benar." Kata Nanney sambil menangis sesenggukan, mbak Lina segera memeluknya dan mengusap punggungnya.
"Percayalah sama saya, Nona. Semua akan baik baik saja, Nona harus bersabar." Ucap mbak Lina yang terus berusaha untuk membuat hati majikan nya menjadi tenang.
Nanney yang merasa sesak untuk bernapas, ia melepaskan pelukan dari mbak Lina.
"Mbak, apa sebaiknya aku kabur saja apa ya. Aku takut jika kak Gane akan membalaskan dendamnya padaku, aku sangat takut jika itu benar-benar terjadi."
"Jangan kabur, Nona. Kalau Nona kabur, masalah akan tambah besar. Tuan Gane akan tambah murka, dan akan memberi hukuman yang lebih berat lagi. Percayalah sama saya, Nona. Bertahanlah di rumah ini, ikuti saja apa yang Tuan Gane mau. Saya yakin jika Tuan Gane hanya memberi hukuman yang ringan untuk Nona. Lagian juga ada Tuan Ciko, dia orangnya juga sangat baik. Tuan Gane saja selalu nurut dengan Tuan Ciko, jadi Nona tidak perlu takut." Ucap mbak Lina berusaha untuk mencegahnya, serta meyakinkannya.
__ADS_1
Nanney yang dilema karena sebuah ancaman dari kakak iparnya, sebisa mungkin untuk meyakinkan hatinya.